Cerdas tapi Miskin, Penerima Beasiswa Bidikmisi Itu Jadi Dokter

Cerdas tapi Miskin, Penerima Beasiswa Bidikmisi Itu Jadi Dokter

Cerdas tapi Miskin, Penerima Beasiswa Bidikmisi Itu Jadi Dokter

Cerdas tapi Miskin, Penerima Beasiswa Bidikmisi Itu Jadi Dokter
Cerdas tapi Miskin, Penerima Beasiswa Bidikmisi Itu Jadi Dokter

Senyum semringah terlihat di wajah Achmad Zaini. Keluar dari ruang aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Rabu (26/7), dia menenteng sebuah map. Isinya surat yang mengukuhkannya sebagai dokter.

Zain, sapaan akrabnya, bisa menuntaskan pendidikan dokter dalam kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Namun, berkat beasiswa bidikmisi yang diterima pada 2011, dia pun mampu menuntaskan pendidikan dokter. Pemuda asal Gadang, Kota Malang, tersebut dilantik bersama 169 mahasiswa lainnya.

Mengenakan setelan jas hitam, dia terlihat sibuk menerima ucapan selamat dari teman dan keluarga. ”Alhamdulillah, akhirnya bisa dilantik. Semua ini berkat usaha dan doa dari keluarga,” kata pemuda kelahiran 29 Maret 1991 itu.

Selama belajar, Zain sama sekali tidak mengeluarkan biaya. Semua ditanggung pemerintah. Meski begitu, dia menyebutkan bahwa perjuangannya tidaklah mudah. Salah satunya, dia harus nyambi bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Sejak awal kuliah, Zain bekerja paro waktu di sebuah warung internet (warnet). Waktu itu, Zain menjabat tenaga admin. Dia bekerja untuk mencukupi uang saku yang ngepres. ”Selain itu, saya kebetulan bisa memperbaiki jaringan komputer,” jelasnya.

Namun, pekerjaan sambilan sebagai penjaga warnet tersebut

tidak berlangsung lama. Tugas yang menumpuk di setiap semesternya membuat Zain melepaskan pekerjaan itu dan memilih fokus kuliah. Dia hanya sesekali menerima orderan.

Kebahagiaan bisa dilantik sebagai dokter umum juga dirasakan penerima beasiswa bidikmisi lainnya, Rifa’ah Rosyidah. Perempuan asli Surabaya itu mengatakan berhasil menempuh studi tersebut berkat usaha dan kerja kerasnya selama ini.

Perempuan kelahiran 30 November 1993 tersebut mengungkapkan

, selain kuliah, dirinya membantu ekonomi keluarga dengan bekerja. Irfa, sapaan akrabnya, bekerja sebagai guru privat. Dia mengajarkan mapel kimia. ”Di sela-sela kuliah itu, saya membuka jasa les privat,” terangnya.

Selain menjadi guru mapel, Irfa mengajar mengaji atau membaca Alquran secara privat. Untuk urusan itu, dia tidak menawarkan diri. Tapi, banyak yang langsung memintanya untuk mengajar. ”Biasanya langsung kontak saya,” kata alumnus MAN 1 Surabaya tersebut.

Selain Zain dan Irfa, dalam pelantikan dokter muda itu, ada tiga mahasiswa

jalur bidikmisi lain yang mendapat gelar dokter (dr) di depan namanya. Mereka adalah Afan Abdul Jabbar, Marita Putri Yuli S., dan Yafi Rushan Rusli.

Wakil Rektor I Unair Djoko Santoso menjelaskan, adanya mahasiswa jalur bidikmisi yang bisa merampungkan studi di kedokteran tersebut merupakan sebuah pembuktian. Bahwa jika berprestasi dan mau bekerja keras, halangan berupa kekurangan ekonomi pun bisa diatasi. ”Melalui beasiswa, mereka bisa melanjutkan studi,” terangnya.

Saat ini kuota bidikmisi di Unair mencapai 20 persen. Kuota tersebut disebar di seluruh prodi secara merata. Tidak ada diskriminasi. Peluang mahasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan di prodi favorit dengan biaya gratis tetap terbuka. ”Jadi, siswa cerdas tapi berasal dari keluarga kurang mampu tidak perlu khawatir lagi,” tandasnya.

 

Sumber :

http://www.thebaynet.com/profile/ojelhtcmandiri