HATI NURANI TAPI KELIRU

HATI NURANI TAPI KELIRU

Apa yang akan terjadi bila seseorang berhati keliru ?  kekeliruanya dapat diatasi dengan cara mengoreksi diri. Semua orang tahu bahwa ia melekukan kekeliruan dalam perbuatannya,yaitu dengan cara mengoreksi diri bahwa sadar dengan apa yang dilakukannya itu benar atau salah. Tapi hati nurani yang keliru dapat diatasi tidak dapat menjadi hati nurani yang pasti. Hal tersebut dapat dilihat dengan bertanya bagaimana suatu hati nurani dapat menjadi keliru dan dapat diatasi ? seorang dapat mempunyai opini yang perobabel, yakni pendapat yang sekedar bermutu “barangkali” yang ia lalui membuktikan meskipun ia dapat berbuat demikian. Atau juga ia pernah berbuat keputusan dengan pasti tetapi keliru, dan kini ia mulai meragukan apakah perbuatannya itu keliru atau tidak. Selama ia tidak menyadari kekeliruanya, hati nurabninya keliru tidak bisa diatasi. Kekeliruannya menjadi dapat diatasi hanya ia subjektif, tidak lagi pasti dan mulai meragukan, jadi hati nurani yang keliru dapat diatasi adalah nama bagi hati nurani yang penuh keraguan sejak permulaan, atau, jika tidak, hati nurani yang sekali waktu secara subjektif pasti tetap keliru, dan kini hanya menjadi hati nurani yang hanya penuh dengan keraguan. Hal tersebut akan kita selesaikan dalam saat kita membicarakan hati nurani yang penuh keraguan.

Alasan pokok kesimpulan diatas adalah bahwa kehendak tergantung dengan intelek yang menyodorkan sesuatu yang tidak baik dari kehendak. Perbutan menghendaki baik sejauh mengarah kepada kebaikan yang disodorkan oleh intelek, buruk bila mengarah kepada hal yang menurut intelek adalah buruk. Kekeliruan yang tidak dapat diatasi dalam intelek tidaklah mengubah kebaikan atau keburukan perbuatan yang menghendaki ,  yang pada pokoknya merupakan intelek moralitas. Apabila seseorang dengan kuat yakin bahwa perbuatannya adalah benar, ia menaati hukum moral sejauh ia dapat menaatinya. Manakala ia yakin dengan tangguh bahwa perbuatannya salah, maka ia tidak mematuhi hukum moral yang dimaksud, meskipun bisa jadi perbuatan secara obyektif tidak salah.

  1. Bertindak Dengan Hati Nurani Penuh Keraguan

Orang yang berbuat dengan hati nurani yang pasti tapi keliru tidak dapat diatasi, ia menghindari keburukan moral sejauh mingkin. Bukanlah salahnya bahwa keputusannya salah, dan ia tidak dapat mempunyai alasan untuk percaya ia salah. Tetapi hal tersebut  tidak bisa kita katakan pada orang yang hati nuraninya penuh keraguan. Ia punya alasan untuk percaya bahwa perbuatan yang akan dilakukannya  bisa juga salah, tetapi ibagaimanapun juga ia melaksanakan perbuatan tersebut.  Benar  ia tidak pasti  bahwa ia memperkosa hukum, tetapi ia tidak mau memakai sarana guna menghindari kemungkinan memperkosa hukum ini. Jadi ia melakukan perbuatan memperkosa atau tidak memperkosa hukum.  Sikap meremehkan hukum semacam itu menunjukan adanya maksud jahat.  Sebab ia menghendaki perbuatan tersebut, tanpa perduli perbuatan itu benar atau salah.  Bila perbuatan tersebut ternyata obyektif  benar, hal itu hanya kebetulan. Maka tidak pernah diperkenankan utuk bertindak dengan hati nurani dengan penuh keraguan.

sumber :

https://9apps.id/