Di antara Sketsa Kabut Merbabu

Di antara Sketsa Kabut Merbabu

Di antara Sketsa Kabut Merbabu

Merbabu, salah satu gunung di Jawa Tengah yang memiliki ketinggian puncak 3142 meter di atas permukaan laut (mdpl) senantiasa memberikan pesona yang megah dan eksotis. Bersebelahan dengan Gunung Merapi seakan-akan kedua gunung tersebut adalah pasangan yang romantis. Di antara Merbabu dan Merapi dipisahkan sebuah lembah yang dikenal dengan daerah Selo. Para pendaki yang ingin merasakan eksotisme pemandangan puncak Merapi dan Merbabu dapat memulai pendakian dari Selo ini.
Semenjak pendakian pertama ke Merapi disusul dengan pendakian Lawu tahun yang lalu membuat saya ingin merasakan petualangan ke puncak Merbabu. Merapi, Lawu, dan Merbabu merupakan sebuah obsesi pribadi yang cenderung bercurah tinggi. Keinginan agar dapat menapaki tiga puncak gunung yang termasuk gunung triangulasi tersebut adalah suatu keinginan yang sangat mendalam.
Solo (13/06/2010), malam hari ketika hendak bersiap mudik ke Wonogiri karena sudah lama tidak pulang, tiba-tiba ada SMS masuk dari teman yang mengajak untuk naik gunung, entah gunung apa belum disebutkan. Saya dilema. Namun, tiba-tiba teman saya itu segera menelepon—karena mungkin SMS-nya tidak langsung saya balas—dan mengajak untuk naik gunung hari Sabtu, minggu itu juga. Melalui percakapan yang tak terlalu lama, akhirnya saya memutuskan untuk tidak mudik dan ikut naik gunung ke Merbabu. Semua serba mendadak, mulai dari persiapan fisik yang belum dipersiapkan, juga mencari perbekalan dan perlengkapan untuk naik. Tapi semua siap dan mantap.
Solo (25/06/2010), pagi suasananya cerah berawan. Namun, semakin siang cuaca semakin tidak bersahabat. Bahkan siang hari terjadi hujan yang cukup membuat kesal. Kadang deras, gerimis, atau tiba-tiba reda. Pasukan calon pendaki Merbabu disiapsiagakan: Andi (saya), Gancar, Dim, dan Yogi. Bakda Ashar, kami pun berangkat menerobos gerimis yang mengguyur Solo. Naik motor. Agak nekat, tapi ya enggak apa-apa, yang penting naik gunung dengan niat yang baik.
Kami tiba di Selo kira-kira pukul 17.00 WIB. Rute dari Selo ke basecamp Merbabu ternyata cukup jauh. Bagi calon pendaki yang berangkat naik bus sampai Selo bisa menggunakan jasa tukang ojek untuk sampai ke basecamp. Namun, bagi yang suka jalan-jalan, ya barangkali Selo-basecamp Merbabu bisa ditempuh dengan jalan kaki untuk sekadar pemanasan yang cukup melelahkan.
Tiba di basecamp, kami segera melakukan persiapan. Terlebih dahulu kami minum minuman berenergi sebagai bekal awal di perut kami. Maghrib dan Isya kami jamak, dan sekitar pukul 18.50 WIB kami mengawali pendakian Merbabu. Cuaca cukup cerah dan basah sehabis hujan. Di kejauhan tampak lampu-lampu kota seperti ribuan bintang yang berada di bumi.
Kami menyusuri jalan setapak di tengah-tengah hutan. Tanpa ada pemanasan terlebih dahulu, ternyata rute awal cukup menyiksa karena terdapat banyak jalan yang menanjak. Namun, ada beberapa jalur yang memberi “bonus” pada kami. Sekitar satu jam perjalanan, Dim agak kelelahan membawa Carier. Saya bersepakat untuk bertukar daypack saya dengan carier Dim. Kejadian itu pun terjadi. Saya kira waktu saya meletakkan tas berada pada posisi tanah yang lapang karena keadaan memang gelap. Tapi sewaktu saya ingin meraih carier, kaki saya agak menyenggol tas saya, dan akhirnya..buk…..buk…buk….buk—entah berapa kali—tas saya jatuh ke jurang. Tak ayal lagi, saya hanya bisa melongo. Kalau tas itu tidak bisa diambil, untuk perbekalan/konsumsi selama perjalanan mungkin saya bisa nebeng perbekalan yang lain, tapi di dalam tas tersebut ada dompet, STNK, SIM, Karmas, kunci sepeda motor, dll. Teman saya, Gancar dan Yogi pun berinisiatif mengambilnya. Tanpa ada peralatan yang cukup—hanya dengan senter—mereka menuruni jurang yang kira-kira tingkat kemiringannya kira-kira 80 derajat. Tas saya akhirnya dapat diambil kira-kira 10 meter di bawah saya menjatuhkannya. Subhanallah……sebuah pemanasan yang cukup memanaskan…

Sumber : https://vhost.id/bloons-td-apk/