Unsur-unsur bahan ajar

Unsur-unsur bahan ajar

Unsur-unsur bahan ajar

Bahan ajar setidak tidaknya harus memiliki enam unsur, yaitu mencakup tujuan, sasaran, uraian materi, sistematika sajian, petunjuk belajar, dan evaluasi. Sebuah bahan ajar harus mempunyai tujuan. Tujuan harus dirumuskan secara jelas dan terukur mencakup kriteria ABCD (audience, behavior, criterion, dan degree). Sasaran perlu dirumuskan secara spesifik, untuk siapa bahan relajar itu ditujukan. Sasaran bukan sekedar mengandung pernyataan subjek orang, Namur juga harus mencakup kemampuan apa yang menjadi prasyarat yang harus sudah mereka kuasai agar dapat memahami bahan ajar ini.

Langkah-langkah pengembangan

Secara makro, pengembangan bahan ajar mencakup langkah-langkah analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Secara mikro, langkah-langkah pengembangan bahan ajar berbasis web dimulai dari penentuan sasaran, pemilihan topik, pembuatan peta materi, perumusan tujuan, penyusunan alat evaluasi, pengumpulan referensi, penyusunan bahan, editing, upload, dan testing.

Penentuan sasaran

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyusun sebuah bahan ajar adalah menentukan secara jelas siapa sasaran bahan ajar tersebut. Di dalam kelas konvensional, sasaran telah sangat terstruktur, misalnya siswa kelas dua SMA semester pertama. Pernyataan tersebut telah mengandung indikasi yang jelas tentang siapa mereka, kemampuan apa yang harus mereka kuasai, serta di mana kedudukan bahan belajar yang akan disajikan dalam keseluruhan kurikulum sekolah. Demikian pula pada penyusunan bahan belajar berbasis web sasaran harus dicantumkan secara spesifik.

Pemilihan topik

Setelah sasaran ditentukan, langkah selanjutnya adalah memilih topik yang sesuai dengan kebutuhan sasaran tersebut. Pemilihan topik dapat dilakukan dengan pertimbangan, antara lain; materi sulit, penting diketahui, bermanfaat, merupakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum banyak diketahui, atau bahasan dari sudut pandang lain, dll.

Pembuatan peta materi

Peta materi sangat membantu dalam merumuskan keluasan dan kedalaman materi yang akan dibahas. Membuat peta materi dapat diibaratkan menggambar sebuah batang pohon yang bercabang dan beranting, semakin banyak cabang maka semakin luas bahasan materi. Sedangkan apabila kita menghendaki bahasan yang fokus dan spesifik, maka kembangkanlah bagian ranting-ranting.

Baca Juga : 

Software Bahan Ajar

Software Bahan Ajar

Software Bahan Ajar

Teknologi selalu mencakup hardware dan software. Hardware akan berguna apabila tersedia software di dalamnya, demikian pula sebaliknya software baru akan dapat bermanfaat apabila ada hardware yang menjalankannya.
Software dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu software operating sistem (OS), software aplikasi, dan software data atau konten. OS adalah software yang berfungsi sebagai sistem operasi, seperti DOS, Windows, Linux, dan Unix. Aplikasi adalah software yang digunakan untuk membangun atau menjalankan proses sesuai dengan perintah-perintah pemrograman, misalnya office, LMS, CMS, dll. Sedangkan data atau bahan ajar termasuk ke dalam kelompok software konten, misalnya bahan ajar baik berupa teks, audio, gambar, video, animasi, dll.

Dalam pengertian yang paling sederhana, suatu proses belajar akan terjadi apabila tersedia sekurang-kurangnya dua unsur, yakni orang yang belajar dan sumber belajar. Sumber belajar mencakup orang (nara sumber), alat (hardware), bahan (software), lingkungan (latar, setting), dll. Bahan ajar adalah salah satu jenis dari sumber belajar.
Bahan belajar merupakan elemen penting dalam elearning. Tidak ada elearning tanpa ketersediaan bahan belajar. Untuk itu, maka kemampuan seorang guru dalam mengembangkan bahan belajar berbasis web menjadi sangat penting.
Jenis Bahan Ajar

Bahan ajar adalah segala bentuk konten baik teks, audio, foto, video, animasi, dll yang dapat digunakan untuk belajar. Ditinjau dari subjeknya, bahan ajar dapat dikatogorikan menjadi dua jenis, yakni bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar dan bahan yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Banyak bahan yang tidak dirancang untuk belajar, namun dapat digunakan untuk belajar, misalnya kliping koran, film, sinetron, iklan, berita, dll. Karena sifatnya yang tidak dirancang, maka pemanfaatan bahan ajar seperti ini perlu diseleksi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Bahan belajar yang dirancang adalah bahan yang dengan sengaja disiapkan untuk keperluan belajar. Ditinjau dari sisi fungsinya, bahan ajar yang dirancang dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu bahan presentasi, bahan referensi, dan bahan belajar mandiri. Sedangkan ditinjau dari media, bahan ajar dapat kelompokkan menjadi bahan ajar cetak, audio, video, televisi, multimedia, dan web.

Sekurang-kurangnya ada empat ciri bahan ajar yang sengaja dirancang, yakni adanya tujuan yang jelas, ada sajian materi, ada petunjuk belajar, dan ada evaluasi keberhasilan belajar.

Bahan ajar berbasis web

Sebagaimana sebutannya, bahan ajar berbasis web adalah bahan ajar yang disiapkan, dijalankan, dan dimanfaatkan dengan media web. Bahan ajar sering juga disebut bahan ajar berbasis internet atau bahan ajar on line. Terdapat tiga karakteristik utama yang merupakan potensi besar bahan ajar berbasis web, yakni;
– menyajikan multimedia
– menyimpan, mengolah, dan menyajikan infromasi
– hyperlink
Karena sifatnya yang on line, maka bahan ajar berbasis web mempunyai karakteristik khusus sesuai dengan karakteristik web itu sendiri. Salah satu karakteristik yang paling menonjol adalah adanya fasilitas hyperlink. Hyperlink memungkinkan sesuatu subjek nge-link ke subjek lain tanpa ada batasan fisik dan geografis, selama subjek yang bersangkutan tersedia pada web. Dengan adanya fasilitas hyperlink maka sumber belajar menjadi sangat kaya. Search engine sangat membantu untuk mencari subjek yang dapat dijadikan link.

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

Pengembangan Bahan Belajar berbasis Web

Pengembangan Bahan Belajar berbasis Web

Pengembangan Bahan Belajar berbasis Web

Kepala Subbidang Pendidikan Menengah dan Tinggi
Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi, Depdiknas

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat pesat, menurut catatan www.internetworldstats.com/saat ini ada satu milyard pengguna internet di dunia. Penetrasi internet di Asia adalah 10%, sedangkan di Amerika mencapai 67%. Indonesia menduduki urutan ke 13 pengguna internet dunia dengan jumlah pengguna internet tahun 2006, sebanyak 18 juta orang. Angka itu mencapai 10 kali lebih besar dibanding lima tahun lalu. Tidak berlebihan apabila ada yang mengatakan bahwa TIK membawa gelombang baru menuju perubahan besar dalam sejarah kebudayaan manusia.

Tinsiri memberi perumpamaan yang sangat baik dalam menghadapi perkembangan TIK. Ia mengatakan, apabila TIK tersebut diibaratkan arus badai, maka setidak-tidaknya ada tiga kemungkinan sikap kita menghadapinya, yaitu mencoba bertahan melawan arus, hanyut terbawa arus, atau memanfaatkan arus. Dalam perumpamaan ini, sikap yang paling tepat adalah yang terakhir, memanfaatkan arus sebagai sumber energi. Demikian pula dalam dunia pendidikan. Arus TIK telah masuk ke dunia pendidikan. Hadirnya TIK di sekolah, di ruang kelas, di rumah, bahkan di kamar tidur siswa, tidak lagi dapat dibendung. Hadirnya TIK bukan lagi sebuah pilihan, kita memilih ataupun tidak, era TIK telah hadir.

TIK mempunyai potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Pada blue print TIK Depdiknas, stidak-tidaknya disebutkan ada tujuh fungsi TIK dalam pendidikan, yakni sebagai sumber belajar, alat bantu belajar, fasilitas pembelajaran, standard kompetensi, sistem administrasi, pendukung keputusan, sebagai infrastruktur.

Sumber : https://galleta.co.id/

Pengertian Interaksi Sosial

Pengertian Interaksi Sosial

Pengertian Interaksi Sosial

Pengertian Interaksi Sosial
Pengertian Interaksi Sosial

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, interaksi didefinisikan sebagai hal saling melakukan aksi, berhubungan, atau saling mempengaruhi. Dengan demikian, interaksi sosial adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok. Sementara itu, Gillin mengartikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antarindividu, individu dan kelompok, atau antarkelompok.

Di dalam hubungan tersebut, individu atau kelompok bekerja sama atau berkonflik, melakukan interaksi, baik formal atau tidak formal, langsung atau tidak langsung. Beberapa contoh interaksi sosial adalah keija sama antara anggota tim sepak bola dalam sebuah pertandingan (hubungan kerja sama), debat antara para calon presiden dalam memperebutkan kursi presiden (hubungan konflik), perbincangan atau diskusi antara kepala bagian dan bawahan di sebuah kantor (hubungan formal), tawar menawar antara pembeli dan penjual di pasar (hubungan informal).

Dari uraian di atas, terlihat bahwa dalam interaksi sosial terjadi hubungan timbal balik yang melibatkan aspek sosial dan kemanusiaan kedua belah pihak, seperti emosi, fisik, kepentingan. Di dalam interaksi, salah satu pihak memberikan stimulus atau aksi dan pihak lain memberikan respons atau reaksi. Hal ini berbeda dengan hubungan manusia dengan benda mati. Contohnya, ketika seorang ibu sedang mendongeng kepada anaknya. Anak yang mendengarkan kemudian membayangkan isi dongeng yang dituturkan dan terkadang mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Hal ini berbeda dengan kegiatan membanting gelas ketika kita marah. Gelas yang dibanting tidak akan merasakan apa pun, gelas tidak akan marah, atau membalas perbuatan kita. Pada saat itu tidak terjadi interaksi sosial karena gelas tidak memberikan reaksi apa pun kepada kita. Contoh lain, di dalam sebuah ruangan, ada beberapa orang. Salah seorang memukul kursi, namun yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Di dalam ruangan tersebut tidak terjadi interaksi sosial karena tidak ada reaksi terhadap aksi pemukulan kursi itu. Dengan demikian, menurut Charles P. Loomis, sebuah hubungan bisa disebut interaksi sosial jika memiliki ciri-ciri berikut.
1. Jumlah pelaku dua orang atau lebih.
2. Adanya komunikasi antarpelaku dengan menggunakan simbol atau lambang.
3. Adanya suatu dimensi waktu yang meliputi masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
4. Adanya tujuan yang hendak dicapai sebagai hasil dari interaksi tersebut.

Pengertian Masalah Sosial

Pengertian Masalah Sosial

Pengertian Masalah Sosial

Sebuah masalah sosial sesungguhnya merupakan akibat dari interaksi sosial antarindividu, antara individu dengan kelompok atau antara suatu kelompok dengan kelompok lain. Dalam keadaan normal, interaksi sosial dapat menghasilkan integrasi (keterpaduan) atau keadaan yang sesuai norma masyarakatnya. Namun, interaksi sosial juga dapat menghasilkan goncangan dalam pola hubungan antarindividu maupun kelompok, seperti terjadinya konflik.

Soerjono Soekanto mengatakan bahwa masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Apabila antara unsur-unsur tersebut terjadi bentrokan, maka hubungan-hubungan sosial akan terganggu. Akibatnya, timbul kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.

Soerjono Soekanto membedakan masalah sosial menjadi empat, yaitu sebagai berikut.
a. Masalah sosial dari faktor ekonomis, seperti kemiskinan dan pengangguran.
b. Masalah sosial dari faktor biologis, seperti penyakit menular.
c. Masalah sosial dari faktor psikologis, seperti penyakit saraf dan bunuh diri.
d. Masalah sosial dari faktor kebudayaan, seperti perceraian dan kenakalan remaja.

Para ahli sosiologi menyusun ukuran-ukuran atau kriteria masalah sosial. Diantaranya adalah sebagai berikut.

Kriteria Umum
Masalah sosial terjadi karena ada perbedaan yang mencolok antara nilai-nilai dalam suatu masyarakat dengan kondisi-kondisi nyata kehidupan. Artinya, ada ketidakcocokan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang apa yang seharusnya terjadi dengan yang telah terjadi dalam kenyataannya. Tingkatan perbedaan tersebut berbeda untuk setiap masyarakat, tergantung pada nilai-nilai yang mereka anut bersama. Contoh, di Indonesia kumpul kebo dilihat sebagai masalah, sedangkan di Amerika tidak.

Sumber Masalah Sosial
Selain dari proses-proses sosial, masalah sosial juga berasal dari bencana alam, seperti gempa bumi, kemarau panjang, dan banjir. Contoh, banjir bukanlah sebuah masalah sosial. Namun, akibat lanjutan yang ditimbulkannya seperti kehilangan tempat tinggal merupakan sebuah masalah sosial.

Pihak yang Menetapkan Masalah Sosial
Dalam masyarakat umumnya terdapat sekelompok kecil individu yang mempunyai kekuasaan dan wewenang lebih besar dari yang lainnya untuk membuat atau menentukan apakah sesuatu dianggap masalah sosial atau bukan. Kelompok-kelompok itu antara lain pemerintah, tokoh masyarakat, organisasi sosial, dewan atau musyawarah masyarakat.

Masalah Sosial Nyata dan Laten
Masalah sosial nyata adalah masalah sosial yang timbul sebagai akibat terjadinya kepincangan-kepincangan yang disebabkan tidak sesuainya tindakan dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Masalah sosial nyata umumnya berusaha dihilangkan. Masalah sosial laten adalah masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat tetapi tidak diakui sebagai masalah. Hal ini umumnya disebabkan karena ketidakberdayaan masyarakat untuk mengatasinya. Contoh masalah sosial laten adalah korupsi.

Perhatian Masyarakat dan Masalah Sosial
Suatu kejadian atau rentetan peristiwa berubah menjadi masalah sosial ketika hal itu menarik perhatian masyarakat. Masyarakat secara intens membahas dan menggugat peristiwa-peristiwa tersebut. Namun demikian, tidak semua masalah sosial menjadi perhatian masyarakat. Sebaliknya suatu yang menjadi perhatian masyarakat juga belum tentu merupakan masalah sosial. Contoh, merebaknya pelanggaran lalu lintas adalah masalah sosial, namun tidak menarik perhatian masyarakat. Sebaliknya, terbaliknya atau tergulingnya sebuah bus bukanlah masalah sosial walaupun menarik perhatian masyarakat.

Sumber : https://cialis.id/

Efek komunikasi masa terhadap individu

Efek komunikasi masa terhadap individu

Efek komunikasi masa terhadap individu

Menurut Steven A. Chafee, komunikasi masa memiliki efek-efek berikut terhadap individu:

1. Efek ekonomis: menyediakan pekerjaan, menggerakkan ekonomi (contoh: dengan adanya industri media massa membuka lowongan pekerjaan)
2. Efek sosial: menunjukkan status (contoh: seseorang kadang-kadang dinilai dari media massa yang ia baca, seperti surat kabar pos kota memiliki pembaca berbeda dibandingkan dengan pembaca surat kabar Kompas.
3. Efek penjadwalan kegiatan
4. Efek penyaluran/ penghilang perasaan
5. Efek perasaan terhadap jenis media

Menurut Kappler (1960) komunikasi masa juga memiliki efek:

1. conversi, yaitu menyebabkan perubahan yang diinginkan dan perubahan yang tidak diinginkan.
2. memperlancar atau malah mencegah perubahan
3. memperkuat keadaan (nilai, norma, dan ideologi) yang ada.

studi kasus
Permukiman Ahmadiyah Diserang
BOGOR, KOMPAS.com — Sekelompok massa menyerang dan membakar kompleks permukiman warga Ahmadiyah di Desa Cisalaga, Ciampea, Kabupaten Bogor, Jumat (1/10/2010) malam.

Menurut pemantauan Antara di lokasi kejadian, tiga rumah dan satu masjid milik warga Ahmadiyah hangus terbakar, termasuk satu sepeda motor dan satu mobil.

Penyerangan oleh massa yang tidak senang dengan keberadaan permukiman Ahmadiyah tersebut mulai terjadi sekitar pukul 20.00 WIB.

Hingga berita ini diturunkan, situasi tampak mencekam. Puluhan polisi dari Polres Bogor dan juga personel Brimob tampak membuat barikade di gerbang masuk permukiman tersebut untuk mencegah serangan massa yang masih mencoba masuk.

Sumber : https://bingo.co.id/

PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT

PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT

PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT

Pengertian Massa
Basrowi (2004:41) menyebutkan beberapa ciri massa dari beberapa tokoh, beberapa di antaranya adalah Abu Ahmadi dan Abdul Syani. Adapun pendapat mereka mengenai cirri masyarakat adalah sebagai berikut: Abu Ahmadi (1985) menyatakan bahwa masyarakat harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.harus ada pengumpulan manusia dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang;
2.telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama di suatu daerah tertentu.
3.Adanya aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama.

Abdul Syani (2003) menyatakan bahwa masyarakat ditandai oleh cirri cirri-ciri sebagai berikut:
1.adanya interaksi;
2.ikatan pola tingkah laku yang khas di dalam semua aspek kehidupan yang bersifat mantap dan kontinu;
3.adanya rasa identitas terhadap kelompok, dimana individu yang bersangkutan menjadi anggota kelompoknya.

Komunikasi massa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Ditujukan kepada masyarakat luas. Dalam Komunikasi massa pesan yang disampaikan tidak hanya satu orang/kelompok saja melainkan dalam jumlah yang besar atau seluruh masyarakat yang ada. Dengan menggunakan media dalam penyampaian pesan dapat mempermudah menyampaikan pesan keseluruh masyarakat.
2. Umpan balik tidak secara langsungMasyarakat luas menjadi tujuan komunikasi massa dalam hal menyampaikan pesan, oleh karena itu maka umpan balik tidak secara langsung juga diperoleh oleh lembaga yang mengeluarkan berita. Akan tetapi sekarang toknologi sudah berkembang pesat, sekarang masyarakat dapat memberikan responnya terhadap berita yang diperoleh dengan menggunakan telepon interaktif maupun mengirim pesan melalui e-mail. Hanya saja tidak dalam jumlah yang banyak hanya sebagian individu saja yang dapat memberikan responnya secara langsung
3. Yang mengeluarkan adalah lembagaDalam hal mengelolah berita kemudian menerbitkanya bukan seorang individu yang mengerjakannya melainkan lembaga, dimana didalam lembaga itu sendiri telah banyak orang professional untuk mencari berita kemudian mengelolahnya sehingga dapat sesuai dengan yang diiinginkan oleh masyarakat
4. Komunikan bersifat anonym ( tidak dikenal ). Dalam komunikasi massa yang menjadi target adalah masyarakat luas bukan perorangan. Oleh karena itu sebuah media/ lembaga penerbit berita tidak akan mengenal komunikannya.
5. Komunikator bersifat hetrogen ( Berbeda-beda). Untuk mengelolah suatu berita hingga sampai ketangan komunikan bukanlah tugas dari satu individu saja melainkan banyak yang turut campur tangan dalam penyelesaian suatu berita. Sehingga dalam hal ini komunikator bersifat hetrogen.

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Alasan memilih Kasus

Alasan memilih Kasus

Alasan memilih Kasus
    1. Bagi Penulis

Berdasarkan gambaran umum kasus, maka penulis merasa perlu untuk menangani siswa yang bersangkutan dengan persetujuan konselor sekolah dengan menggunakan studi kasus dengan harapan agar:

–          Penulis terampil dalam melaksanakan konseling secara individual

–          Penulis terampil dalam menangani siswa yang bermasalah melalui teknik studi kasus

  1. Bagi Siswa

Dengan penanganan kasus, siswa yang bersangkutan diharapkan:

–          Siswa tersebut dapat meningkatkan motivasi belajarnya

–          Siswa tersebut dapat merubah sikapnya khsusunya dalam hal belajar baik si rumah maupun di sekolah

–          Siswa tersebut dapat lebih memahami dirinya serta masalah yang telah dihadapinya.

  1. Bagi Sekolah

Kegiatan ini dapat membantu siswa yang sedang megalami masalah sehingga personil sekolah dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Hasil dari kegiatan ini dalam bentuk studi kasus yang berisi data siswa dapat menjadi bahan dokumen yang siap digunakan bilamana dibutuhkan.

BAB II

PENGUMPULAN DAN PENYAJIAN DATA

  1. A.    Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan selama berlangsungnya penelitian meliputi problem checklist, angket kebiasaan siswa, checklist kebiasaan belajar, Tes Who Am I dan Observasi. Beberapa alat pengumpul data tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

  1. Problem Cheklist

Problem Cheklist merupakan daftar cek masalah yang terdiri atas 330 masalah dan 11 aspek masalah, diantaranya:

  1. Aspek kesehatan
  2. Aspek keadaan penghidupan
  3. Aspek rekreasi dan hoby
  4. Aspek muda-mudi
  5. Aspek kehidupan sosial dan organisasi
  6. Aspek hubungan pribadi
  7. Aspek agama dan moral
  8. Aspek kehidupan keluarga
  9. Aspek masa depan dan cita-cita
  10. Aspek penyesuaian pada sekolah
  11. Aspek penyesuaian kurikulum
  12. Angket Kebiasaan Siswa

Angket kebiasaan belajar merupakan sejumlah item atau pertanyaan yang yang harus dijawab oleh siswa yang dapat memberikan keterangan tentang kebiasaan dan sikap belajar.

  1. Cheklist Kebiasaan Belajar

Cheklist kebiasaan belajar adalah suatu daftar pertanyaan atau pernyataan tertulis yang harus dijawab secara tertulis juga untuk mengungkap kebiasaan-kebiasan belajar siswa yang terdiri atas 40 pertanyaan atau pernyataan

  1. Tes Who Am I

Tes Who Am I adalah suatu alat pengumpul data yang berupa tes kepribadian, yang dapat mengukur penyikapan seseorang terhadap Tes Who Am I:

  1. Konselor/guru pembimbing dapat mengetahui sebagian aspek kepribadian siswa secara garis besarnya, baik kelebihan maupun kekurangannya.
  2. Konselor/guru pembimbing dapat menentukan alternatif-alternatif layanan bimbingan dan konseling yang dapat menimbulkan kekuatan yang ada pada diri siswa dapat mengatasi kelemahan-kelemahannya.
  3. Konselor/guru pembimbing membantu siswa untuk dapat lebih mengenal diri sendiri, sehingga mampu melakukan penyesuaian diri yang lebih baik terhadap dirinya maaupun ligkungannya.
  4. Observasi

Observasi adalah proses pengamatan yang dilakukan secara sengaja terhadap tingkah laku kasus dalam situasi tertentu. Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi adalah sebagai pelengkap dari metode-metode lainnya. Hal in diketahui melalui pengamatan terahadap tingkah lakunya di kelas dalam proses belajar mengajar dan diluar kelas.

  1. B.     Penyajian Data

Dalam upaya untuk memahami kasus ini secara detail dan akibat terhadap diri konseli, maka penulis akan menyusun prosedur dan metose  peyelidikan dengan rancangan terkait yang disajikan melalui tahapan analisis, sintesis, diagnosa dan prognosis. Dengan tahapan inilah diharapkan dapat memberikan bantuan terhadap diri konseli dan bagaimana alternatif pemecahannya dari masalah tersebut.

Adapun penyajiaanya yaitu sebagai berikut:

  1. 1.      Problem Checklist

Adapun hasil yang diperoleh dari item yang dicek pada setiap aspek masalah dari problem cheklist yakni:

  1. Aspek Kesehatan

Pada aspek ini jumlah yang diberikan sebanyak 30, sedangkan jumlah item yang dicek sebanyak 12 , yaitu:

ü  Kurang Berat Badan

ü  Kurang Berolahraga

ü  Terlalu sering sakit

ü  Sangat Mudah Lelah

ü  Sering sakit kepala

ü  Mata lelah

ü  Sering tidak lapar

ü  Berat badan berangsur-angsur menurun

ü  Bentuk tubuh yang jelek

ü  Alergi

ü  Gangguan Haid

Baca Juga : 

Gambaran Secara Menyeluruh Tentang Konseli

Gambaran Secara Menyeluruh Tentang Konseli

Gambaran Secara Menyeluruh Tentang Konseli
  1. Psycal Apperence ( penampilan Fisik )

Sesuai dengan hasil pengamatan terhadap si konseli ini WD (Inisial) ini, cara berbicaranya cukup sopan dan mudah di temani bercerita, cara berjalannya Biasa saja dan tegak, serta penampilannya yang sopan, perkembangan kesehatannya naik, keadaan tinggi badan sesuai dengan berat badan yang stabil. Dilihat dari segi fisik, si konseli ini termasuk tipe anak yang mudah bergaul.

  1. Personal Apperence ( penampilan pribadinya )

Dilihat dari kesehariannya, si konseli ini adalah anak yang Mudah sekali bergaul dan mudah sekali mendapatkan teman didalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Namun biasanya dalam mengikuti pelajaran, si konseli ini biasanya berpindah-pindah tempak duduk. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari temannya, si WD (Inisial) ini sering menceritakan kejelekan temannya sendiri ke orang lain sehingga membuat dia di benci temannya yang ada dalam kelasnya sendiri.

Begitu pun hasil wawancara  ( interview ) terhadap salah satu teman dekatnya yang berinisial AR  yang mengatakan bahwa si WD (Inisial)  sering menceritakan kejelekan temannya sendiri ke orang lain sehingga membuat dia di benci temannya yang ada dalam kelasnya sendiri. Dan temannya juga mengatakan bahwa hal itu terjadi karena pengaruh lingkungannya yang sering bergaul dengan anak nakal yang ada didekat rumaghnya dan mungkin karena kurangnnya perhatian dari orang tuanya terutama ayahnya yang sangat sibuk.

  1. F.     Gambaran Umum Kasus

Dari berbagai informasi yang telah diperoleh melalui pengumpulan data seperti problem cheklist, angket kebiasaan siswa, checklist kebiasaan belajar, Tes Who Am I dan Observasi. Adapun gambaran umum dari kasus konseli sebagai berikut:

1.Konseli dalam proses belajar mengajar sering Pindah-pindah tempat dan megobrol pada saat pelajaran berlangsun.

2.Konseli kurang mampu menyesuaikan dirinya dengan teman maupun pelajaran.

3.Sering menceritakan kejelekan temannya sendiri.

4.Konseli sering bergaul dengan anak yang nakal.

5.Kurang komunikasi dengan ayahnya dirumah dan kurang diperhatikan oleh orang tuanya.

Sumber : https://andyouandi.net/

Identifikasi Kasus

Identifikasi Kasus

Identifikasi Kasus

Dalam identifikasi kasus ini dimana yang teridentifikasi adalah salah seorang siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 9 Makassar, dengan menggunakan beberapa alat pengumpul data yang diperlukan yaitu melalui Daftar cek masalah,wawancara, angket kebiasaan belajar dan alat pengumpul data lainnya. Siswa yang dimaksud gambaran selanjutnya tentang konseli adalah sebagai berikut:

BIODATA SISWA

1. Nama Lengkap                                :  WD (Inisial)

2.  Jenis Kelamin                                 :  Perempuan

3.  Agama                                            :  Islam

4. Umur                                               :  17 Tahun

5. Cita-Cita                                         :  Guru

6.  Hoby                                              :  Mendengarkan Lagu

7. Tinggi/Berat Badan                         :  120 cm/50 kg

8. Pendidikan                                      :  SMAN 9 Makassar

9. Kelas                                               :  XI IPS 1

10. NIS                                              :  2106397

11. Tempat/Tgl Lahir                         :  Makasssar, 30 Mei 1995

12. Alamat Rumah                              :  Jln. Meranti 1 No 12

13. Suku                                              :  Mandar

14. Warga Negara                               :  Indonesia

15. Alamat Sekolah                             :  Jln. Karunrung

16. Keterangan Pendidikan

a. Taman Kanak-Kanak

Umur                                   :  4 Tahun

Lama Belajar                       :  1 Tahun

b. Sekolah Dasar

Umur                                   :  6 tahun

Lama Belajar                       :  6 tahun

c. SMP

Umur                                   : 13 tahun

Lama Belajar                       :  3 tahun

d. SMA

Umur                                   : 17 tahun

Lama Belajar                       :  3 tahun

17. Keterangan Keluarga

a. Ayah

Nama                                   :  Amrin Amir

Agama                                 :  Islam

Umur                                   :  –

Pendidikan Terakhir            :  S1

Pekerjaan                             :  Wiraswasta

Alamat                                :  Jln. Meranti 1 No 12

Suku/ Kewarganegaraan     :  Mandar/Indonesia

b. Ibu

Nama                                   :  Suryani

Agama                                 :  Islam

Umur                                   :  –

Pendidikan Terakhir            :  S1

Pekerjaan                             :  Ibu Rumah Tangga

Alamat                                :  Jln. Meranti 1 No 12

Suku/Kewarganegaraan      :  Selayar/Indonesia

c. Saudara

Laki-Laki                            :  –

Perempuan                          :  1

Keterangan Tempat Tinggal

a. Tinggal Dengan                   :  Orang Tua

b. Ke sekolah Dengan             :  Naik Motor

c. Jarak Rumah Dengan Sekolah :  ± 1 KM

18. Keterangan Kesehatan

a. Penglihatan                          :  –

b. Pendengaran                       :  –

c. Penciuman                           :  –

d. Penyakit Yang Pernah Diderita :  Typus

19. Keterangan Lainnya

a. Penampilan

Ekspresi Wajah                   :  Ceria, Jutek

Kerapian                              :  Rapi

Suara                                   :  Lembut

b. Persentase Kehadiran          :  Hadir

c. Tipe Pergaulan                     :  Kelompok

d. Kegiatan Di Luar Sekolah :  –

e. Kehidupan Belajar Di Rumah

Jumlah Jam Belajar             :  1 jam

Sarana/Prasarana                 :  Lengkap

Sumber : https://aziritt.net/