tokoh tokoh mu’tazilah

POKOK AJARAN ALIRAN MU’TAZILAH

Adapun pokok ajaran aliran Mu’tazilah dikenal dengan al-Ushul al-Khamsah berarti lima ajaran dasar Mu’tazilah. Menurut Muhammad Abed al-Jabiiri seorang filosof kelahiran Maroko, sebagaimana dikutip dari Adeng Muchtar Gazali menanggapi doktrin Mu’tazilah yang menggambarkan bukan hanya sebagai doktrin dari aliran teologi saja, namun juga mengandung secara implist muatan-muatan sosial politik.[4] Doktrin itu pada awalnya merupakan ungkapan teologis dari sebuah gerakan oposisi terhadap kekuasaan Umayyah yang korup. Lima ajaran dasar yaitu:

a) Al-Tauhid (Pengesaan Allah)

Tauhid dalam pandangan Mu’tazilah berarti meng-Esakan Allah dari segala sifat dan af’alnya yang menjadi pegangan bagi akidah Islam. Dalam mempertahankan paham keesaan Allah SWT, mereka meniadakan segala sifat Allah, yaitu bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat yang berdiri di luar Dzat-Nya Kaum Muktazilah enggan mengakui adanya sifat Tuhan dalam pengertian sesuatu yang melekat pada Dzat Tuhan. Jika Tuhan dikatakan Maha Mengetahui maka itu bukan sifat-Nya tapi Dzat-Nya. Muktazilah juga meyakini bahwa Al Qur’an adalah mahluk.
b) Al-Adl (Keadilan Tuhan)
Paham keadilan yang dikehendaki Muktazilah adalah bahwa Allah SWT tidak menghendaki keburukan, tidak menciptakan perbuatan manusia dan manusia dapat mengerjakan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya dengan qudrah (kekuasaan) yang ditetapkan Allah SWT pada diri manusia itu. Allah tidak memerintahkan sesuatu kecuali menurut apa yang dikehendakiNya. Ia hanya menguasai kebaikan-kebaikan yang diperintahkanNya dan tidak tahu menahu (bebas) dari keburukan-keburukan yang dilarangNya.
c) Al Wa’d wa al wa’id (janji dan ancaman)
Al Wa’du WalWa’id (janji dan ancaman), bahwa wajib bagi Allah SWT untuk memenuhi janji-Nya (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam surga, dan melaksanakan ancaman-Nya (alwa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam neraka, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah SWTuntuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan Wa’idiyyah
d) Al Manzilah bain al Manzilatain (posisi diantara tempat)
e) Adalah suatu tempat antara surga dan neraka sebagai konsekwensi dari pemahaman yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah fasiq, tidak dikatakan beriman dan tidak pula dikatakan kafir, dia tidak berhak dihukumkan mukmin dan tidak pula dihukumkan Kafir.
f) Amar ma’ruf nahi mungkar
Dalam pandangan Muktazilah, dalam keadaan normal pelaksanaan al amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar itu cukup dengan seruan saja, tetapi dalam keadaan tertentu perlu kekerasan.


Sumber: https://belantaraindonesia.org/