NOVEL ORANG-ORANG PROYEK

NOVEL ORANG-ORANG PROYEK

NOVEL ORANG-ORANG PROYEK

Perkembangan sastra di Indonesia menunjukkan angka positif. Sastra banyak diminati orang karena sastra bersifat dulce et utile, yakni berguna dan menghibur. Sastra dapat dijadikan sebagai sarana ekspresi dan rohani, bahkan sebagai sarana berekonomi. Tidak jarang ada seorang penulis sastra yang menggantungkan penghasilan hidupnya hanya dari menulis karya sastra. Perkembangan sastra memberi sinyal bahwa kehidupan seni bahasa masih mendapat perhatian di masyarakat. Perkembangan sastra ini mengacu pada aspek kuantitas dan kualitas.
Salah satu karya sastra adalah novel. Sebuah novel memberikan suatu gambaran luas terhadap pembacanya. Ruang luas dalam novel memungkinkan seseorang untuk menggali lebih dalam atas nilai-nilai dan informasi di dalam novel. Pengarang mempunyai pengalaman dan ilmu pengetahuan yang luas sebagai bahan untuk mengarang novel.
Di tengah gencarnya arus budaya sastra populer, sekarang masih dapat ditemukan novel yang memuat kritik sosial. Contoh novel yang sarat dengan nilai kritik sosial adalah novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Kedua novel ini menceritakan masyarakat kecil yang tertindas oleh kesewenang-wenangan para penguasa. Bahasa yang lugas namun cerdas yang digunakan Ahmad Tohari membuat kedua novel tersebut mudah dipahami oleh pembaca awam..
Novel Orang-orang Proyek merepresentasikan lika-liku kehidupan orang-orang proyek pada masa Orde Baru. Novel ini menceritakan seorang insinyur bernama Kabul. Kabul diceritakan sebagai tokoh yang harus mempertahankan idealismenya di tengah-tengah masyarakat yang terbawa arus budaya pragmatisme Orde Baru. Praktik kerja pada Orde Baru cenderung membiasakan budaya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Kabul mendapatkan sebuah proyek pembangunan jembatan. Akan tetapi, anggaran dana proyek yang seharusnya untuk membiayai proyek harus dipolitisasi dan dikebiri untuk urusan di luar proyek. Novel ini pada dasarnya berisi kritikan terhadap pemerintahan Orde Baru yang selalu membela kepentingan suatu golongan. Novel ini secara tidak langsung juga mengkritik pemerintahan sekarang yang masih saja belum bebas dari budaya KKN.
Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk menggunakan latar tahun 1960-an. Latar tersebut memberi gambaran tentang sejarah komunis dan transisi Orde Lama ke Orde baru. Barangkali Ahmad Tohari ingin menyampaikan pengalaman pahit rakyat kecil yang tertindas di zaman itu. Di dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari memberikan nilai-nilai tentang kebudayaan dan humanisme dengan lebih intens. Trilogi novel ini adalah penyatuan tiga novel, yakni Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Trilogi novel ini menceritakan degradasi sosial yang di alami suatu dukuh yang bernama Dukuh Paruk dengan pusat pengisahan seorang ronggeng bernama Srintil. Srintil harus menjalani berbagai problematika karena statusnya sebagai ronggeng dan tahanan politik. Selain itu, terdapat tokoh Rasus yang diceritakan sebagai anak Dukuh Paruk yang bersifat kritis. Ia meninggalkan Dukuh Paruk untuk mencari jati dirinya.
Kekuatan dari kedua novel tersebut adalah kedekatan cerita dengan realitas sejarah Indonesia. Penceritaan tentang sisi lain pemerintahan Orde Baru dan peralihan antara Orde Baru dengan Orde Lama merupakan refleksi pengarang sebagai subjek kolektif. Dengan demikian, Ahmad Tohari dikatakan seperti menyingkap tabir sejarah dengan caranya sendiri. Hal ini menguatkan bahwa sastra bukanlah karya fiktif tanpa realitas. Karya sastra adalah rekaman sejarah dan fakta sosial yang dikemas dengan kreativitas pengarang. Oleh karena itu, karya sastra tetap mengandung bobot kebenaran yang nyata.
Beracuan pada alasan-alasan tersebut, peneliti ingin mengetahui (1) keterjalinan antarunsur intrinsik dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk; (2) pandangan dunia pengarang yang tercermin dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk; dan (3) struktur sosial novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk sesuai dengan pendekatan strukturalisme genetik.

Baca Juga :