Pentingnya Pendidikan Agama

Pentingnya Pendidikan Agama

Pentingnya Pendidikan Agama
Pentingnya Pendidikan Agama

Agama

seringkali hanya dijadikan sebagai suatu pendamping atau sekedar hiasan semata di dalam kehidupan. Sikap demikian muncul akibat pemahaman keagamaan yang tidak sempurna berawal dari kurangnya pengetahuan agama yang di dapatkan.

Perbedaan agama selalu menghiasi layar kaca dan menjadi bahan perbincangan hangat di masyarakat. Hampir peristiwa yang selalu di persoalkan justru berawal dari hal sepele, hingga akhirnya merambat pada hal yang berat. Misalnya, tentang perbedaan madzhab dalam kegiatan sehari-hari seperti tata cara mudlu mengalami perbedaan madzhab 1 dengan yang lain, perbedaan adat dalam keagamaan, hingga pada penetapan awal bulan ramadhan dan 1 syawal yang selalu mengalami perbedaan dalam penetapannya, sehingga berdampak pada permusuhan dan perpecahan di kalangan masyarakat.

Semua peristiwa itu sama sekali tidak mencerminkan kesucian agama. Padahal, agama islam itu lahir bukan untuk di jadikan bahan atau alat untuk perpecahan. Tetapi agama islam hadir di tengah-tengah masyarakat untuk mendidik dan mengarahkan tatanan kehidupan sosial masyarakat yang nyaman, karena selalu menerapkan sikap saling toleransi atau tasamuh.

Tetapi kenyataannya di era globalisasi kenapa agama islam selalu dijadikan alat untuk permusuhan ? Apakah ada kesalahan dalam penyampaian maupun pengajarannya ? Lalu seberapa pentingkah peran agama islam dalam pendidikan di era globalisasi ?

Pendidikan Agama di Era Globalisasi

Dalam konteks membangun dan mengembangkan masyarakat yang bermartabat dan berakhlak mulia, maka perlu reformasi pendidikan keagamaan. Memang sebuah pendidikan itu diterapkan dengan maksud tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi, tidak akan berguna jika pendidikan hanya mengedepankan pada aspek kecerdasan saja tanpa disertai dengan akhlak mulia. Disinilah gunanya pendidikan keagamaan di kalangan masyarakat, khususnya pada generasi muda penerus bangsa.

Fungsi pendidikan kegamaan

ada dua macam. Pertama, mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mampu untuk mengamalkan nilai-nilai yang di dapatkan atau menjadi ahli agama. Kedua, untuk membentuk peserta didik yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai agamanya agar menjadi ahli di bidang agama yang memiliki wawasan luas, kritis, inovatif dan dinamis. Itu semua dilakukan agar terwujud kecerdasan kehidupan bangsa dengan landasan iman, takwa dan akhlak mulia.

Usaha untuk menerapkan pendidikan keagamaan di Negara Indonesia tidaklah mudah, karena di Indonesia tidak hanya menganut agama islam saja. Tetapi, di Indonesia juga menganut 4 macam kepercayaan yang lain. Yaitu agama kristen, hindu, budha, dan katholik. Maka perlunya penyampaian yang tepat pada sasaran dan penyampaiam metode secara tepat pula, yaitu dengan mauidza khasanah yakni dengan lemah lembut dan tanpa paksaan. Selain itu perlunya keterbukaan dalam mempelajari ilmu agama.

Ajaran agama disampaikan dalam rangka menguatkan dasar agamanya. Dalam hal ini penjelasan haruslah rinci beserta dalil teks agama yang pasti, baik dari dalil naqli, dalil aqli, maupun dalil wijdani. Kemudian ajaran agama yang bersifat sosial juga disampaikan secara rinci termasuk di dalamnya dikenalkan bagaimana agamanya juga mengajarkan hidup berdampingan dengan agama lain. Sehingga agama lain tidak tersulut konflik sosial . Kemudian selanjutnya adalah penganut agama diajak melakukan studi lintas agama ( dalam rangka pengenalan ). Studi perbandingan ini akan semakin mempermudah toleransi beragama dan terbentuknya sikap solidaritas antar agama.

Berbagai macam usaha maupun model dalam pendidikan kegamaan yang baik dan ideal sudah beberapa kali dilakukan, namun seringkali gagal. Untuk itu perlu adanya kerja sama antar beberapa pihak dan perlunya kesadaran serta niat yang kuat agar pendidikan keagamaan dapat terserap dan berjalan dengan baik dan lancar. Karena, Negara Indonesia tidak akan maju kalau hanya mengandalkan pada pendidikan umum saja serta di barengi ilmu pengetahuan teknologi tetapi tanpa adanya pendidikan agama. Untuk itu, marilah kita satukan Bangsa Indonesia untuk mendesain pendidikan indonesia dengan menerapkan pendidikan keagamaan.

Baca Juga:

Manfaat Puasa Ramadhan

Manfaat Puasa Ramadhan

Manfaat Puasa Ramadhan

Manfaat Puasa Ramadhan
Manfaat Puasa Ramadhan

Manfaat sebenarnya dari puasa Ramadhan adalah sesuatu yang berhubungan dengan kerohanian dan agama. Manfaat fisik juga besar dan tidak dapat diabaikan. Beberapa manfaat dari puasa Ramadhan diantaranya adalah:

Puasa

adalah disipilin agama yang sangat baik, yang melatih pikiran dan tubuh untuk mengatasi kesulitan, marah, haus, lapar dll. Salah seorang sufi mengatakan bahwa rahasia hidup adalah berbicara sedikit, makan sedikit dan tidur sedikit. Dan semua disiplin tersebut kita jumpai dan kita lakukan selama bulan Ramadhan.

Puasa Ramadhan

mendorong kita untuk berdoa, sedekah dan perbuatan-perbuatan baik lainnya dan menahan diri dari kejahatan yang dari itu akan memberikan kekuatan satu sama lain untuk mengatasi segala macam kejahatan. Kebaikan yang bersinergi itu akan membawa masyarakat yang damai, saling mengasihi dan sejahtera.

Puasa Ramadhan akan membantu kita dalam melepaskan semangat yang terlalu mengejar duniawi dan sebagai gantinya adalah peningkatan hubungan yang lebih dekat kepada Allah taala, sehingga akan meningkatkan keimanan seseorang. Aktivitas sehari-hari memang tidak kita lepaskan semuanya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Puasa Ramadhan menjadikan kita lebih intensif lagi dalam memperhatikan hubungan kita kepada Allah taala.

Penekanan yang besar pada pembacaan Alquran akan membuat seseorang lebih mengenal lagi bimbingan yang diturunkan Allah dalam Alquran. Untuk itu sebaiknya disamping membaca Alquran kita juga harus mengerti arti bahkan mengetahui maksud dari ayat-ayat yang ada.

Puasa juga mendorong meningkatnya rahmat Allah, kesabaran, ketabahan, kerendahan hati, kesederhanaan, pengorbanan – jika manunisa bisa mengorbankan makanan dan minum, maka dia juga akan bisa mengorbankan hidupnya untuk Tuhan.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-ayat-kursi-beserta-terjemahan-dan-keutamaannya-lengkap/

Manfaat dari segi kesehatan

Beberapa dokter telah mengembangkan sistem kesehatan melalui puasa. Dalam bukunya ‘Preservation of Health’ Dr. H.A. Morton Whitby. Seorang ahli bedah terkenal telah menunjukkan bawa kelebihan makanan dapat memiliki konsekuensi yang sangat mengerikan dan puasa dapat menjadi sumber kesehatan.

Bisa menyebuhkan kecanduan alkohol, obat-obatan, merokok yang semuanya berbahaya bagi kesehatan seseorang.

Puasa mengekang hawa nafsu seksual sehingga keinginan seksual tidak disalahgunakan.

Orang yang dibolehkan meninggalkan Puasa Wajib

Orang yang dibolehkan meninggalkan Puasa Wajib

Orang yang dibolehkan meninggalkan Puasa Wajib

Orang yang dibolehkan meninggalkan Puasa Wajib
Orang yang dibolehkan meninggalkan Puasa Wajib

Dalam keadaan tertentu, syariah membolehkan seseorang tidak berpuasa. Hal ini adalah bentuk keringanan yang Allah berikan kepada umat Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Bila salah satu dari keadaan tertentu itu terjadi, maka bolehlah seseorang meninggalkan kewajiban puasa. Adapun kondisi yang diperbolehkan seseorang meninggalkan puasa wajib adalah sebagai berikut:

1. Dalam keadaan safar (perjalanan)

Seseorang yang sedang dalam perjalanan, dibolehkan untuk tidak berpuasa. Keringanan ini didasari oleh Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Dan siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya di hari lain (QS Al-Baqarah : 184).
Sedangkan batasan jarak minimal untuk safar yang dibolehkan berbuka adalah jarak dibolehkannya qashar dalam shalat, yaitu 47 mil atau 89 km. Sebagian ulama mensyaratkan bahwa perjalanan itu telah dimulai sebelum mulai berpuasa (waktu shubuh). Jadi bila melakukan perjalanan mulai lepas Maghrib hingga keesokan harinya, bolehlah dia tidak puasa pada esok harinya itu.

Namun ketentuan ini tidak secara ijma’ disepakati, karena ada sebagian pendapat lainnya yang tidak mensyaratkan jarak sejauh itu untuk membolehkan berbuka. Misalnya Abu Hanifah yang mengatakan bahwa jaraknya selama perjalanan tiga hari tiga malam. Sebagian mengatakan jarak perjalanan dua hari. Bahkan ada yang juga mengatakan tidak perlu jarak minimal seperti yang dikatakan Ibnul Qayyim.

Meski berbuka dibolehkan, tetapi harus dilihat kondisi berat ringannya. Bila perjalanan itu tidak memberatkan, maka meneruskan puasa lebih utama. Dan sebaliknya, bila perjalanan itu memang sangat berat, maka berbuka lebih utama. Berbeda dengan keringanan dalam menjama’ dan mengqashar shalat dimana menjama’ dan mengqashar lebih utama, maka dalam puasa harus dilihat kondisinya. Meski dibolehkan berbuka, sesungguhnya seseorang tetap wajib menggantinya di hari lain. Jadi bila tidak terlalu terpaksa, sebaiknya tidak berbuka. Hal ini dijelaskan dalam hadist RasulullahShallallaahu ‘alaihi wa Sallam,

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya; Hamzah bin Amru Al Aslamibertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, saya seorang laki-laki yang kuat berpuasa dalam perjalanan. Apakah aku harus berpuasa dalam perjalanan?” Beliau menjawab: “Berpuasalah jika kamu mau, dan berbukalah jika kamu ingin berbuka.” (HR. Muslim)

2. Sakit

Orang yang sakit dan khawatir bila berpuasa akan menyebabkan bertambah sakit atau kesembuhannya akan terhambat, maka dibolehkan berbuka puasa. Bagi orang yang sakit dan masih punya harapan sembuh dan sehat, maka puasa yang hilang harus diganti setelah sembuhnya nanti. Sedangkan bagi orang yang sakit tapi tidak sembuh-sembuh atau kecil kemungkinannya untuk sembuh, maka cukup dengan membayar fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkan.

3. Hamil dan Menyusui

Wanita yang hamil atau menyusui di bulan Ramadhan boleh tidak berpuasa, namun wajib menggantinya di hari lain. Ada beberapa pendapat berkaitan dengan hukum wanita yang haidh dan menyusui dalam kewajiban mengganti puasa yang ditinggalkan. Pertama, mereka digolongkan kepada orang sakit. Sehingga boleh tidak puasa dengan kewajiban mengqadha’ (mengganti) di hari lain.

Kedua, mereka digolongkan kepada orang yang tidak kuat/mampu. Sehingga mereka dibolehkan tidak puasa dengan kewajiban membayar fidyah. Ketiga, mereka digolongkan kepada keduanya sekaligus yaitu sebagai orang sakit dan orang yang tidak mampu, karena itu selain wajib mengqadha’, mereka wajib membayar fidyah. Pendapat terakhir ini didukung oleh Imam As-Syafi’i.
Namun ada juga para ulama yang memilah sesuai dengan motivasi berbukanya. Bila motivasi tidak puasanya karena khawatir akan kesesahatan / kekuatan dirinya sendiri, bukan bayinya, maka cukup mengganti dengan puasa saja. Tetapi bila kekhawatirannya juga berkait dengan anak yang dikandungnya atau bayi yang disusuinya, maka selain mengganti dengan puasa, juga membayar fidyah.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/sayyidul-istigfar/

4. Lanjut Usia

Orang yang lanjut usia dan tidak kuat lagi untuk berpuasa, maka tidak wajib lagi berpuasa. Hanya saja dia wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkannya itu. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Dan bagi orang yang tidak kuat/mampu, wajib bagi mereka membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin.(QS Al-Baqarah:184).

BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH

BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH

BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH

BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH
BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH

Tersebutlah satu orang laki laki yg menempuh perjalanan dari Damaskus menuju Zabadani. ditengah jalan, ada laki laki lain yg berniat menyewa keledainya. Walau tidak dikenal, beliau memungkinkan pria asing utk menyewa keledainya. Keduanya terjadi menuju satu tempat, beriringan.

“Ayo melalui arah sini,” ajak cowok penyewa keledai. “Tidak, saya belum sempat melalui jalan itu. Silahkan tempuh jalan lainnya.” jawab si laki laki. Mengelak.

“Tenang saja,” rayu laki laki penyewa keledai, “aku yg bakal jadi penujuk jalan.”
Keduanya pula berunding sampai pria perdana mengikuti saran pria yg menyewa keledainya.

Tidak lama sesudah itu, keduanya hingga di satu buah lokasi yg sukar dilalui. Medannya terjal & curam. Cowok pemilik keledai menonton ada sekian banyak mayat tergeletak di sana.

Tidak dinyana, pria yg menyewa keledainya turun sembari menodongkan sebilah pedang. “Turunlah serta-merta! Saya dapat membunuhmu!”

Pria pemilik keledai pula berlari sekuat kemampuannya. Beliau berikhtiar menghindar, namun sia-sia lantaran sukarnya medan yg mesti dilalui.

“Ambil saja keledai kepunyaanku.
Bebaskan saya.” papar pria pemilik keledai. Nyawanya terancam. “Pasti. Saya tak mau menyia-nyiakan keledaimu. Namun, saya pula mau membunuhmu.” Gertak si cowok. Bengis.

Tidak henti-hentinya, pria pemilik keledai ini mengemukakan nasihat. Dia serta membacakan ancaman-ancaman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an & hadits Nabi berkenaan dosa membunuh & jalankan kriminal dengan cara umum.

Di Sayangkan, laki laki itu tidak menggubris. Nafsu membunuhnya telah bulat. Tidak dapat dicegah. Mustahil diurungkan.“Jika begitu,” ucap pria pemilik keledai, “izinkanlah aku mendirikan shalat. dua rakaat saja.”

“Baiklah,” bentak pria jahat, “tapi jangan sampai lama-lama!”Qadarullah, seluruhnya hafalan pria pemilik keledai hilang. Disaat sibuk mengingat-ingat, laki laki tidak bernurani itu membentak & menyuruhnya bergegas.Hasilnya, teringatlah satu ayat oleh pria pemilik keledai ini. Dia membaca firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naml [27] ayat 62,

“Atau siapakah yg memperkenankan (doa) orang yg dalam kesusahan jika dia berdoa Kepada-Nya & yg menghilangkan kesulitan & yg menjadikan anda (manusia) sbg khalifah di bumi? Apakah tidak hanya Allah ada tuhan (lainnya)? Teramat sedikitlah anda mengingati(Nya).”

“Seketika itu pula,” papar si pria, “dari mulut lembah muncul satu orang pengendara kuda mengambil tombak. Ia melemparkan tombak serasi di dada laki laki jahat itu sampai serentak tersungkur tidak dengan bernyawa.”

“Siapakah engkau?” bertanya laki laki pemilik keledai penuh heran sekaligus haru terima kasih.

“Akulah Hamba-Nya Beliau yg memperkenankan doa orang yg dalam kesusahan bila ia berdoa Kepada-Nya, & yg menghilangkan kesulitan.”Kisah mengagumkan ini serta dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.
Wallahu a’lam.

Baca Juga:

INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA

INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA

INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA

INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA
INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA

Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika ia tidak mau mengubah nasibnya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa berdoa dan memohon kepada Allah itu penting, akan tetapi kita juga harus menyertainya dengan bekerja keras untuk menggapai tujuan tersebut.

Rasulullah memiliki sahabat pilihan yang berasal dari kaum Anshar sang penolong kaum Muhajirin. Ia adalah salah satu pemuka dari suku Thaibah yang menyambut dakwah Rasul dengan penuh suka cita bahagia.

Ia adalah manusia mulia. Ketika ia gugur sebagai syuhada’ dalam peperangan jihadnya, ruhnya terbang ke langit paling tinggi dan kemudian Rasul bersabda bahwa saat itulah Arsy ar-Rahman berguncang.

Pada suatu hari, Rasulullah memuji sahabatnya ini dengan mengatakan jika inilah tangan yang dicintai oleh Allah dan tidak akan pernah disentuh oleh api neraka.

Kisah ini berisikan cerita dari sahabat Rasul yang mulia ini. Ia adalah seseorang yang sangat tekun dalam bekerja, ia hanya makan dari apa yang dihasilkan tangannya, meskipun sebenarnya ia adalah seorang pemimpin kabilah. Inilah dalil tentang kerja keras.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Ia sangatlah rajin dalam bekerja, bukan untuk kehormatan dirinya sendiri tapi juga untuk kebutuhan keluarganya dan membiayai jihad. Karena ia bekerja keras di ladang kurma membuat tangganya menjadi berkapal, kasar dan pecah-pecah.

Karena kerja kerasnya inilah kemudian Rasulullah menyebutnya sebagai tangan yang dicintai Allah dan tidak akan pernah disentuh oleh api neraka. Apabila kita berpikir jika tangannya saja sudah mendapatkan perlindungan dari Allah lalu bagaimana dengan pemilik tangan itu, pastinya akan diperlakukan sama dengan tangannya.

Kunci dari anugerah luar biasa ini adalah kerja keras. Kita dianjurkan untuk bekerja keras dalam menggapai suatu tujuan.

Tapi perlu kita ingat jika kerja keras ini haruslah didasari dengan niat karena Allah demimenafkahi keluarga, memakmurkan diri, dan membangun kesejahteraan umat agar tidak menjadi orang yang lemah seperti orang yang enggan untuk bekerja dan memilih untuk meminta-minta.

Sungguh mulianya Islam. Meskipun kita beramal dan manfaatnya kembali pada kita, Allah sudah menghitungnya sebagai amalan dan akan memberikan ganjaran yang luar biasa. Ayat Al-Quran tentang bekerja keras menunjukkan banyaknya amalan yang bisa kita lakukan.

Apabila kita lihat generasi terbaik ini maka kita akan lihat orang-orang yang ikhlas, bekerja keras dan cerdas. Tidak ada satupun dari mereka yang lemah dan hanya meminta-minta untuk memenuhi kebutuhannya. Meskipun mereka tidak memiilki harta maka mereka sudah bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepada umat manusia karena sesunguhnya karunia Allah melebihi dari apa kata cukup.

Berdasarkan hadits tekun bekerja di atas, kita bisa tahu betapa mulianya orang yang bekerja keras. Namun kita juga harus ingat bahwa pekerjaan yang kita lakukan adalah pekerjaan yang halal. Selagi Allah memberikan usia dan tenaga bagi kita maka lebih baik jika kita bekerja, bukannya meminta-minta.

Bahkan di suatu dalil dijelaskan bahwa Allah melarang umat-Nya untuk meminta-minta karena orang yang seperti ini menunjukkan bahwa dirinya lemah dan enggan untuk berusaha.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita bisa meneladani manusia mulia ini. Janganlah menyusahkan orang lain dengan meminta-minta. Akan lebih baik jika kita berusaha dengan bekerja dan bisa memberikan manfaat pada orang lain.

INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT

INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT

INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT

INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT
INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT

1. Orang yang senang menunggu datangnya waktu shalat tiba.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)

2. Berada di shaf bagian depan di dalam shalat.

Diriwayatkan dari sahabat Barra’ bin ‘Azib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

3. Menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf waktu shalat).

Para Aimmatul Muhadditsin, yaitu Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

4. Mengucapkan Aamiin bersamaan dengan Para malaikat dalam sholat.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

5. Duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

6. Melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.

Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140)

Baca Juga: Sifat Allah

7. Mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)

8. Orang yang suka berinfak.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

9. Makan sahur untuk Berpuasa.

Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519) Demikianlah 9 Jenis Orang Yang Diidolakan Dan Selalu Didoakan Para Malaikat, Semoga kita termasuk salah satu diantaranya, Mohon sebarkan info ini pada yang lainnya, Barakallah fiik, Amiin

Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo’a

Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo'a

Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo’a

Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo'a
Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo’a

Pengertian Ziarah Kubur

Yang di maksud dengan ziarah kubur ialah mengunjungi makam (kuburan) orang-orang Islam dengan maksud untuk mengambil pelajaran yang berkaitan dengan maut dan kehidupan di alam abadi dan mendoakannya biar dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah swt.

Hukum Ziarah Kubur

Ziarah kubur hukumnya sunnah dan dibutuhkan dengan ziarah kubur ini sanggup diambil i’ tibar dari orang yang sudah meninggal dunia, sehingga dengan demikian seseorang akan lebih sanggup mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan meninggalkan amal-amal kebaikan. Rasulullah saw. Bersabda: Artinya: “Dari Buraidah ra., Rasulullah saw. Bersabda, ‘Sungguh lampau saya sudah melarang engkau ziarah kubur, maka kini Muhammad saw. Telah diizinkan untuk berziarah ke kubur ibundanya, maka ziaralah engkau alasannya yaitu sebetulnya ziarah kubur itu mengingatkan akan diakhirat.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan At Turmudzi)

Ada yang beropini bahwa ziarah kubur bagi wanita hukumnya makruh atau bahkan haram jikalau dengan ziarah kubur itu akan menhadirkan fitanah menyerupai menangis, meratap, atau tingkah laris yang tidak senonoh. Rasulullah saw. Bersabda: Artinya: “Dari Abu Hurairah ra., sebetulnya Rasulullah saw. .Telah melaknati para wanita yang ziarah kubu (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At Turmudzi)

Baca Juga: Ayat Kursi

Adab Ziarah Kubur

a. Ketika masuk ke pintu kubur orang yang berziarah memdiberi salam kepada jago kubur dan membaca doa untuk mereka. Hadis wacana hal ini yaitu sebagai diberikut

اَلسَّلاَمُ عَلَى اَهلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَنْتُمْ لَنَا فَرْطٌ وَنَحْنُ اِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ

لاَحِقُوْنَ

Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr, minal mu’minîna wal muslimîn, antum lanâ farthun, wa nahnu insyâallâhu bikum lâhiqûn.
Artinya :
“Salam atas para penghuni kubur, mukminin dan muslimin, engkau sudah menlampaui kami, dan insya Allah kami akan menyusulmu.”
b. Berdoa memohonkan ampun bagi jago kubursebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi saw. Ketika ziarah. Nabi saw. Bersabda:
Artinya: “Ya Allah, ampunilah jago (kubur) baqi.” (HR. Muttafaq ‘Alaih

Tata cara Berdo’a

1. Mengirimkan surah Al-Fatihah dengan membaca :
إِلَىَ حَضْرَةٍ النّبِيُ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلّى اللّهُ عَلَيْـهِ وَسَلّم صَلِّ اللّه لَهُمُ الْفَاتِحَة
2. Mengirimkan surah Al-Fatihah kepada yang mau di doakan
إِلَىَ حَضْرَةٍ الرّوْحِي ……..بِنْتِ/بِنْ…….. الْفَاتِحَة
Ilaa hadhratirruhi……….(sebut namanya) binti/bin…..(sebut nama bapaknya) Alfatihah…..(bacakan Surah Al-fatihah)
3. Surah Al-ikhlas 3 kali, Al-Falaq dan An-Nas
4. Ayat Qursy
5. Surah Yassin
6. Doa
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ غُرْبَتَهُ، وَصِلْ وَحْدَتَهُ، وَاَنِسْ وَحْشَتَهُ، وَاَمِنْ رَوْعَتَهُ، وَاَسْكِنْ اِلَيْهِ مِنْ رَحْمَتِكَ
يَسْـتَغْنِي بِهَا عَنْ رَحْمَةٍ مِنْ سِوَاكَ، وَاَلْحِقْهُ بِمَنْ كَانَ يَتَوَلاَّهُ
Artinya :
“Ya Allah, kasihi keterasingannya, sambungkan kesendiriannya, hiburlah kesepiannya, tenteramkan kekhawatirannya, tenangkan ia dengan rahmat-Mu yang dengannya tidak membutuhkan kasih akung dari selain-Mu, dan susulkan ia kepada orang yang ia cintai.”
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ
Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) diberilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di daerah yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau memmembersihkankan baju yang putih dari kotoran, diberilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), diberilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.”
اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ اَنْ لاَتُعَذِّبَ هَذَا الْمَيِّتِ

“Ya Allah, saya memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad tidakbolehlah azab penghuni kubur ini.”

اَللهُمَّ اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، َاْلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ، رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Ya Allah, diberikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya itu sebagaimana dia berdua merawatku dikala saya masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, tiruana orang yang diberiman, pria maupun wanita yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah diantara kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, diberilah ampun dan belas kasihanilah alasannya yaitu Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.

Doa yang dibacakan dikala ziarah kubur pada dasarnya ialah memohonkan ampun kepada Allah swt. atas segala kesalahan dan dosa para jago kubur muslimin dan muslimat.
c. Orang yang ziarah kubur tidak duduk di atas kuburan. Hadis wacana hal ini yaitu sebagai diberikut:
Artinya: “Dari Jabir ra., Nabi saw. Telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan mendirikan bagunan di atasnya.” (HR. Ahmad dan Muslim)
d. Bagi orang yang ziarah kubur dihentikan meminta sesuatu apapun kepada kuburan, baik kuburan biasa maupun kuburan yang disebut orang sebagai kuburan keramat, alasannya yaitu yang demikian itu termasuk perbuatan syirik.

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

 

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah
Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

Aliran Murji’ah mendasarkan kepada pemikiran yang bersifat netral, yang intinya tidak mau terlibat di dalam perperihalan dan permusuhan itu. Murji’ah berasal dari kata Arja’a berarti sesuatu yang berada dibelakang. Arja’a juga berarti pengharapan atau Irja’a yang berarti menunda. Al-Baghdadi membagi golongan Murji’ah kedalam tiga golong besar, yang pertama, golongan Murji’ah yang dipengaruhi faham Qadariah, kedua, golongan Murji’ah yang dipengaruhi faham Jabariyah, ketiga, golongan Murji’ah yang dipengaruhi oleh faham Qadariyah dan Jabariyah.

Tokoh-tokoh Murji’ah

diantaranya, Hasan bin Muhammad, Sa’id bin Zubair, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan lain-lain.

Orang-orang Murji’ah selalu berusaha dalam pemikiran netral. Mereka tidak mau mempersembahkan pendapat, siapa yang bersalah dan siapa yang keluar dari Islam hingga kafir, dan tiruananya itu mereka tangguhkan penyelesaiannya pada hari perhitungan yang akan hadir dihadapan Tuhan.
Bagi golongan Murji’ah, yang diutamakan yaitu iman, sedang amal perbuatan yaitu soal kedua. Perbuatan sehabis dogma atau dengan kata lain orang yang melaksanakan dosa besar masih ada impian untuk menerima ramhat, ampunan, dan masuk kedalam surga. Golongan Yunusiah pengikut Yunus bin Ain Numairi beropini bahwa dogma itu yaitu ma’rifah kepada Allah, tunduk dan cinta secara yakin. Seseorang yang berbuat jahat dan maksiat tidaklah merusak iman.

Golongan Tsaubaniyah

pengikut Abi Tsauban al-Murji beropini bahwa dogma yaitu ma’rifah dan ikrar atas Allah dan Rasul-Nya. Bagi golongan Ghassaniah, dogma itu yaitu ikrar atau menyayangi dan memmembersihkanka. Iman tidak berkurang atau berlebih.

Bagaimanapun juga uraian diatas terkena pendapat mereka ihwal iman, rasanya susah untuk diterima kaum muslimin. melaluiataubersamaini spesialuntuk menekan keutamaannya dogma sedang amal perbuatan tidak dianggap penting dan tidak memilih tetap dalam Islam atau kufurnya seseorang, membawa konsekuensi-konsekuensi yang lebih jauh, berbahaya, dan tidak menggambarkan ajaran-ajaran islam yang sebenarnya.

Tetapi banyak juga diantara mereka berpendirian lunak dan dengan pandangan yang obyektif. Mereka menyatakan bahwa orang islam yang berdosa besar masih tetap mukmin, mereka bukanlah kafir dan tidak infinit di dalam neraka, tetapi akan di siksa di dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukan.

Baca Juga:

Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij

Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij

Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij

Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij
Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij

Nama Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar. Semula Khawarij yaitu golongan politik yang menolak perilaku Ali bin Abi Thalib dan keluar dari golongan Ali. Golongan ini disebut juga dengan nama Haruriah, lantaran sehabis memisahkan diri dari Ali memutuskan pimpinan gres di suatu kampung yang berjulukan Harura. Meskipun Khawarij pada mulanya yaitu golongan politik, namun dalam perkembangan selajutnya ia beralih menjadi aliran kalam.

Aliran Khawarij membolehkan seorang khalifah (kepala Negara) atau Imam dipilih dari bukan golongan kaum Quraisy, boleh dari orag biasa ataupun hamba sahaya. Bagi aliran ini seorang khalifah berfungsi mewakili tiruana kepentingan rakyat dengan sifat-sifat yang adil, jujur dan menjauhi segala hal yang akan merusakannya. Khalifah juga wajib mempunyai ilmu yang luas da bersifat zuhud. Seorang khalifah yang menyimpang dari ajaran-ajaran Islam, merusak keadilan, dan kemaslahatan, wajib dieksekusi atau dibunuh. Ali ditolak semenjak Ali melaksanakan tahkim.

Golongan An-Najdat

yaitu pengikut Najdah Ibnu Amir al- Hanafi dari Yamamah. Bagi golongan ini, keimanan dan keislaman seseorang ditentukan oleh kewajiban mengimani Allah dan Rasul-Rasul-Nya, mengetahui haram hukumnya membunuh orang islam dan percaya pada seluruh yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. orang yang tidak peduli terhadap hal-hal tersebut tidak diberiman dan tidak sanggup diampuni.

Baca Juga: Rukun Iman

Golongan al-Muhakkimah

contohnya memutuskan bahwa Ali, Mu’awiyah dan tiruana pengikut yang membenarkan tahkim, tiruanaya kafir.

Golongan al-Azariqah

yaitu kelompok khawarij di bawah pimpinan Nafi Ibnu Azraq dengan pandangan yang lebih ekstrim di banding golongan-golongan lainnya. Golongan ini berpendirian bahwa orang-orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka yaitu musyrik, infinit selama-lamanya didalam neraka, walaupun ia dalam usia anak-anak. Yang tergolong diberiman yaitu mereka sendiri dan para pengikutnya, selain golongan mereka tiruananya musyrik dan harus dibunuh.

Pengikut dari Ziad ibnu Asfar disebut As-Sufriah. Golongan ini juga termasuk golongan ekstrim akan tetapi ada di antara pendirian mereka yang lunak, seperti: bawah umur orang musyrik dihentikan di bunuh, orang-orang sufiah yang tidak ikut hijrah tidak dipandang kafir, kafir bagi mereka ada dua, kufur ni’mat dan kufur rububiyah. Dari sini kafir tidak selamanya harus keluar dari islam.

Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Pengertian Agama Menurut Para Ahli
Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Para Ahli tidak sama-beda pandangan dalam mengemukakan pengertian agama, haini disebabkan lantaran sudut pandang mereka tidak sama-beda. Untuk menghindari silang pandang tersebut, agama diartikan secara mudah saja yaitu suatu keyakinan adanya aturan atau jalan hidup yang bersumber dari suatu kekuatan yang adikara (Tuhan)

Prof.Dr.Mukti Ali

menunjukan bahwa tidak ada arti atau defenisi yang paling susah selain dari pada agama. Hal itu disebabkan oleh lantaran pengalaman keagamaan itu ialah hasil yang paling sensitif atau yang dianggap berupa hal paling subyektif yang ialah soal batin. Juga kesusahan pemdiberian pengertian agama ini lantaran semangat mempersembahkan pemdiberian agama sangat berpengaruh sekali sampai membuat susah untuk mempersembahkan arti kalimat agama.

melaluiataubersamaini demikian untuk menjawaban terhadap problem yang menyangkut pengertian agama, maka didiberikan pengertian sebagai diberikut :

Baca Juga: Rukun Islam

Pertama Pengertian secara tekhnik

Religion (Bahasa Inggris) Religie (Bahasa Belanda), Din (Bahasa Arab), sedangkan bahasa Indonesia (Agama). Religion atau religie sama-sama berasal dari bahasa induk yang berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Religie to reat carefuly. Cicero menyampaikan “DE Nat” “Deorum”.

Kata agama berasal dari bahasa sangsekerta yaitu a sama dengan tidak dan gama berarti kacau. Kaprikornus agama sama dengan tidak kacau.

Sultan Muhammad Zain

mengemukakan bahwa agama ialah kepercayaan kesaktian roh nenek moyang, yang kuasa dan Tuhan. Dalam presepsi WJS Poerwantana mengemukakan bahwa agama ialah segenap kepercayaan kepada Tuhan, dewa, serta dengan kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.

Pada dasarnya pengertian agama banyak sekali, akan tetapi pada goresan pena ini spesialuntuk mempersembahkan beberapa intisari pengertian yang didiberikan oleh tokoh tersebut. Pengertian yang dimaksud ialah :
Agama ialah suatu sistem Creado (tata keimanan) atau tata keyakinan atas adanya sesuatu yang mutlak diluar manusia
Agama ialah suatu sistem ritus-ritus (tata peribadatan) insan kepada yang dianggap Yang Maha Mutlak itu
Agama ialah suatu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur insan dengan insan lainnya dan alam semesta sesuai dengan jalan atau tata keimanan dan tata peribadatan.

Secara Umum

Secara umum ditinjau dari sumber, agama sanggup dikategorikan kedalam dua golongan besar yaitu : Agama samawi atau agama langit, agama wahyu, agama profis, atau din as-sunnah atau religion. Dan kedua ialah agama budaya atau agama bumi / agama filsafat / agama rakyu / Natural religion non-revalation religin