Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

 

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah
Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

Aliran Murji’ah mendasarkan kepada pemikiran yang bersifat netral, yang intinya tidak mau terlibat di dalam perperihalan dan permusuhan itu. Murji’ah berasal dari kata Arja’a berarti sesuatu yang berada dibelakang. Arja’a juga berarti pengharapan atau Irja’a yang berarti menunda. Al-Baghdadi membagi golongan Murji’ah kedalam tiga golong besar, yang pertama, golongan Murji’ah yang dipengaruhi faham Qadariah, kedua, golongan Murji’ah yang dipengaruhi faham Jabariyah, ketiga, golongan Murji’ah yang dipengaruhi oleh faham Qadariyah dan Jabariyah.

Tokoh-tokoh Murji’ah

diantaranya, Hasan bin Muhammad, Sa’id bin Zubair, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan lain-lain.

Orang-orang Murji’ah selalu berusaha dalam pemikiran netral. Mereka tidak mau mempersembahkan pendapat, siapa yang bersalah dan siapa yang keluar dari Islam hingga kafir, dan tiruananya itu mereka tangguhkan penyelesaiannya pada hari perhitungan yang akan hadir dihadapan Tuhan.
Bagi golongan Murji’ah, yang diutamakan yaitu iman, sedang amal perbuatan yaitu soal kedua. Perbuatan sehabis dogma atau dengan kata lain orang yang melaksanakan dosa besar masih ada impian untuk menerima ramhat, ampunan, dan masuk kedalam surga. Golongan Yunusiah pengikut Yunus bin Ain Numairi beropini bahwa dogma itu yaitu ma’rifah kepada Allah, tunduk dan cinta secara yakin. Seseorang yang berbuat jahat dan maksiat tidaklah merusak iman.

Golongan Tsaubaniyah

pengikut Abi Tsauban al-Murji beropini bahwa dogma yaitu ma’rifah dan ikrar atas Allah dan Rasul-Nya. Bagi golongan Ghassaniah, dogma itu yaitu ikrar atau menyayangi dan memmembersihkanka. Iman tidak berkurang atau berlebih.

Bagaimanapun juga uraian diatas terkena pendapat mereka ihwal iman, rasanya susah untuk diterima kaum muslimin. melaluiataubersamaini spesialuntuk menekan keutamaannya dogma sedang amal perbuatan tidak dianggap penting dan tidak memilih tetap dalam Islam atau kufurnya seseorang, membawa konsekuensi-konsekuensi yang lebih jauh, berbahaya, dan tidak menggambarkan ajaran-ajaran islam yang sebenarnya.

Tetapi banyak juga diantara mereka berpendirian lunak dan dengan pandangan yang obyektif. Mereka menyatakan bahwa orang islam yang berdosa besar masih tetap mukmin, mereka bukanlah kafir dan tidak infinit di dalam neraka, tetapi akan di siksa di dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukan.

Baca Juga: