KAJIAN KARAKTERISTIK DAN DAMPAK LINGKUNGAN KEGIATAN PETANI

KAJIAN KARAKTERISTIK DAN DAMPAK LINGKUNGAN KEGIATAN PETANI

KAJIAN KARAKTERISTIK DAN DAMPAK LINGKUNGAN KEGIATAN PETANI
KAJIAN KARAKTERISTIK DAN DAMPAK LINGKUNGAN KEGIATAN PETANI

 

Pemanfaatan sumberdaya secara maksimal

Untuk kesejahteraan seluruh rakyat  merupakan tujuan yang luhur dan patut untuk didukung pencapaiannya. Indonesia memiliki sumberdaya yang berlimpah, akan tetapi kekeliruan pemanfaatannya dimasa lampau membuat negara ini harus menerima kerusakannya. Pemanfaatan dengan tetap memperhatikan prinsip kelestarian merupakan batasan yang harus benar-benar kita patuhi. Dengan memperhatikan prinsip kelestarian, generasi mendatang tetap dapat mengambil manfaat dari sumberdaya tersebut.

Prinsip kelestarian dari segi ekonomi, bahwa kegiatan pembangunan tersebut dapat mendukung kebutuhan ekonomi dari pelakunya. Lestari dari segi lingkungan, bahwa kegiatan pembangunan tersebut tidak menimbulkan kerusakan lingkungan, misalnya menyebabkan erosi yang tinggi, aliran permukaan yang tinggi sehingga menimbulkan banjir, dan sebagainya. Dan lestari dari segi sosial bahwa kegiatan pembangunan tersebut dapat diterima masyarakat, tidak bertentangan dengan agama, kepercayaan dan nilai budaya masyarakat.

Salah satu sumberdaya yang telah dieksploitir dengan tanpa memperhatikan kelestariannya adalah sumberdaya hutan. Sumberdaya hutan telah memberikan sumbangan yang besar terhadap pembangunan. Tetapi akibatnya hutan menjadi rusak bahkan berubah menjadi padang ilalang atau padang pasir.

 

Sampai saat ini pembukaan hutan masih tetap terjadi

Sebagai contoh yang terjadi di Propinsi Bengkulu. Insentif harga kopi yang tinggi membuat masyarakat terus merambah dan membuka hutan untuk ditanam kopi. Pembuatan kebun kopi di dalam kawasan hutan terus terjadi. Menurut Syam Mishide et al. 1997 pada periode 1978 sampai 1990  kebun kopi monokultur meningkat dari 21 persen menjadi 41 persen dari seluruh penggunaan lahan, sedangkan kebun kopi campuran meningkat dari 1 persen menjadi 19 persen. Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk menghentikan kegiatan pembukaan hutan ini, seperti dengan memindahkan masyarakat yang ada di kawasan hutan seperti dengan program transmigrasi lokal (translok), mengerahkan jagawana untuk menjaga hutan, melakukan razia mendadak terhadap penebang liar dan sebagainya. Akan tetapi usaha ini belum menunjukkan hasil yang diinginkan. Kawasan hutan yang telah dikosongkan kembali diusahakan oleh masyarakat.

Kegiatan pembukaan hutan ini menyebabkan rusaknya fungsi hutan, seperti fungsi sumber keanekaragaman hayati, fungsi menjaga tata air, fungsi pembersih udara dan lain-lain. Saat ini telah diusahakan untuk memperbaiki fungsi hutan ini, walaupun mungkin tidak dapat berfungsi sebaik pada saat hutan masih alami, tetapi paling tidak sebagian fungsi tersebut masih ada.

Dalam kasus dibukanya hutan untuk dijadikan kebun kopi, secara sederhana dapat diduga bahwa fungsi hutan menjaga tata air dan sebagai pembersih udara masih dapat diperoleh. Hal tersebut karena tanaman kopi merupakan juga tanaman berkayu dan mempunyai tajuk yang cukup lebar untuk melindungi tanah. Masalahnya apakah benar kebun kopi tidak mengakibatkan dampak lingkungan yang buruk dan sebenarnya sistem pengelolaan kebun kopi yang bagaimana yang dapat mempertahankan fungsi hutan dengan juga dapat memberikan manfaat ekonomi. Sebenarnya bagaimana karakteristik masyarakat di sekitar hutan yang berpotensi besar untuk merambah hutan. Jika ada program pemerintah untuk menyelamatkan hutan, pendekatan yang bagaimana sebaiknya dilakukan agar masyarakat juga berperan dalam penyelamatan tersebut. Hal-hal ini yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian ini.

 

Hutan dan Fungsinya

Sumberdaya hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable). Akan tetapi pembaharuannya ini membutuhkan waktu yang sangat panjang. Hal ini berhubungan dengan daur hidup pohon yang membentuk hutan, yang membutuhkan puluhan tahun untuk dapat siap dipanen. Jadi kegiatan pembaharuan sumberdaya ini melibatkan lebih dari satu generasi manusia. Dengan demikian kegiatan perbaikan dan pemanfaatan sumberdaya hutan membentuk rentang waktu perencanaan yang sangat panjang.

Selain hasil hutan kayu dan non kayu yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia (manfaat ekonomisnya), hutan juga mempunyai fungsi ekologis. Fungsi ekologis hutan seperti sebagai pengatur aliran air, mencegah atau mengurangi bahaya erosi, memelihara sumber-sumber genetis dan sebagai objek wisata (Steinlin, 1988). Bahkan ada yang mensinyalir hutan dapat mempengaruhi  iklim dalam hal ini suhu dan curah hujan.

Walaupun masih banyak perbedaan pendapat tentang fungsi hutan sebagai regulator tetapi anggapan ini telah banyak memacu kegiatan-kegiatan konservasi. Hutan sebagai regulator maksudnya hutan dapat menyimpan air selama musim hujan dan melepaskannya pada musim kemarau. Hujan yang jatuh di atas hutan sebagian besar ditangkap oleh tajuk hutan dan dahan pepohonan tanpa menyentuh tanah. Air menguap dengan cepat dan kembali ke daur hidrologisnya. Sebagian lagi dikembalikan ke  atmosfir melalui transpirasi oleh tumbuhan.

 

Tenaga curah hujan yang mencapai tanah sudah sangat berkurang.

Lapisan serasah dan permukaan tanah yang renggang segera menyerap air yang menembusnya sehingga sedikit saja limpasan yang ada di permukaan. Air tersebut akan mengalir melalui aliran bawah tanah secara perlahan-lahan ke sungai. Sehingga suplai air dapat terkendali tidak berlimpah pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Secara umum, kenaikan aliran air disebabkan oleh penurunan penguapan air oleh vegetasi (transpirasi), dengan demikian aliran air permukaan dan air tanah menjadi lebih besar (Asdak, 1995). Hasil penelitian Bosch and Hewlett, 1982; Hamilton and King, 1984;  Bruijnzeel, 1990; Malmer, 1992 semuanya dalam Asdak, 1995, yang dilakukan secara intensif tentang pengaruh pengaturan jumlah dan komposisi vegetasi terhadap perilaku aliran air menunjukkan bahwa aliran air tahunan meningkat apabila vegetasi dihilangkan atau dikurangi dalam jumlah besar.

Menurut Hibbert, 1983 dan Bosch and Hewlett, 1983 dalam Asdak, 1995, bahwa jumlah aliran air meningkat apabila :

  1. Hutan ditebang atau dikurangi dalam jumlah cukup besar;
  2. Jenis vegetasi diubah dari tanaman yang berakar dalam menjadi tanaman berakar dangkal;
  3. Vegetasi penutup tanah diganti dari tanaman dengan kapasitas intersepsi tinggi ke tanaman dengan tingkat intersepsi yang rendah.

Jadi jumlah aliran air lebih dipengaruhi oleh jumlah dan jenis vegetasi yang ada. Faktor lain yang juga mempengaruhi jumlah aliran air adalah iklim, jenis tanah dan persentasi luas DAS (Asdak, 1995).

Pengaruh hutan terhadap iklim dalam hal ini suhu yaitu pemanasan global, dianggap terlalu berlebihan, tetapi pengaruhnya terhadap curah hujan lebih diyakini kebenarannya walaupun masih ada perbedaan pendapat. Hilangnya hutan menyebabkan evapotranspirasi menjadi berkurang, padahal evapotranspirasi merupakan sumber utama uap air. Jadi perubahan vegetasi penutup tanah dari hutan menjadi bentuk vegetasi penutup tanah lainnya (bukan hutan) menyebabkan penurunan kuantitas hujan lokal (Asdak, 1995). Penurunan curah hujan ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan kekasaran permukaan tajuk hutan dan perubahan albedo. Penurunan kekasaran permukaan tajuk hutan menurunkan besarnya evapotranspirasi (dan meningkatkan suhu udara), sedangkan meningkatnya albedo merupakan penyebab utama berkurangnya aliran kelembaban udara (dihitung dari beda antara presipitasi dan evapotranspirasi). Kombinasi dari kedua faktor tersebut menyebabkan penurunan curah hujan di daerah tersebut (Lean dan Warrilow, 1989 dalam Asdak,1995).

Fungsi hutan yang lain adalah sebagai pencegah erosi. Dengan hutan dibuka berarti air hujan langsung jatuh ke tanah. Energi curah hujan tersebut akan besar sekali dalam menghancurkan tanah. Setelah butir-butir tanah hancur akan mudah dibawa aliran air. Lapisan tanah terbuka tidak banyak lagi menyerap air sehingga aliran permukaan akan meningkat. Dengan makin meningkatnya jumlah aliran air permukaan bararti butir – butir  tanah yang mampu dibawa juga makin banyak. Lapisan tanah bagian atas yang subur akan terbawa aliran air masuk ke sungai dan dapat menyebabkan penyuburan perairan yang akan menyebabkan booming alga.

Lapisan tanah yang subur di tanah hutan sebenarnya tipis (Lubis, 1988). Jadi jika hutan dibuka maka lapisan tanah yang subur ini segera akan hanyut oleh aliran air dan tinggallah tanah yang kurang subur. Dengan demikian pendapat bahwa tanah di hutan adalah tanah subur tidak tepat benar. Tumbuhan hutan dapat tumbuh subur karena siklus biomassa yang dihasilkan langsung digunakan oleh tumbuhan yang bersangkutan. Pada hutan yang sudah dewasa terjadi keseimbangan antara produksi dan kehilangan biomassa (Steinlin, 1988). Pengikatan bersih karbon dan produksi bersih oksigen hanya terjadi di hutan yang dalam tahapan pembentukan (memproduksi biomassa terus menerus).

Fungsi hutan sebagai penghasil kayu seringkali menyebabkan hutan tidak dapat memberikan fungsinya yang lain. Pengalaman Indonesia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan dapat menjadi pelajaran yang baik. Pada awal Pelita I pemerintah memutuskan untuk memanfaatkan sumberdaya hutan untuk membiayai pembangunan. Sumberdaya hutan dianggap sebagai sumberdaya yang tersedia  berlimpah dan dapat langsung dimanfaatkan. Pada saat itu banyak pengusaha yang bukan pegusaha kehutanan ikut serta dalam mengaksploitasi hutan. Akibatnya hutan dieksploitasi tanpa memperhatikan sifat-sifat khas dari sumberdaya hutan itu sendiri dan dengan cara-cara yang tidak memperhatikan kaidah – kaidah  kelestarian. Hasil dari kebijakan pada saat itu, sekarang dapat dinikmati hasil pembangunan tetapi sumberdaya hutan sebagian besar menjadi hancur.

Perusakan hutan selain karena keserakahan segelintir kaum bermodal juga karena adanya tuntutan kebutuhan lahan bagi penduduk yang terus bertambah. Populasi yang berlebih merupakan salah satu penyebab  kerusakan lingkungan, termasuk hutan. Menurut Chiras, 1985 faktor-faktor lain yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah konsumsi per kapita, politik dan kebijaksanaan publik. Masing-masing faktor, sendiri-sendiri atau bersama-sama, menyebabkan berbagai masalah terhadap lingkungan sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Menurut Soemarwoto, 1994, kerusakan lingkungan merupakan tanda-tanda telah terlampauinya daya dukung lingkungan. Lingkungan telah dieksploitasi melebihi kemampuannya dalam mendukung kehidupan. Konsep daya dukung berhubungan dengan jumlah penduduk yang dapat didukung sumberdaya di suatu tempat yang akan mendukung kehidupan penduduk tersebut. Menurut Odum, 1971, pengertian daya dukung (carrying capacity) adalah jumlah populasi manusia yang optimal, yang dalam jangka panjang dapat dipenuhi kebutuhannya oleh suatu satuan ;ingkungan atau sumberdaya alam. Dengan demikian pertambahan jumlah penduduk akan sangat mempengaruhi pemanfaatan lingkungan.

 

Erosi dan Dampaknya

Erosi sebenarnya adalah proses berpindahnya atau terangkutnya tanah atau sebagian tanah di permukaan dari suatu tempat ke tempat lain oleh air atau angin (Sinukaban, 1989 dan Arsyad, 1989). Sebenarnya tanpa campur tangan manusia erosi tetap terjadi, tetapi laju erosi  yang terjadi sama dengan laju pembentukan tanah, sehingga erosi ini tidak menyebabkan kerusakan tanah. Erosi seperti ini disebut erosi geologi.

Akan tetapi dengan makin intensifnya pemanfaatan lahan, makin besarnya tekanan penduduk terhadap lahan dan lahan-lahan yang berlereng curam dibudidayakan, maka erosi dipercepat mulai terjadi.  Erosi dipercepat menyebabkan kerusakan tanah dna dapat merubah tanah menjadi tanah kritis dan marjinal.

Proses erosi terdiri dari dua sub proses, yaitu :

  1. Penghancuran struktur tanah menjadi butir-butir primer oleh energi tumbuk butir-butir hujan dan perendaman oleh air yang tergenang dan pemindahan butir-butir tanah oleh percikan hujan, dan
  2. Penghancuran struktur tanah diikuti pengangkutan butir-butir tanah tersebut oleh aliran permukaan (Arsyad, 1989; Goldman et al., 1986).  Jadi terinci proses erosi terdiri dari empat fase, yaitu pemecahan, pengangkatan, pengangkutan dan pengendapan butir-butir tanah dalam pergerakannya mengikuti saluran  air (Stalling, 1957; Bubenzer, 1980 dalam Sinukaban, 1989).

Erosi dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak dapat dirubah oleh manusia, seperti iklim dalam hal ini curah hujan, tipe tanah dan kecuraman lereng, dan faktor-faktor yang dapat dirubah oleh manusia seperti sifat-sifat tahan seperti kesuburan tanah, ketahanan agregat, kapasitas infiltrasi dan satu unsur topografi yaitu kelerengan (Arsyad, 1989).

Dampak yg ditimbulkan erosi dan sedimentasi dapat berupa dampak lingkungan maupun dampak ekonomi.  Dampak lingkungan seperti penyebab terjadinya ledakan alga yang akan mengurangi kejernihan air, mengurangi ketersediaan oksigen di air dan mengakibatkan kematian ikan, gerakan sedimen di air akan mengganggu kegiatan fotosintesis tumbuhan air. Dampak ekonominya seperti berkurangnya umur pakai waduk karena terjadinya pendangkalan dan berkurangnya kemampuan tanah mendukung pertumbuhan tanaman sehingga produksi menurun.

Dampak erosi dapat langsung atau tidak langsun (Arsyad, 1989).  Dampak langsung di tempat terjadinya erosi, seperti kehilangan lapisan tanah yang subur, kerusakan struktur tanah dan penurunan produksi pertanian.  Dampak langsung di luar tempat terjadinya erosi seperti pelumpuran dan pendangkalan badan air, menurunnya kualitas air dan terjadinya banjir. Sedangkan dampak tidak langsung di tempat terjadinya erosi, seperti sulit untuk memanfaatkan tanah dan di luar tempat terjadinya erosi seperti makin singkatnya umur badan air.

 

Penyelamatan Hutan

Pemanfaatan hutan seharusnya tidak menyebabkan manusia tidak dapat lagi menikmati hasil hutan, karena sumberdaya hutan adalah sumberdaya yang dapat diperbarui. Hutan tetap dapat dimanfaatkan dengan cara-cara yang dapat meminimumkan kerusakan yang terjadi. Jadi yang dimaksud dengan pengelolaan hutan adalah kegiatan manusia secara keseluruhan yang bertujuan untuk mengarahkan sistem ekologi hutan atau memelihara sistem tersebut dalam keadaan yang memungkinkan sistem ini untuk memenuhi kebutuhan manusia akan produksi dan/atau jasa pelayanan dalam jangka panjang (Steinlin, 1988). Pemanfaatan hutan dengan memperhatikan kaidah-kaidah kelestarian sangat diperlukan. Dalam pengelolaan sumberdaya alam benang merah yang utama adalah mencegah timbulnya pengaruh negatif terhadap lingkungan dan mengusahakan kelestarian sumber alam agar bisa digunakan terus menerus untuk generasi yang akan datang (Salim, 1991).

Baca Juga :