Sumber Kedua Hukum Islam

Sumber Kedua Hukum Islam

Sumber Kedua Hukum Islam

Sumber Kedua Hukum Islam
Sumber Kedua Hukum Islam

 

As-Sunnah

Sumber Hukum Islam yang kedua adalah al-Sunnah. Yang dimaksud al-Sunnah adalah:
“Yakni segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi S AW, baik berupa perbuatan, ucapan serta pengakuan Nabi Muhammad SAW. (Al-Manhal al-Lathif fi Ushul al-Hadits al-Syarif, 51)

Karena itu sunnah terbagi menjadi tiga. Pertama, semua ucapan Nabi SAW yang menerangkan tentang suatu hukum, seperti perintah Nabi SAW untuk berpuasa Ramadhan apabila telah melihat bulan (ru’yah). Hal ini disebut dengan Sunnah Qawliyyah. Kedua, Sunnah Filiyyah yakni segala sesuatu yang diperbuat Nabi Muhammad SAW, seperti tata cara shalat yang beliau kerjakan. Ketiga, Sunnah Taqririyyah yakni pengakuan Nabi SAW atas apa yang diperbuat oleh para sahabat. Contohnya adalah pengakuan Nabi Muhammad SAW pada seorang sahabat yang bertayammum karena tidak ada air. (Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, hal, 105)

Kitab-kitab yang mencatat al-Sunnah itu banyak sekali. Namun tidak semua dapat dijadikan pedoman dan standar untuk mengetahui Hadits Nabi SAW. Karena tidak jarang, ada sebagian kitab yang memuat Hadits-hadits yang kurang memenuhi standar transmisi (proses penyampaian) Hadits. Karena itu, ulama membuat tingkatan kitab Hadits sesuai dengan kualitas Hadits yang terdapat di dalamnya.

Para ulama membagi kitab-kitab Hadits pada tiga tingkatan besar.

Tingkatan Pertama

Tingkatan pertama adalah kitab-kitab yang di dalamnya hanya memuat Hadits Mutawatir, Hadits Shahih yang ahad (tidak sampai tingkatan mutawatir, karena diriwayatkan oleh sedikit orang), serta Hadits Hasan. Misalnya Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab al-Muwaththa karangan Imam Malik.

Tingkatan Kedua

Tingkatan kedua adalah kitab-kitab yang berisi Hadits-hadits yang tidak sampai kepada tingkatan pertama, yaitu kitab- kitab yang ditulis oleh orang-orang yang diyakini tidak mudah memasukkan sembarang Hadits dalam kitab-kitab mereka, namun masih ada kemungkinan Hadist yang mereka tulis masuk pada kategori Dha’if. Misalnya adalah Jami al-Tirmidzi, Sunan AbiDawud, Musnad Ahmad bin Hanbal dan Mujtabd al-Nasai.

Tingkatan Ketiga

Tingkatan ketiga, adalah kitab-kitab yang banyak memuat Hadits Dha’if, namun kebanyakan para perawinya tidak diketahui keadaannya, apakah tergolong fasiq atau tidak. Contoh untuk golongan ketiga ini adalah Mushannaf lbn Abi Syaibah, Musnad al-Thayalisi, Musnad’Abd bin Humaid, Sunan al-Baihaqi, al-Thabarani, al-Thahawi dan Mushannaf ‘Abdurrazaq.

Dan yang terakhir, tingkatan keempat adalah kitab-kitab yang banyak mengandung Hadits Dhaif’, seperti Kitab Hadits karya Ibn Mardawaih, Ibn Syahin, Abu al-Syaikh dan lain-lain. Jenis keempat ini tidak dapat dijadikan pedoman, karena keb any akan sumber mereka adalah orang-orang yang kurang dapat dipercaya, karena selalu mengedepankan hawa nafsunya. (‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuh, 116-117)

Banyak usaha dari orang-orang tertentu untuk melemahkan keimanan umat Islam pada sunnah Nabi SAW. Tetapi usaha tersebut tidak menampakkan hasil dan menuai kegagalan. Para ulama zaman dahulu sudah memberikan pagar-pagar beton yang kokoh dan tak mungkin bisa dijebol oleh siapapun juga. Al-Sunnah telah dilengkapi dengan berbagai perangkat ilmu seperti Musthalah al-Hadits,’Ulum al-Rijal, al-Jarh wa al-Ta’dil, ‘Ulum Naqd al-Matn dan sebagainya. Ini merupakan salah satu kelebihan Hadits Nabi SAW yang tidak dimiliki oleh ilmu-ilmu yang lain.

Ketika Goldziher ( seorang orientalis orang barat yang mempelajari budaya ketimuran, termasuk budaya Islam) yang selalu menyebarkan virus untuk menghancurkan iman umat Islam. Dalam bukunya itu, Goldziher mengajak umat Islam untuk meragukan validitas (kebenaran) dan keotentikan (keaslian) hadits Nabi SAW. la mengatakan bahwa hadits Nabi SAW tidak dapat diyakini kebenarannya karena generasi yang hidup pada abad ke dua Hijrah sangat tergantung pada tulisan, maka sangat sulit bagi mereka untuk dapat menghafalkan hadits. Selain itu, al-Sunnah telah cacat karena diriwayatkan oleh orang- orang yang berhati bejat, yang meriwayatkan hadits “sesuai pesanan” dan hanya mengikuti hawa nafsu semata. Lihat. DR. Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hacfits Wa Mushthalahuh, hal, 4) dalam bukunya yang berbahasa Jerman Muhammedanische Studien mencoba mengacak teori Ilmu Hadits yang sudah baku, maka kemudian hadirlah DR. Muhammad Mushthafa al-Avzhami, dengan sebuah disertasinya untuk membela kebenaran Hadits secara ilmiyah, yang berjudul Dirasah fi al-Hadits al-Nabawi Wa Tarikh Tadiwinihi, yang dipertahankan di hadapan para pakar ilmu ke-Islaman orientalis di Universitas Cambridge pada tahun 1966, di antaranya Prof. A.J. Arberry. Dengan demikian runtuhlah upaya Goldziher dan para koleganya tersebut.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/