Sejarah Pahlawan Pattimura dan Perlawanan serta Penyerbuan Benteng Duurstede

Sejarah Pahlawan Pattimura dan Perlawanan serta Penyerbuan Benteng Duurstede

Sejarah Pahlawan Pattimura dan Perlawanan serta Penyerbuan Benteng Duurstede
Sejarah Pahlawan Pattimura dan Perlawanan serta Penyerbuan Benteng Duurstede

Cerita Perang Pattimura: Penyerbuan Benteng Duurstede

Pagi subuh, 16 Mei 1817, matahari mulai memancarkan cahaya di ufuk timur Indonesia. Saat itu, terdengar suara tifa dan tahuri dibunyikan dari kejauhan untuk memanggil pasukan pattimura. Mereka mulai berdatangan dan mengepung benteng Duurstede yang berisikan Residen Van Den Berg, pasukan Belanda, serta penghuni lainnya. Di depan benteng, berdiri dengan gagah Thomas Matulessy yang dijuluki Kapitan Pattimura.

Lelaki berusia tiga puluh empat tahun, berbadan tinggi dan tegap, warna kulit dan rambutnya hitam, parasnya menggambarkan dia adalah orang Maluku. Pasukan rakyat menyambutnya dengan sorak sorai, teriak-teriakan yang menggetarkan udara.

Teriakan pada pagi itu mulai menyadarkan dan mengejutkan penghuni benteng. Menyadari banyaknya pasukan rakyat yang berdatangan, Residen serta penghuninya menjadi panik dan tidak berani keluar dari benteng. Kondisi di dalam benteng pun tiba-tiba menjadi suram karena situasi diluar benteng yang semakin memanas dengan adanya keberadaaan pasukan Pattimura.

Persiapan dilakukan sejak pagi itu oleh pasukan Pattimura

suara-suara panggilan oleh pemimpin persiapan untuk bersiap telah mengudara. Nyanyian-nyanyian tentang negeri telah di dendangkan untuk menyemangati, parang-parang dan tombak juga salawaku dikumpulkan dan diasah, tidak terasa telah siang hari. Setelah selesai dengan persiapan, Pattimura mengajak pasukannya untuk berdoa. Ia dan pasukannya berdoa memohon pertolongan Tuhan, atas perjuangan yang akan mereka lakukan.

Hari semakin siang dan keadaan semakin tegang, panas dan genting

Pasukan Pattimura mulai mendekati benteng Duurstede untuk melakukan penyerangan. Residen Van Den Berg yang mungkin oleh karena bingung, tidak ingat lagi untuk meletuskan meriam-meriam yang ada di benteng itu, dan mulai putus asa. Ia mulai sadar, bahwa perlawanan terhadap pasukan yang dibantu oleh rakyat adalah sia-sia. Karena itu ia bersama-sama dengan prajurit

Belanda mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah

Tetapi Pattimura telah mengetahui taktik licik Belanda, sebab sehari sebelumnya Belanda sudah mengirimkan berita ke Ambon tentang peristiwa yang terjadi dan meminta bantuan. Rakyat juga sudah kenyang dengan tipu muslihat penjajah dan tidak menghiraukan bendera putih tersebut. Karena merasa bendera putih ini tidak dihiraukan, Residen Van Den Bergh kembali menurunkan bendera tersebut.

Jam tiga siang pasukan pattimura sudah mengepung benteng, sebagian menggunakan bedil, dan sebagian menggunakan parang (pedang) juga salawaku (tameng) dan menunggu perintah menyerang. Komando pun diberikan “serang! serbu!” Bedil dicetuskan, cakalele (tarian perang maluku) disertai teriakan-teriakan yang mendirikan bulu roma membelah angkasa.

Pasukan Belanda menyambut dengan tembakan yang gencar. Meriam-meriam memuntahkan peluru yang menyebarkan maut dikalangan penyerbu sampai beberapa serangan pasukan Pattimura dipukul balik. Tapi akhirnya kemenangan datang ditangan pasukan Pattimura.

Pasukan Pattimura menemukan keberadaan Van Den Bergh yang telah tertembak kakinya dan menyeret ke salah satu tiang dan Pattimura memerintahkan pasukan untuk menembak mengakhiri kelalimannya. Setelah itu Pasukan Pattimura bersorak sorai karena merasa bebas dari penjajahan.

Peperangan telah usai, pasukan Pattimura telah menang, namun meninggalkan banyak bekas bekas pada dinding Duurstede

Mayatmayat dari kedua belah pihak menumpuk di sekitar benteng membawa suasana kegembiraan yang diliputi kesedihan. Salah seorang anak Van Den Berg yang bernama Jean Lubert Van Den Berg ditemukan belum meninggal oleh Pieter Matheus Souhoka, dia dibawa menghadap Pattimura untuk mendengar keputusan mengenai nasib anak itu.

Setelah anak itu dihadapkan, berkumpulah para Kapitan (Pemimpin Perang) dan para penasehat untuk menentukan nasib anak itu. Pasukan mendesak agar dia dibunuh saja, tetapi Salomon Pattiwael, seorang tua anggota keluarga Patih Tiow, maju kedepan dan memohon agar anak itu jangan dibunuh, tetapi diserahkan kepadanya untuk dirawat dan dipelihara.

Pattimura berpaling kepada para hadirin dan melihat anak itu dengan terharu. Pattimura memutuskan dan berkata” ini suatu tanda bahwa Tuhan tidak menghendaki anak ini dibunuh.” Salomon Patiwael ditugaskan oleh Pattimura untuk memelihara anak itu. Suatu episode yang berdarah telah berlalu, kemenangan telah didapatkan dengan pengorbanan baik lawan maupun kawan.

Baca juga artikel: