Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat
Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Ijma’

Sumber Hukum Islam yang ketiga adalah Ijma’,yakni:
“Yang dimaksud dengan Ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid di suatu zaman tentang satu permasalahan hukum yang terjadi ketika itu.” (Al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh, 44)

Dalil Ijma’

Sedangkan dalil Ijma’ adalah firman Allah SWT QS al- Nisa’ 115, sabagaimana disebutkan dalam kitab Tanqih al-Fushul Fi al-Ushul hal 82:
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam fahannam, dan Jahannam itu seburuk- buruk tempat kembali.” (al-Nisa’ 115)

Kesepakatan itu adakalanya terjadi pada saat semua mujtahid mengemukakan pendapatnya, dan ternyata pendapat mereka itu semuanya sama. Inilah yang disebut dengan Ijma Sharih. Dan adakalanya kesepakatan itu terjadi karena ada sebagian mujtahid yang mengemukakan pendapatnya sedangkan yang lain diam (tidak memberikan komentar), sehingga mereka dianggap setuju dengan pendapat yang dikemukakan mujtahid tersebut. Ijma’ seperti ini disebut dengan Ijma Sukuti. (Tim Ushul al-Fiqh, hal 23).

Contoh Ijma’

Contoh ijma’ adalah kesepakatan para sahabat tentang adzan dua kali pada hari jum’at, shalat tarawih secara berjama’ah sebulan penuh dan semacamnya.

Qiyas

Sumber Hukum Islam yang ke-empat adalah Qiyas, yakni sebagaimana dikemukakan oleh Ibn al-Hajib: “Qiyas adalah menyamakan hukum cabang (fan) kepada ashl. Cabang adalah persoalan hukum yang tidak ada ketentuan langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits, baik yang melarang atau membolehkannya. Sedangkan ashl adalah persoalan yang ada keterangan langsung dari syara’. Misalnya menyamakan keharaman ekstasi.sabu-sabu, putaw dan sejenisnya kepada keharaman khamar. Ekstasi dan sejenisnya itu disebut dengan cabang (fan) karena tidak ada nash yang menjelaskan secara langsung keharaman benda-benda tersebut. Sedangkan khamar merupakan ashl karena keharamannya dipetik langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits) karena ada (kesamaan) illat (sebab) hukumnya.” (Ushul al-Fiqh Khudhari Bik, 289)

Dalam kitab Tanqih al-Fushul fial-Ushul, hal 89, dijelaskan bahwa dalil qiyas adalah Allah SWT QS. al-Hasyr, 2:
“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang- orang yang mempunyai pandangan.” (QS. al-Hasyr, 2)

Contoh Qiyas

Contoh qiyas adalah perintah untuk meninggalkan segala jenis pekerjaan pada saat adzan jum’at dikumandangkan. Hal ini disamakan dengan perintah untuk meninggalkan jual-beli pada saat-saat tersebut, yang secara langsung dinyatakan dalam al-Qur’an, yakni firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu dipanggil untuk mengerjakan shalat pada harijum’at, maka bergegaslah kamu untuk dzikir kepada Allah (mengerjakan shalat jum’at) dan tingggalkanlah jual-beli.” (QS. al-Jumu’ah, 9)

Inilah empat dalil atau sumber sumber hukum yang dijadikan sumber hukum Islam. Karena itu seorang muslim tidak diperkenankan menghukumi sesuatu perkara tanpa berlandaskan salah satu dalil tersebut. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Syafi’i RA dalam al-Risalah:

“Seseorang tidak boleh mengatakan ini halal atau ini haram, kecuali ia telah mengetahui dalilnya. Sedangkan mengetahui dalil itu didapat dari al-Quran, al-Hadits, Ijma’ atau Qiyas.” (al-Risalah, 36)

Keempat dalil ini harus digunakan secara hirarkis (berurutan), artinya ketika memutuskan suatu persoalan hukum, maka yang pertama kali harus dilihat adalah al-Qur’an. Apabila tidak ditemukan dalam al-Qur’an, maka meneliti Hadits Nabi SAW. Jika tidak ada, maka melihat Ijma’. Dan yang terakhir adalah dengan menggunakan Qiyas.

Hirarki (urutan) ini sesuai dengan orisinalitas serta tingkatan kekuatan dalilnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Amidi dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam: “Yang asal dari dalil Syar’i adalah al-Qur’an sebab ia datang langsung dari Allah SWT sebagai musyarri’ (pembuat hukum). Sedangkan (urutan kedua) Sunnah, sebab ia berfungsi sebagai penjelas dari firman dan hukum Allah SWT dalam al-Qur’an. Dan (sesudah itu adalah) Ijma, karena Ijma selalu berpijak pada dalil al-Qur’an dan al-Sunnah. (Yang terakhir adalah) Qiyas, sebab proses Qiyas selalu berpedoman pada Nash (al-Qur’dn dan al-Sunnah) dan Ijma’. Sehingga Nash dan ijma’ merupakan asal, sedangkan Qiyas dan Istidlal (penggunaan dalil) merupakan cabang (bagian) yang selalu ikut pada yang asal.” (Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, juz I, hal 208)

Di samping itu, sebenarnya masih ada enam dalil lain yang dipergunakan oleh Imam Mujtahid. Yakni Mashlahah Mursalah (maslahah yang tidak bertentangan dengan dalil syar’i), Istihsan (menganggap baik suatu perkara), Madzhab Shahabi (pendapat para sahabat), al-‘Urf (kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syari’at), Istishhab (menetapkan hukum yang sedang terjadi saat itu sesuai dengan hukum yang sudah pernah berlaku sebelumnya) serta Syar’u Man Qablana (syari’at kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad SAW).

Namun dalil-dalil tersebut masih diperselisihkan oleh para ulama. Di antara mereka ada yang menggunakan dalil yang tidak diakui oleh yang lainnya. Imam Abu Hanifah misalnya, mengakui istihsan sebagai dalil hukum, sementara Imam Syafi’i menolak menggunakannya seraya berkata, “Barang siapa yang melakukan istihsan, berarti ia telah membuat-buat syariat baru”.

Beberapa penjelasan di atas menunjukkan bahwa yang dapat dibuat dalil dalam syari’at Islam adalah al-Qur’an, al- Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Ditambah lagi dengan beberapa dalil lain yang masih diperselisihkan para ulama. Jadi, dalil itu tidak hanya terbatas pada al-Qur’an dan Hadits saja, seperti yang sering dipahami selama ini. Tentang definisi serta cara penggunaan masing-masing dalil ini, silahkan merujuk kepada kitab-kitab Ushul al-Fiqh, misalnya Ilmu Ushul al-Fiqh karangan ‘Abdul Wahab Khallaf, Ushul al-Fiqh, karya Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh karangan Khudhari Bik dan lain sebagainya.

Demikian uraian tentang sumber hukum Islam yang di ambil dari buku Fiqh Tradisionalis karangan KH. Muhyiddin Abdusshomad. Semoga bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: