EFEK PEMBUKAAN KEBUN KOPI RAKYAT DI LAHAN BERLERENG

EFEK PEMBUKAAN KEBUN KOPI RAKYAT DI LAHAN BERLERENG

EFEK PEMBUKAAN KEBUN KOPI RAKYAT DI LAHAN BERLERENG
EFEK PEMBUKAAN KEBUN KOPI RAKYAT DI LAHAN BERLERENG

 

Degradasi Lahan

Peran Tanah Dalam Sumberdaya Lahan

Tanah merupakan Lapisan kerak bumi yang berada di lapisan paling atas,yang juga merupakan tabung reaksi alami yang menyangga seluruh kehidupan yang ada di bumi.Tanah juga merupakan alat produksi untuk menghasilkan produksi pertanian. Sebagai alat produksi tanah memiliki peranan-peranan yang mendorong berbagai kebutuhan diantaranya adalah sebagai alat produksi, maka peranannnya yaitu sebagai tempat pertumbuhan tanaman, menyediakan unsur-unsur makanan, sumber air bagi tanaman, dan tempat peredaran udara.

Tanah  merupakan faktor lingkungan penting yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbuh di atasnya. Tanah yang produktif  harus dapat menyediakan lingkungan yang baik seperti udara dan air bagi pertumbuhan akar tanaman disamping harus mampu menyediakan unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman tersebut. Faktor lingkungan tersebut menyangkut berbagai sifat fisik tanah seperti ketersediaan air, temperatur, aerasi dan struktur tanah yang baik (Mahfudz, 2003).

 

Faktor Terjadinya Degradasi Lahan

Degradasi tanah pada umumnya disebabkan karena 2 hal yaitu faktor alami dan akibat faktor campur tangan manusia. Degradasi tanah dan lingkungan, baik oleh ulah manusia maupun karena ganguan alam, semakin lama semakin meningkat. Lahan subur untuk pertanian banyak beralih fungsi menjadi lahan non pertanian. Sebagai akibatnya kegiatan-kegiatan budidaya pertanian bergeser ke lahan-lahan kritis yang memerlukan infut tinggi dan mahal untuk menghasilkan produk pangan yang berkualitas (Mahfuz, 2003).

 

Tingginya curah hujan juga sangat berperan terhadap terjadinya degradasi pada lahan berlereng. Jumlah curah hujan (CH) berdasarkan hasil pengamatan oleh Badan Meteriologi Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Meteriologi Fatmawati Soekarno Bengkulu dalam periode 6 tahun (2004 -2009)  sebagai berikut :

Curah Hujan

 

Thn

Curah Hujan (mm)
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des Jum Rata2
2004 198 197 142 269 414 89 187 127 280 130 542 624 3199 266,6
2005 335 219 328 262 290,5 300,7 199,6 284 200,5 468,6 470 582,9 3940,8 328,4
2006 605,2 389,3 301,4 343,3 77,3 445,9 107,3 0,1 19,7 9,3 91,4 368,7 2759,9 230,0
2007 593,8 205,4 443,5 148,3 313,9 190,1 223,3 39,5 193,1 178,4 194,5 397,5 3121,3 260,1
2008 173,5 220,5 454,9 304,4 66,1 80,4 69,3 198,7 156,2 246,5 674,7 751,9 3397,1 283,1
2009 395,1 212,6 372,1 493,8 197,2 235,4 161,1 139,9 232,8 298,6 336,5 416,9 3492,0 291,0
Jum 2301,6 1443,8 2041,9 1820,8 1359 1341,5 947,6 789,2 1082,3 1331,4 2309,1 3141,9 19910,1 1659,2
Rata2 383,6 240,6 340,3 303,5 226,5 223,6 157,9 131,5 180,4 221,9 384,9 523,7 3318,4 276,5

Sumber :  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno Bengkulu, 2010.

 

Menurut Firmansyah (2003) faktor alami penyebab degradasi

Tanah antara lain: areal berlereng curam, tanah yang muda rusak, curah hujan intensif, dan lain-lain. Faktor degradasi tanah akibat campur tangan manusia baik langsung maupun tidak langsung lebih mendominasi dibandingkan faktor alami, antar lain: perubahan populasi, marjinalisasi penduduk, kemiskinan penduduk, masalah kepemilikan lahan, ketidakstabilan politik dan kesalahan pengelolaan, kondisi sosial dan ekonomi, masalah kesehatan, dan pengembangan pertanian yang tidak tepat.

Kerusakan tanah didefenisikan sebagai proses atau fenomena penurunan kapasitas tanah dalam mendukung kehidupan. Arsyad (2000) menyatakan bahwa kerusakan tanah adalah hilangnya atau menurunnya fungsi tanah, baik fungsinya sebagai sumber unsur hara tumbuhan maupun maupun fungsinya sebagai matrik tempat akar tumbuhan berjangkar dan tempat air tersimpan.

Degradasi sifat fisik tanah pada umumnya disebabkan karena memburuknya struktur tanah. Kerusakan struktur tanah diawali dengan penurunan kestabilan agregat tanah sebagai akibat akibat dari pukulan air hujan dan kekuatan limpasan permukaan. Penurunan kestabilan agregat tanah berkaintan dengan penurunan kandungan bahan organik tanah, aktivitas perakaran dan mikroorganisme tanah. Penurunan ketiga agen pengikat tanah tersebut, selain menyebabkan agregat tanah relatif mudah pecah juga menyebabkan terbentuknya kerak di permukaan tanah (soil crusting) yang mempunyai sifat padat dan keras bila kering. Pada saat hujan turun, kerak yang terbentuk di permukaan tanah juga menyebabkan penyumbatan pori tanah. Akibat proses penyumbatan pori tanah ini, porositas tanah, disribusi pori tanah, dan kemampuan tanah untuk mengalirkan air mengalami penurunan dan limpasan permukaan akan meningkat. Sehingga upaya perbaikan degradasi sifat fisik tanah mengarah terhadap perbaikan struktur tersebut (Suprayogo et al., 2001).

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/bpupki-sejarah-anggota-tugas-dan-pembentukannya/