UPAYA MENGEMBALIKAN EKOSISTEM MANGROVE

UPAYA MENGEMBALIKAN EKOSISTEM MANGROVE

UPAYA MENGEMBALIKAN EKOSISTEM MANGROVE
UPAYA MENGEMBALIKAN EKOSISTEM MANGROVE

Hutan Mangrove

Ekosistem mangrove merupakan kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa disuatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob.

Menurut Zamroni dan Immy (2008), dalam satu hektar hutan mangrove berdasarkan kerapatan vegetasi terdapat 480 pohon yang terdiri dari berbagai macam spesies mangrove dan vegetasi yang lainnya.

Luasan hutan mangrove yang ditemukan di wilayah pesisir pantai Teluk Pising utara Pulau Kabaena adalah 152,128 ha. Hutan mangrove yang ditemukan dilokasi tersebut relatif masih baik dan didominasi oleh Rhizophora apiculata (Tarigan, 2008) .

Belum ada hutan mangrove yang di lindungi pemerintah, seperti halnya disampaikan  Setyawan dan Kusumo (2006a) dari 20 lokasi hutan mangrove yang di survei ternyata tidak ada satupun yang sudah ditetapkan sebagai hutan lindung. Karena kawasan ekosistem mangrove tidak dilindungi pemerintah maka hutan mangrove sekarang sudah banyak terjadi kerusakan akibat aktivitas masyarakat sekitar pesisir pantai, seperti pertambangan udang, ikan dan garam, penebangan vegetasi mangrove, pencemaran lingkungan, reklamasi dan sedimentasi. Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama penyebab hilangnya hutan mangrove dunia (Setyawan dan Kusumo, 2006a),

Wetland mangrove di Sidoarjo memiliki tipe dataran pantai yang merupakan jalur sempit memanjang pantai yang didominasi jenis Rhizopora sp, Avicennia Sp dan Excoecaria Sp. Untuk area wetland seluas 7.762 m2 frekuensi kehadiran tertinggi kategori pohon, sapling dan seedling berada di dalam wetland berkisar 0.45 – 0.55 %. Species yang berada di dalam wetland adalah Avicennia Sp dengan Kerapatan 64 Ind/Ha dan Basal area 289.65 m2 (Kusumastuti, 2009).

Pada ekosistem alamiah, tegakan mangrove membentuk zonasi sesuai dengan habitatnya (lumpur berpasir), salinitas dan fluktuasi pasang surut air laut. Pada masing-masing zonasi dicirikan oleh tumbuh jenis tertentu, yang umumnya mulai dari pantai hingga kedaratan; daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering ditumbuhi Avecennia sp, lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera sp. dan Xylocarpus spp. zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera sp.zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya (Waryono, 2002 dan Rochana, 2001 ).

Mangrove Sumatera Selatan yang luas kawasannya 558 ribu ha dan non kawasannya 495 ribu ha, dengan kondisi ± 75 % dalam keadaan rusak berat hingga rusak ringan (Anwar, 2004), dan realisasi penanaman mangrove selama lima tahun (1999-2003) hanya mencapai 200 ha.

Terjadi degradasi lingkungan antar lain dalam bentuk abrasi dan akresi yang mengakibatkan perubahan garis pantai yang di Desa Tanggultlare, Desa Bulakbaru, dan Desa Panggung. Pengaruh faktor manusia sangat berperan dalam hal ini karena kegiatan perusakan ekosistem mangrove guna perluasan tambak (Pariyono, 2006).

 

Manfaat Ekosistem Mangrove

            Hutan merupakan paru-paru dunia, begitupun dengan hutan mangrove, bayangkan jika hutan sudah tidak ada lagi, maka dunia akan kehilangan paru-paru dan tidak bisa bernafas lagi.

Manfaat ekosistem mangrove di kawasan Tawiri terdiri atas manfaat langsung berupa hasil hutan (kayu bakar), manfaat satwa (“soa-soa” atau biawak, “kusu”), dan penangkapan ikan (kepiting, kerang dan ikan); manfaat tak langsung berupa breakwater dan tempat penyedia pakan; manfaat pilihan berupa nilai keragaman hayati; dan manfaat eksistensi yaitu nilai yang diberikan oleh masyarakat di lokasi penelitian (Hiariey, 2009).

Manfaat ekosistem hutan mangrove secara ekologis: (1)pelindung garis pantai dari abrasi, (2)mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan, (3)mencegah intrusi air laut ke daratan, (4)tempat berpijah aneka biota laut, (5)tempat berlindung dan berkembangbiak berbagai jenis burung, mamalia, reptil, dan serangga, (6)sebagai pengatur iklim mikro (Rochana, 2001 dan Waryono, 2002).

Manfaat ekosistem hutan mangrove secara ekonomis: (1)penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan makanan, obat-obatan), (2)penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak kulit, pewarna), (3)penghasil bibit ikan, nener udang, kepiting, kerang, madu, dan telur burung, (4)pariwisata, penelitian, dan pendidikan (Rochana, 2001 dan Waryono, 2002).

Selain itu komunitas mangrove juga berfungsi: (1)Sebagai sumber unsur hara bagi kehidupan hayati (biota perairan) laut, (2)serta sebagai sumber pakan bagi kehidupan biota darat seperti burung, mamalia dan jenis reptil, (3)Sedangkan jasa mangrove lainnya juga mampu menghasilkan jumlah oksigen lebih besar dibanding dengan tetumbuhan darat (Rochana, 2001 dan Waryono, 2002).

Menurut Setyawan dan Kusumo (2006b) mengatakan bahwa pemanfaatan langsung dalam ekosistem mangrove di Jawa Tengah mencakup perikanan, kayu, bahan pangan, pakan ternak, bahan obat, bahan baku industri, serta pariwisata dan pendidikan. Adapun penggunaan lahan di sekitar ekosistem mangrove, mencakup perikanan/tambak, pertanian, serta kawasan pengembangan dan bangunan.

Berbagai jenis ikan, baik yang bersifat herbivora, omnivora, maupun karnivora hidup mencari makan di sekitar mangrove terutama pada waktu air pasang. Di mangrove Tongke-Tongke, Sulawesi Selatan, diidentifikasi terdapat 27 spesies ikan dan 4 spesies udang bernilai ekonomis yang mencari makan di sekitar mangrove Tongke-Tongke pada waktu air pasang. Selain itu, sedikitnya 8 spesies gastropoda dan 8 spesies bivalvia menetap di mangrove tersebut (Gunarto, 2004).

Gunarto (2004), menyampaikan bahwa mangrove dapat berfungsi sebagai biofilter serta agen pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda, ikan, kepiting pemakan detritus dan bivalvia juga ikan pemakan plankton sehingga mangrove berfungsi sebagai biofilter alami.

 

Kerusakan Mangrove

Ada tiga faktor utama penyebab kerusakan mangrove, yaitu: (1)Pencemaran, (2)Konversi hutan mangrove yang kurang memperhatikan faktor lingkungan (Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama penyebab hilangnya hutan mangrove di dunia), (3)Penebangan yang berlebihan (Anwar, 2004).

Setyawan dan Kusumo (2006a), juga mengatakan bahwa penyumbang terbesar kerusakan ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten Rembang, antara lain: pertambakan, penebangan pepohonan, reklamasi dan sedimentasi, serta pencemaran lingkungan. Restorasi mangrove di pesisir Pasar Bangi, Rembang dengan penanaman Rhizophora cukup berhasil, salah satu penyebabnya adalah keikutsertaan masyarakat dalam manajemen pengelolaannya.

Kegiatan antropogenik telah menurunkan peran ekologi, ekonomi dan sosial budaya ekosistem mangrove, oleh karena itu banyak dilakukan upaya restorasi. Upaya restorasi yang cukup berhasil terjadi di Pasar Banggi, keberhasilan ini tampaknya karena pengikutsertaan masyarakat dalam manajemennya. Kegiatan restorasi yang gagal terjadi di Cakrayasan dan Lukulo; penyebab utama kegagalan ini tampaknya adalah kesalahan pemilihan bibit dan tiadanya pemeliharaan yang cukup berarti (Setyawan dan Kusumo, 2006b).

 

Restorasi Mangrove

Menurut Waryono (2002), konsepsi dasar pemulihan (Restorasi) kawasan mangrove dalam bidang konservasi dapat dilakukan melalui: (1)penanganan dan pengendalian lingkungan fisik dari berbagai bentuk faktor penyebabnya, (2)pemulihan secara ekologis baik terhadap habitat maupun kehidupannya, (3)mengharmoniskan perilaku lingkungan sosial untuk tujuan mengenal, mengetahui, mengerti, memahami hingga pada akhirnya merasa peduli dan ikut bertanggung jawab untuk mempertahankan, melestarikannya, serta (4)meningkatkan akutabilitas kinerja institusi yang bertanggung jawab dan atau pihak-pihak terkait lainnya.

Dari sekitar 60 spesies pohon dan semak mangrove mayor dan minor, serta sekitar 20 spesies tumbuhan asosiasi, hanya 12 spesies yang biasa digunakan untuk restorasi, yaitu Rhizophora, Avicennia, Sonneratia,Bruguiera, Heritiera, Lumnitzera, Ceriops, Excoecaria, Xylocarpus, Nypa, Cassurina, dan Hibiscus. Penentuan spesies yang dipilih tergantung pada tekstur tanah, kadar garam, dan lama penggenangan, serta iklim mikro lainnya (Choudhury, 1996; 2000 dalam Setyawan et al.,2004).

 

Adapun langkah-langkah kongkrit

Yang dilakukan untuk pengendalian lingkungan fisik, antara lain dengan  melakukan kegiatan: (1)pembinaan dan peningkatan kualitas habitat, dan (2)peningkatan pemulihan kualitas kawasan hijau melalui kegiatan reboisasi, penghijauan, dan atau perkayaan jenis tetumbuhan yang sesuai, (3)Terhadap pemulihan habitat, dilakukan terhadap kawasan-kawasan terdegradasi atau terganggu fungsi ekosistemnya, untuk mengembalian peranan fungsi jasa bio-ekohidrologisnya dan dilakukan dengan cara: (a) rehabilitasi, dan atau (b) reklamasi habitat, (4)sedangkan peningkatan kualitas kawasan mangrove dilakukan dengan pengembangan jenis-jenis tetumbuhan yang erat keterkaitannya dengan sumber pakan, tempat bersarang atau sebagai bagian dari habitat dan lingkungan hidupnya, (5)Hutan mangrove dapat memulihkan diri sendiri tanpa upaya restorasi melalui suksesi sekunder pada periode 15-30 tahun, apabila siklus hidrologi normal dan tersedia biji atau propagul dari ekosistem mangrove di sekitarnya, (6)Kegagalan melihat penyebab degradasi merupakan penyebab utama kegagalan restorasi mangrove (Waryono, 2002).

 

Keberhasilan Restorasi

Ada beberapa hasil penelitian yang berhasil mengatasi pencemaran yang dapat merusak ekosistem mangrove. Seperti yang disampaikan Kusumastuti (2009) dan Mulyadi et al., (2009) bahwa lahan basah, Rhizopora sp, dan Avicennia marina mampu mengatasi pencemaran logam berat seperti pengendapan polutan timbal (Pb) dan tembaga (Cu).

Kinerja lahan basah dalam mengatasi pencemaran dilakukan melalui tiga cara yaitu: (a)penyerapan zat-zat polutan ke dalam akar,batang dan daun mangrove, (b)pengendapan sediment yang dibantu oleh perakaran mangrove yang rapat, (c)peran mangrove secara tidak langsung sebagai tempat hidup mikroorganisme pengurai limbah (Kusumastuti, 2009).

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/contoh-teks-editorial-jenis-dan-isi-serta-unsur-kebahasaan/