Model-model Pengembangan Instruksional

Model-model Pengembangan Instruksional

Model-model Pengembangan Instruksional

Model-model Pengembangan Instruksional

Model-model pengembangan instruksional adalah sebagai berikut:

  1. Model pengembangan instruksional Briggs

Model yang dikembangkan oleh  briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran dosen atau guru yang akan bekerja sebagai perancang kegiatan instruksional maupun tim pengembangan instruksional yang susunan anggotanya meliputi: dosen, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media dan perancang instruksional. Hal ini dapat dimengerti dari kenyataan bahwa lazimnya dosen atau guru pada tahap tertentu hanya merencanakan interaksi kegiatan belajar mengajar dengan sumber atau bahan yang sudah ditentukan dan tersedia, bukan mengembangkannya sendidri. Namun, apapun perbedaan yang terungkap secara prosedural tersebut tidaklah menghilangkan kenyataan berlakunya prinsip keselarasan antara tujuan yang akan dicapai, strategi untuk mencapainya.

  1. Model Bela H. Banathy

Pengembangan sistem instruksional model Banathy dapat dibedakan dalam enam langkah sebgai berikut:

  1. Merumuskan tujuan

Langkah pertama ini merupakan suatu pernyataan yang menyatakan apa yang kita harapkan dari mahasiswa untuk dikerjakan, diketahui, dan dirasakan sebagai hasil dari pengalaman belajarnya.

  1. Mengembangkan test dalam langkah ini dikembangkan suatu test yang didasarkan atas tujuan yang didinginkan dan digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diharapkan dicapai sebagai hasil dari pengalaman belajarnya.
  2. Menganalisis kegiatan belajar

Dalam langkah ini dirumuskan apa yang harus dipelajari sehingga dapat menunjukkan tingkah laku seperti yang digambarkan dalam tujuan yang telah dirumuskan. Dalam kegiatan ini kemampuan awal mahasiswa harus juga dianalisis atau dinilai karena mereka tidak perlu mempelajari apa yang telah mereka ketahui.

  1. Mendesain sistem instruksional

Setelah itu perlu dipertimbangkan alternatif-alternatif dan identifikasi apa yang harus dikerjakan untuk menjamin bahwa mahasiswa akan menguasai kegiatan-kegiatan yang telah dianalisis pada langkah ketiga hal ini disebut oleh banathy dengan istilah “ functions analysis”. Juga perlu ditentukan siapa atau apa yang mempunyai potensi paling baik untuk mencapai fungsi-fungsi tersebut.

  1. Melaksanakan kegiatan dan mengetest hasil

Dalam langkah ini sistem yang sudah di desain sekarang dapat diuji cobakan atau ditest dan dilaksankan. Apa yang dapat dilaksanakan atau dikerjakan mahasiswa sebagai hasil implementasi sistem, harus dinilai agar dapat diketahui seberapa jauh mereka telah menunjukkan tingkah laku seperti yang dimaksudkan dalam rumusan tujuan.

  1. Mengadakan perbaikan

Hasil-hasil yang diperoleh dari evaluasi kemudian merupakan umpan balik (feedback) untuk keseluruhan sistem sehingga perubahan-perubahan jika diperlukan dapat dilakukan untuk memperbaiki sistem instruksional.

  1. Model PPSI

Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional singkatan dari (PPSI) digunakan sebagai metode penyampaian dalam rangka kurikulum1975 untuk SD, SMP, dan SMA, dan kurikulum1976 untuk sekolah-sekolah kejuruan. Istilah sistem intruksional dalam PPSI menunjuk kepada pengertian sebagai suatu sistem yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang di inginkan.

  1. Model Kemp

Model pengembangan intruksional menurut kemp (1977), atau yang disebut desain intruksional, dan teridiri dari beberapa 8 langkah yakni:

1)      Tujuan Intruksional Umum (TIU) mengajarkan tentang pokok bahasan.

2)      Karakteristik Siswa dengan analisis siswa agar bisa mengetahui latar belakang dan sosial budaya, supaya siswa dapat mengikuti suatu program dan langkah yang perlu diambil.

3)      Menentukan tujuan Intruksional secara spesifik, operasional, dan terukur.

4)      Menentukan materi/bahan pelajaran yang sesuia dengan tujuan intruksional tersebut.

5)      Test awal, agar pengajar dapat memilih materi yang diperlukan dan tidak berkesan membosankan.

6)      Menentukan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan intruksional khusus.

7)      Mengkoordinasi sarana penunjang yang meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga.

8)      Evaluasi untuk mengontrol dan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan.

  1. Model Pengembangan Gerlach dan Ely

Model yang dikembangkan Gerlach dan Ely (1971) dimaksudkan sebagai pedoman perencanaan mengajar. Dengan merumuskan tujuan, isi materi dengan tujuan yang hendak dicapainya. Kemampuan awal siswa dapat ditentukan dengan memberikan test awal. Menentukan teknik dan strategi merupakan pendekatan yang dipakainya untuk guru menentukan tugas/peranan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Memilih media intruksional untuk mengevaluasi hasil belajar antara pengajar dan siswa. Oleh sebab itu intruksional harus dirumuskan dalam tingkah laku belajar dengan itu dapat diamati.

  1. Model Intruksional Development Institute (IDI)

Sejak mulai di kembangkannya, model ini telah dicobakan dengan berhasil dari 344 institusi pendidikan di Amerika Serikat dan negara-negara Asia/Eropa.

Pengembangan Intruksional IDI, menerapkan konsep-konsep pendektatan              sistem. Dan 3 tahapan besar pendekatan sistem yaitu penentuan (Define), Pengembangan (develop) dan evaluasi (evaluate). Ketiga tahapan tersebut dihubungkan dengan umpan balik (feedback) untuk mengadakan kesimpulan atau pun dengan revisi.


Sumber: https://ppidkabbekasi.id/gps-fields-area-measure-pro-apk/