PARADIGMA PENDIDIKAN TINGGI

PARADIGMA PENDIDIKAN TINGGI

PARADIGMA PENDIDIKAN TINGGI

PARADIGMA PENDIDIKAN TINGGI
PARADIGMA PENDIDIKAN TINGGI

Pendidikan tinggi (PT) sekarang ini telah kehilangan jiwanya, yang dulu mampu mencerahi, menyadarkan dan menantang kreativitas dari semua penikmatnya, sekarang menjadi terkepung oleh berbagai tuntutan, dengan munculnya masyarakat yang kapitalis, sehingga pandangan mereka pun tak jauh dari pertimbangan materialistik.

Drost (1999) menguraikan ambiguitas pendidikan kita saat ini, khususnya universitas. Menurutnya universitas saat ini mempunyai dua sisi, yang pertama pada hakekatnya merupakan “lingkungan hidup bernalar untuk memanusiakan manusia sesuai dengan citra manusia masa kini dan dengan demikian membentuk para mahasiswa menjadi manusia demi manusia lain dalam hidup profesi masing-masing”. Di sisi lain adalah bahwa praktik penyelenggaraan universitas sekarang telah “menyimpang” dari hakekat sebuah universitas seperti diuraikan di atas.

Berbagai guncangan yang melanda PT menyebabkan visi dari PT itu sendiri selalu berubah-ubah. Jika dahulu penyelenggaraan pendidikan universitas dalam rangka membentuk para mahasisiwa menjadi manusia demi manusia lain, maka yang terjadi sekarang yaitu bahwa PT lebih berupaya untuk menyiapkan para mahasiswanya agar membekali dirinya dengan keahlian-keahlian untuk bersaing di dunia usaha.

Cara pandang universitas terhadap warganya sendiri siapapun yang cerdas dan cermat pastinya akan menemukan realita bahwa mahasiswa sekarang dipandang tak lebih sebagai komunitas yang menjadi sumber pendapatan terbesar bagi universitas, dan dosen yang profesor maupun doctor sekalipun tak ubahnya sebagai alat produksi. Segala sistemasi kurikulum, dan metode pengajaran serta segala fasilitas laboratorium dan perpustakaan, disediakan pertama-tama dalam rangka perebutan calon-calon mahasiswa. Dan setelah masa studi berakhir, universitas segera menyerahkan generasi muda ini ke dalam kompetisi yang berat-bahkan kadang kejam-, yaitu dunia kerja.

Lembaga Pelatihan Tenaga Kerja

Disadari atau tidak, universitas kita saat ini telah bertransformasi menjadi lebih menyerupai lembaga pelatihan tenaga kerja yang dibutuhkan utamanya oleh dunia industri. Akan tetapi, atribut universitas sebagai lembaga pelatihan tenaga kerja itu pun tidak sepenuhnya benar, mengingat alumni para lulusan universitas pun masih memerlukan pelatihan tenaga kerja terapan ketika memasuki dunia kerja. Gejala tersebut tentunya menjadi tidak sejalan dengan pernyataan Drost diatas.

Tingkat keterserapan ke dunia kerja agaknya telah menjadi tujuan tunggal penyelenggaraan pendidikan PT. Akuntabilitas publik terhadap PT diukur oleh tingkat keterserapan lulusan ke dunia kerja. Jika banyak lulusan dari sebuah institusi PT menganggur, penilaian publik akan mendakwa PT tersebut tidak akuntabel.

Di sinilah letak permasalahannya, para pelaku pasar kerja terus-menerus menuntut suatu standar kualifikasi dari lulusan PT. Kualifikasi tersebut terus-menerus berubah sesuai dinamika globalisasi. Meskipun demikian, para pengelola PT tetap melakukan penyesuaian dengan maksud menghasilkan lulusan yang memenuhi tuntutan kualifikasi para pelaku pasar kerja. Tentu saja banyak lulusan yang dianggap tidak memenuhi standar pasar kerja oleh pelaku pasar kerja, karena memang sebenarnya tidak pernah ada suatu standar khusus tentang kualifikasi lulusan yang dibutuhkan pasar kerja. Di sinilah letak ketidaksinambungan antara PT yang terus memacu kualitas lulusannya untuk memenuhi standar yang berlaku, dengan pasar kerja yang tidak mempunyai standar khusus tentang kualifikasi tenaga kerja.

Pada era sekarang ini, PT kehilangan paradigma pendidikan agaknya disebabkan bukan hanya oleh tuntutan-tuntutan kualifikasi pasar tenaga kerja yang terus berubah, tetapi juga oleh perubahan tuntutan masyarakat, yang telah merubah konsepsinya atas standar keberhasilan maupun kegagalan dalam proses pendidikan karena memandang pendidikan semata-mata sebagai sebuah investasi ekonomi. Banyak orang-orang mengaharapkan anak-anak mereka mengembalikan investasi tersebut setelah mereka lulus. Atau dengan kata lain, mereka menuntut PT menyelenggarakan pendidikan dengan penerapan derajat keterserapan ke dunia kerja yang baik, sehingga setelah mahasiswa-mahasiswa tersebut menyelesaikan studi mereka, anak-anak muda ini dapat segera memperoleh sesuai tingkat pendidikannya secara memadai.

Kemudian pertanyaan selanjutnya, benarkah perubahan dan ambiguitas visi universitas disebabkan karena perubahan dunia kerja yang hiperdinamis? Berbagai perubahan dalam dunia kerja muncul karena perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan berbagai teknologi yang mendorong kemajuan ekonomi. Sebagai bukti dari kemajuan peradaban manusia, perkembangan tersebut tak dapat terhindarkan. Ia adalah fakta yang memang secara radikal telah mengubah cara pandang atas manusia, menggoyahkan visi universitas, dan mendesakkan paradigma baru penyelenggaraan pendidikan sebagai investasi ekonomi. Jadi, tidak tepat jika dikatakan bahwa dunia kerja menyebabkan ambiguitas visi universitas.

Sebagai realitas masa kini, dinamika dunia kerja dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memicu perubahan-perubahan di tubuh universitas. Akan tetapi, bahwa visi universitas menjadi ambigu lebih disebabkan oleh tak adanya tetapan linear di dalam proses penyelenggaraan universitas, yaitu tetapan yang dapat dipakai sebagai pedoman tentang bagaimana universitas harus menyikapi berbagai perubahan tersebut.

Mencari Paradigma Baru

Usaha mencari paradigma baru bagi pendidikan universitas kita perlu memperhatikan beberapa hal, pertama bahwa kemajuan (modernity) dan proses kemajuan (modernitas) di dunia industry, teknologi dan informasi mau tak mau telah memberikan konsekuensi kearah perubahan dan kecenderungan di dunia pendidikan dewasa ini.

Kedua, karena dampak-dampak kemajuan dan prosesnya tak mungkin dapat ditolak dan dihindari. Adalah sungguh naif keinginan untuk kembali kepada suasana universitas yang murni bervisi hakiki. Upaya kembali ke arah tersebut justru mempertajam segmentasi dalam masyarakat karena mengingkari realitas yang ada sekarang ini.

Ketiga ,bahwa keambiguan visi universitas lebih disebabkan karena tidak adanya tetapan linear dalam proses penyelenggaraan universitas tentang bagaimana menyikapi berbagai perubahan tersebut.

Untuk itu, dalam proses pencarian paradigma yang baru, adalah sulit untuk kembali mengembalikan paradigma yang semula ditetapkan universitas, yaitu yang murni bervisi hakiki. Maka yang dapat dilakukan adalah menyesuaikan paradigma pendidikan sesuai dengan relitas masa kekinian. Hal ini bukanlah berarti bahwa paradigma tersebut tidak semata-mata mengakomodasi dan merefleksikan tuntutan pasar tenaga kerja, yang menuntut lulusan universitas harus sesuai dengan kualifikasi yang telah ditetapkan. Akan tetapi, juga mempertimbangkan konsep universitas seperti pandangan Drost di atas serta jangan melupakan visi universitas yang hakiki. Di samping itu, haruslah dibuat suatu tetapan linear dalam proses penyelenggaraan untuk menyikapi berbagai perubahan. Jika tak ingin visi universitas menjadi semakin jauh dari visinya yang hakiki.

Sumber : https://student.blog.dinus.ac.id/blogtekno/seva-mobil-bekas/