Klasifikasi Hadits Shahih

Klasifikasi Hadits Shahih

      Hadits shahih terbagi menjadi dua, yaitu shahih al-dzatih dan  shahih li ghairih, berikut penjelasannya :

  1.  Hadits  Shahih Al-Dzatih

      Merupakan hadits shahih yang memenuhi syarat-syarat secara maksimal dan rawinya berada pada tingkatan pertama. Sehingga apabila sebuah hadits telah ditelaah dan telah memenuhi syarat di atas, akan tetapi tingkatan rawinya berada pada tingkatan kedua, maka hadits tersebut dinamakan hadits hasan.

  1. Hadits Shahih Li Ghairih

     Merupakan hadits shahih yang tidak memenuhi syarat-syarat secara maksimal. Misalnya, rawinya adil yang tidak sempurna dhabitnya. Bila jenis ini dikukuhkan oleh jalur lain, hadits tersebut menjadi hadits li ghairih. Dengan demikian      shahih li ghairih adalah hadits yang keshahihannya disebabkan oleh faktor lain karena tidak memenuhi syarat secara maksimal. Misalnya hadits hasan yang diriwayatkan melalui beberapa jalur, bisa naik derajatnya dari hadits hasan menjadi derajat hadits shahih.[10]

2.4 Martabat Hadits Shahih

      Mengingat bahwa mengetahui hadits shahih pada sumber-sumber khusus yang memuat hadits shahih begitu penting, maka para ulama membagi hadits shahih menjadi beberapa tingkatan.

      Hadits shahih yang paling tinggi tingkatannya adalah yang bersanad ashatul asa’id. Kemudian beturut-turut sebagai berikut :

  1. Hadits yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim
  2. Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari sendiri
  3. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sendiri
  4. Hadits yang diriwayatkan oleh rawi lain yang sejalan dengan syarat        Al-Bukhari dan Muslim
  5. Hadits shahih menurut syarat selain Al-Bukhari dan Muslim, maksudnya bahwa pentakhrij tidak mengambil hadits dari rawi-rawi atau guru-guru, seperti Al-Bukhari dan Muslim, yang telah beliau sepakati bersama atau yang masih diperselisihkan.[11] Akan tetapi hadits yang ditakhrijkan tersebut dishahihkan oleh imam-imam hadits, seperti hadits Ibnu Khuzauimah, Shahih Ibnu Hibban, Shahih Al-Hakim.

       Ada perbedaan pendapat dikalangan ulama’ mengenai Ashahhul A’sanid. sebagian mengatakan, sebagai berikut :

  1. Riwayat ibn syibah az-zuhriy dari salim ibn abdillah ibn umar dari ibn umar.
  2. Sebagian lain mengatakan, ashahhul asanid adalah riayat sulaiman al-A’masi dari Ibrahim an-nakha’iy dari ‘Al qomah ibn Qois Abdullah ibn mas’ud.
  3. Imam bukhari dan yang lain mengatakan, sahahhul asnid adalah riwayat imam malaik ibn anas dari nafi’ maula ibn umar dari ibn umar. Dan karena imam asy-syafi’Iy merupakan orang yang paling utama yang meriwayatkan dari imam malik, dan imam ahmad merupakan orang yang paling utama yang meriwayakan dari imam syafi’iy,maka sebagian ulama’ muta’akhirin cenderung menilai bahwa ashahhul asanid adalah riwayat imam ahmad dari imam syafi’I dari imam malik dari nafi’ dari ibn umar ra.inilah yang disebut dengan silsilah adz- dzahab (rantai emas).

sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/