Ragam Puisi II Dilihat dari Bentuk dan Isinya Serta Contohnya

Ragam Puisi II Dilihat dari Bentuk dan Isinya Serta Contohnya

Ragam Puisi II Dilihat dari Bentuk dan Isinya Serta Contohnya
Ragam Puisi II Dilihat dari Bentuk dan Isinya Serta Contohnya

Puisi Didaktik

Puisi ini merupakan puisi yang sarat dengan nilai-nilai yang dapat diambil oleh pembaca, atau penyair yang inigin menyampaikan nilai-nilai edukatif yang penting untuk dipahami pembaca. Puisi seperti ini, sangat menarik jika dipergunakan untuk menanamkan berbagai nilai, sehingga puisi demikian memang mengabdi kepada masyarakat. Puisi Taufik Ismail berikut menggambarkan jenis puisi ini. Artinya, puisi ini mengilustrasikan betapa rendahnya kualitas mengarang anak-anak Indonesia, yang tidak kreatif.
Contohnya:
Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang
“Murid-murid, pada hari senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian
Halaman enampuluh sembilan”
“Ini ada kalimat menarik hati, berbunyi
mengeritik itu boleh, asal membangun
Nah anak-anak renungkanlah, makna ungkapan itu
Kemudian buat kalimat baru dengan kata-katamu sendiri”
Demikianlah kelas itu sepuluh menit dimasuki sunyi
Murid-murid itu termenung sendiri-sendiri
Ada yang memutar-mutar pensil dan bolpoin
Ada yang melekat ibu jari di dahi
Ada yang salah tingkah, duduk gelisah
Memikirkan sejumlah kata yang bisa serasi
Menjawab pertanyaan Pak Guru itu.
“Ayo siapa yang sudah siap?”
Maka tak seorangpun yang mengacungkan tangan
Kalau tidak menunduk sembunyi dari incaran guru
Murid-murid itu saling berpandangan saja
Akhirnya ada seorang disuruh mau ke depan
Dan diapun memberi jawaban
“mengeritik itu boleh, asal membangun
Membangun itu boleh, asal mengeritik
Mengeritik itu tidak boleh, asal tidak membangun
Membangun itu tidak asal, mengeritik itu boleh tidak
Membangun mengeritik itu boleh asal
Mengeritik membangun itu asal boleh
Mengeritik itu membangun
Membangun itu mengeritik
Asal boleh mengeritik, boleh itu asal
Asal boleh membangun, asal itu boleh
Asal boleh itu mengeritik boleh asal
Itu boleh asal
Asal itu boleh boleh-boleh
Asal asal
Itu itu
Itu”
“nah anak-anak, itulah karya temanmu
Sudah kalian dengar ‘kan
Apa komentar kamu tentang karyanya tadi?”
Kelas itu tiga menit dimasuki sunyi
Tak seorangpun mengangkat tangan
Kalau tidak menunjuk di muka guru
Murid-murid itu cuma berpandang-pandangan
Tapi tiba-tiba mereka bersama menyanyi:
“Dang ding dung dang ding dung dang ding dung
Dang ding dung dang ding dung dang dung dung
Leh boleh boleh boleh boleh
Boleh boleh asal boleh 
Nak-anak, bapak bilang tadi
Mengarang itu harus dengan kata-kata sendiri
Tapi tadi tidak ada kosa kata lain sama sekali
Kalian cuma mengulang bolak-balik yang itu-itu juga
Itu kelemahan kalian yang pertama
Dan kelemahan kalian yang kedua
Kalian anemi referensi dan melarat baha perbandingan
Itu karena malas baca buku apalagi karya sastra
“wahai pak Guru, jangan kai disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami ‘kan diajari menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama,
dan rabun puisi
Tapi mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi.
Dari kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Yayasan Indonesia, 2003:172-174

Puisi Lirik

Puisi ini berisi tentang luapan batin penyair secara individual yang merupakan pengungkapan atas pengalaman batinnya. Puisi-puisi ini banyak kita jumpai baik di masa puisi lama, baru maupun puisi-puisi mutakhir. Puisi ini mencakup puisi elegi: himne, ode, epigram, humor, pastoral, idyl, satire, dan parodi. Puisi-puisi lirik dalam perpuisian baru boleh dibilang memang kental diucapkan oleh para penyair mutakhir. Sejak kepolopiran Sapardi Djoko Damono dengan ikon puisi lirik, pengekornya ternyata muncul berbagai variasi yang kreatif dan inpresif

Dilintas Duka

Lalu muncul dilintasan duka, seorang perawan dengan
Pita jingga di jantungnya. Aku berayun mengikuti irama
Risau, menyelubung nyali dengan rindu-rindu yang
Berlipat, menyentuhi duri-duri yang mengepung usia,
Mengepung lorong-lorong disetiap pesta
Disetiap babak kemenangan, tak ada yang harus
Kutaklukkan selain waktu. Bukankah tak ada dongeng
Yang lebih dari cinta, bukankah tak ada tembang
Yang lebih merdu dari igauan dari rindu. Melulu
Kutantang segala yang menikam, melulu kugali segala
yang mencekam
Segala kecembu
ruan, memenjarakan kelamin ratusan
Musim. Sedang diselaras rasa takutku, telah menjamur
Angka-angka yang mengusir jam dan almanak. Tak ada 
lagi yang datng dengan perlahan, selain siput yang 
kuternak dihatiku, dimusim hujan, di mana puisi
berjalan sempoyongan.

2004 dikutip dari Horison
no.24/2006, Februari hal 16

Puisi Naratif (Balada)

Puisi ini merupakan puisi yang berisi tentang cerita dengan perilaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita. Puisi ini sering disebut juga puisi Balada. Puisi ini menurut Jakob Sumardjo (1991:26), adalah puisi cerita yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut: bahasa sederhana, langsung, dan kongkret, mengandung unsur ketegangan, ancaman, dan kejutan dalam materi cerita, mengandung kontras-kontras yang dramatik di dalamnya, terdapat pengulangan-pengulangan untuk penegasan, mengandung kadar emosi yang kuat, sedikit dialog di dalamnya, cerita bersifat objektif dan inpersonal, sedikit sekali mengandung ajaran moral (inilah sebabnya banyak balada tentang tokoh penjahat yang berani dan melegemdaris).

Balada Sumilah

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda
Tapi halusnya putih pergi kembara
Datang yang terkabar bau kamboja
Dari sepotong bumi keramat di bukit
Makan dari bau kemenyan
Sumilah!
Rintihnya tersebar selebar tujuh desa 
Dan diujung setiap rintih diserunya
-Samijo! Samijo!
Bulan akan berkerut wajahnya
dan angin takut nyuruki atap jerami
seluruh kandungan malam pada tahu
roh sumilah meratapi kungkung rindunya
pada Roh Sumijo kekasih dengan belati pada mata
Dan sepanjang malam terurai riwayat duka
begini mulanya:
Bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan
ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya
dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriam pertama
malam muntahkan serdadu belanda dari utara
Tumpah darah lelaki
o kuntum-kuntum delima ditebas belati
dan para pemuda beribukan hutan jati
tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi
Demi hati berumahkan tanah ibu
dan pancuran tempat bercinta
Samijo berperang dan mewarnai malam
dengan kuntum-kuntum darah
perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang
terkunci pintu jendela
gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada
ngeri mengepung hidup hari-hari
Segala perang adalah keturunan dendam
sumber air pancar yang merah
berbunga berwarna nafsu
dinginnya angin pucuk pelor, dinginnya mata baja
reruntuklah semua merunduk
bahasa dan kata adalah batu yang dungu
maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu
dan perawan-perawan menangis malamnya tak ternilai
karena musuh tahu benar arti darah
memberi minum dari sumber tumpah ruah
nyawanya kijang diburu terengah-engah
Waktu siang mentari menyadap peluh
dengan bongkok berjalan nenek suci Hasan Ali
di satu semak menggumpal daging perawan
maka diserunya bersama derasnya darah
-Siapa kamu?
-Daku Sumilah daku mendukung duka!
Belanda berbulu itu mengbongkar pintu
Dikejar daku putar-putar sumur tapi kukibas dia.
-Duhai diperkosanya dikau anak perawan!
-Belum lagi! Demi air darahku merah: belum lagi!
Takutku punya dorongan tak tersangka
tersungkur ia bersama nafsunya ke sumur.
Tubuhmu lilin tersimpan di keranda tapi halusnya putih pergi
kembara rintihnya tersebar selebar tujuh desa dan di ujung
setiap rintih diserunya:
-Samijo! Samijo!
Matamu tuan begitu dingin dan kejam
pisau baja yang menggorek noda dari dada
dari tapak tanganmu angin nafas neraka
mendera hatiku berguling lepas dari rongga
bulan jingga, telaga kepundan jingga
ranting-ranting pokok ara
terbencana darahku segala jingga
Hentikan, Samijo! Hentikan, ya tuan!bang-lubang
Dikutip dari menulis kreatif
Sutejo, 2008:13-17

Puisi Epik (Epos)

Puisi ini merupakan puisi yang didalamnnya bercerita tentang kepahlawanan, biasanya berkaitan dengan legenda, kepercayaan, maupun historis sebuah bangsa. Puisi ini masih dibedakan menjadi 2 yakni folk epic dan literary epic. Jenis pertama merupakan puisi yang bila nilai akhir puisi itu untuk dinyanyikan, sedangkan yang kedua, kebermaknaan nilai akhir puisi itu menarik untuk dibaca, diresapi, dan dipahami makna yang terkandung di dalamnya.

Puisi Fabel

Puisi yang berisi tentang cerita kehidupan binatang untuk menyindir atau memberi tamsil kepada manusia. Tujuan fabel adalah memberikan ajaran moral. Misalnya:
Sajak Seumur Hidup

Diantara padi dan tikus
Aku pilih jadi tikusnya
Di antara tikus dan ular 
Aku pilih jadi ularnya
Di antara ular dan elang
Aku pilih jadi elangnya
Di antara elang dan harimau

Aku pilih jadi harimaunya
Di antara harimau dan harimau mati
Aku pilih jadi harimau mati
Di antara harimau mati dan bakteri pembusuk
Aku pilih bakter pembusuk
Di antara harimau busuk dan tanah subur
Aku pilih tanah subur
Di antara tanah yang subur dan padi
Aku pilih jadi padinya

Baca juga: