Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi Biaya
Kapitalisasi Biaya

Kapitalisasi biaya merupakan isu yang menarik, karena secara praktis, kapitalisasi akan menunda pembebanan biaya ke laba rugi dan berdampak pada laba yang lebih tinggi dalam suatu periode pelaporan. Walaupun, ada risiko pengakuan beban yang tinggi pada suatu periode di masa mendatang, jika kapitalisasi dilakukan tidak secara hati-hati.

Isu Kapitalisasi ini juga sering memunculkan pertanyaan, sampai sejauh mana suatu biaya dapat dikapitalisasi. Sebagai contoh, kegiatan feasibility study sebelum dapat diputuskan suatu kegiatan investasiatau pelatihan untuk pekerja yang diperlukan agar pekerja mampu membangun suatu aset, atau biaya pembongkaran aset untuk membongkar aset di akhir masa manfaatnya.

Rupanya, ketika saya melakukan googling, pertanyaan semacam ini cukup banyak muncul, dan cukup banyak diskusi yang mencoba menjawab pertanyaan semacam ini. Diskusi-diskusi yang saya baca tersebut lebih bersifat opini profesional dan tidak didasari dengan landasan teori atau referensi. Oleh karena itu, kali ini saya akan mencoba mengulas mengenai landasan teori dan prinsip akuntansi yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu biaya dapat dikapitalisasi.

Saya merangkum 3 hal yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu biaya dapat dikapitalisasi (mengacu ke PSAK 16, Kerangka Konseptual Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan), yaitu:

  1. Definisi Aset Tetap
    • Digunakan lebih dari 1 periode
    • Dikuasai (dikendalikan) untuk menghasilkan manfaat ekonomi
  2. Komponen Biaya Aset Tetap
    • Harga perolehan
    • Seluruh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan
  3. Syarat Kapitalisasi Biaya
    • Menghasilkan kemungkinan besar manfaat ekonomik masa depan yang akan mengalir ke entitas
    • Dapat diukur dengan andal

Menggunakan ketiga hal di atas, mari kita coba mengevaluasi apakah biaya berikut dapat dikapitalisasi: