Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama
Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Sumber Hukum Islam

Sumber Hukum Islam yang pertama adalah Al Qur’an. Yang dimaksud dengan al-Qur’an adalah:
“Lafadz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dengan satu surat saja, dan merupakan ibadah apabila membacanya”. (Al-Kawkab al-Sathi’ fi Nazhm Jam’ al- Jawami’, Juz I, hal 69)

Dengan demikian, al-Qur’an adalah firman Allah (kalamullah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menggunakan bahasa Arab, dengan membawa ajaran yang benar, supaya dapat dijadikan bukti (mu’jizat) oleh Nabi Muhammad SAW atas kerasulannya, dan agar bisa dijadikan pedoman bagi orang-orang yang meyakininya, serta dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT (ibadah) bagi yang membacanya. Ia adalah kitab yang telah terkodifikasikan (tersusun) dengan dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas dan sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir (disampaikan oleh orang banyak, sehingga tidak mungkin lagi diragukan kebenarannya) dari mulut ke mulut dan dari satu generasi ke generasi yang lainnya, dan selalu dijaga oleh Allah SWT dari segala bentuk perubahan. (Tim Ushul al-Fiqh ‘Abdul Wahhab Khalldf, hal 23).

Kitab Suci Al-Qur’an

Kitab suci al-Qur’an yang biasa disebut dengan Mushhaf Ustmani (disebut mushhaf utsmani karena usaha penyusunan penghimpunan al-Qur’an baru dapat dirampungkan pada masa khalifah ‘Utsman bin ‘Affan) itu terjaga dari berbagai upaya tangan-tangan kotor yang ingin mengubah untuk menyisipkan walau hanya satu huruf. Secara keseluruhan al-Qur’an terdiri dari 6.666 ayat (pendapat yang masyhur), 114 surat dan terbagi dalam 30 juz. Hal tersebut telah diuji dengan menggunakan metode ilmiah oleh para ahli filologi (ahli tentang manuskrip) dunia.

Keterangan

DR. Muhammad Mushthafa al-A’zhami mengutip ketenrangan dari Prof. Hamidullah: Universitas Munich (Jerman) telah mendirikan dalam abad yang lalu sebuah lembaga Penelitian al-Qur’an. Sesudah beberapa generasi, tatkala direkturnya yang sekarang, Prof. Pretzell datang ke Paris pada tahun 1933, beliau menceritakan pada saya bahwa mereka telah mengumpulkan empat puluh dua (42) ribu salinan al- Qur’an dari salinan yang berbeda, sebagian lengkap, sebagian lainnya berupa fragmen-fragmen, sebagian asli, kebanyakan foto-foto yang asli dari segala penjuru dunia. Pekerjaan secara terus menerus membandingkan setiap kata dari setiap salinan al-Qur’an itu untuk mengetahui apakah ada variasinya (perbedaannya). Tak lama sebelum Perang Dunia Kedua, sebuah laporan awal dan percobaan diterbitkan, sehingga tentu saja menyalin kekeliruan dalam naskah al-Qur’an, tetapi ternyata tidak terdapat variasinya (tidak ada yang berbeda). Selama perang berlangsung, lembaga ini kena bom dan semuanya binasa, direktur, personalia, dan perpustakaan. (Mu’jizat al-Qur’an, 57)

Ini merupakan bukti bahwa al-Qur’an benar-benar otentik, sehingga semakin mantap iman kita bahwa al-Qur’an adalah kitab suci sebagai pedoman hidup manusia beriman.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/