BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH

BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH

BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH

BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH
BACALAH AYAT INI SAAT KESULITAN MAKA ALLAH AKAN KIRIMKAN MALAIKAT UNTUK MEMBANTU INSYA ALLAH

Tersebutlah satu orang laki laki yg menempuh perjalanan dari Damaskus menuju Zabadani. ditengah jalan, ada laki laki lain yg berniat menyewa keledainya. Walau tidak dikenal, beliau memungkinkan pria asing utk menyewa keledainya. Keduanya terjadi menuju satu tempat, beriringan.

“Ayo melalui arah sini,” ajak cowok penyewa keledai. “Tidak, saya belum sempat melalui jalan itu. Silahkan tempuh jalan lainnya.” jawab si laki laki. Mengelak.

“Tenang saja,” rayu laki laki penyewa keledai, “aku yg bakal jadi penujuk jalan.”
Keduanya pula berunding sampai pria perdana mengikuti saran pria yg menyewa keledainya.

Tidak lama sesudah itu, keduanya hingga di satu buah lokasi yg sukar dilalui. Medannya terjal & curam. Cowok pemilik keledai menonton ada sekian banyak mayat tergeletak di sana.

Tidak dinyana, pria yg menyewa keledainya turun sembari menodongkan sebilah pedang. “Turunlah serta-merta! Saya dapat membunuhmu!”

Pria pemilik keledai pula berlari sekuat kemampuannya. Beliau berikhtiar menghindar, namun sia-sia lantaran sukarnya medan yg mesti dilalui.

“Ambil saja keledai kepunyaanku.
Bebaskan saya.” papar pria pemilik keledai. Nyawanya terancam. “Pasti. Saya tak mau menyia-nyiakan keledaimu. Namun, saya pula mau membunuhmu.” Gertak si cowok. Bengis.

Tidak henti-hentinya, pria pemilik keledai ini mengemukakan nasihat. Dia serta membacakan ancaman-ancaman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an & hadits Nabi berkenaan dosa membunuh & jalankan kriminal dengan cara umum.

Di Sayangkan, laki laki itu tidak menggubris. Nafsu membunuhnya telah bulat. Tidak dapat dicegah. Mustahil diurungkan.“Jika begitu,” ucap pria pemilik keledai, “izinkanlah aku mendirikan shalat. dua rakaat saja.”

“Baiklah,” bentak pria jahat, “tapi jangan sampai lama-lama!”Qadarullah, seluruhnya hafalan pria pemilik keledai hilang. Disaat sibuk mengingat-ingat, laki laki tidak bernurani itu membentak & menyuruhnya bergegas.Hasilnya, teringatlah satu ayat oleh pria pemilik keledai ini. Dia membaca firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naml [27] ayat 62,

“Atau siapakah yg memperkenankan (doa) orang yg dalam kesusahan jika dia berdoa Kepada-Nya & yg menghilangkan kesulitan & yg menjadikan anda (manusia) sbg khalifah di bumi? Apakah tidak hanya Allah ada tuhan (lainnya)? Teramat sedikitlah anda mengingati(Nya).”

“Seketika itu pula,” papar si pria, “dari mulut lembah muncul satu orang pengendara kuda mengambil tombak. Ia melemparkan tombak serasi di dada laki laki jahat itu sampai serentak tersungkur tidak dengan bernyawa.”

“Siapakah engkau?” bertanya laki laki pemilik keledai penuh heran sekaligus haru terima kasih.

“Akulah Hamba-Nya Beliau yg memperkenankan doa orang yg dalam kesusahan bila ia berdoa Kepada-Nya, & yg menghilangkan kesulitan.”Kisah mengagumkan ini serta dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.
Wallahu a’lam.

Baca Juga:

INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA

INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA

INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA

INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA
INILAH TANGAN YANG DI CINTAI ALLAH DAN TAK AKAN DI SENTUH API NERAKA

Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika ia tidak mau mengubah nasibnya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa berdoa dan memohon kepada Allah itu penting, akan tetapi kita juga harus menyertainya dengan bekerja keras untuk menggapai tujuan tersebut.

Rasulullah memiliki sahabat pilihan yang berasal dari kaum Anshar sang penolong kaum Muhajirin. Ia adalah salah satu pemuka dari suku Thaibah yang menyambut dakwah Rasul dengan penuh suka cita bahagia.

Ia adalah manusia mulia. Ketika ia gugur sebagai syuhada’ dalam peperangan jihadnya, ruhnya terbang ke langit paling tinggi dan kemudian Rasul bersabda bahwa saat itulah Arsy ar-Rahman berguncang.

Pada suatu hari, Rasulullah memuji sahabatnya ini dengan mengatakan jika inilah tangan yang dicintai oleh Allah dan tidak akan pernah disentuh oleh api neraka.

Kisah ini berisikan cerita dari sahabat Rasul yang mulia ini. Ia adalah seseorang yang sangat tekun dalam bekerja, ia hanya makan dari apa yang dihasilkan tangannya, meskipun sebenarnya ia adalah seorang pemimpin kabilah. Inilah dalil tentang kerja keras.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Ia sangatlah rajin dalam bekerja, bukan untuk kehormatan dirinya sendiri tapi juga untuk kebutuhan keluarganya dan membiayai jihad. Karena ia bekerja keras di ladang kurma membuat tangganya menjadi berkapal, kasar dan pecah-pecah.

Karena kerja kerasnya inilah kemudian Rasulullah menyebutnya sebagai tangan yang dicintai Allah dan tidak akan pernah disentuh oleh api neraka. Apabila kita berpikir jika tangannya saja sudah mendapatkan perlindungan dari Allah lalu bagaimana dengan pemilik tangan itu, pastinya akan diperlakukan sama dengan tangannya.

Kunci dari anugerah luar biasa ini adalah kerja keras. Kita dianjurkan untuk bekerja keras dalam menggapai suatu tujuan.

Tapi perlu kita ingat jika kerja keras ini haruslah didasari dengan niat karena Allah demimenafkahi keluarga, memakmurkan diri, dan membangun kesejahteraan umat agar tidak menjadi orang yang lemah seperti orang yang enggan untuk bekerja dan memilih untuk meminta-minta.

Sungguh mulianya Islam. Meskipun kita beramal dan manfaatnya kembali pada kita, Allah sudah menghitungnya sebagai amalan dan akan memberikan ganjaran yang luar biasa. Ayat Al-Quran tentang bekerja keras menunjukkan banyaknya amalan yang bisa kita lakukan.

Apabila kita lihat generasi terbaik ini maka kita akan lihat orang-orang yang ikhlas, bekerja keras dan cerdas. Tidak ada satupun dari mereka yang lemah dan hanya meminta-minta untuk memenuhi kebutuhannya. Meskipun mereka tidak memiilki harta maka mereka sudah bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepada umat manusia karena sesunguhnya karunia Allah melebihi dari apa kata cukup.

Berdasarkan hadits tekun bekerja di atas, kita bisa tahu betapa mulianya orang yang bekerja keras. Namun kita juga harus ingat bahwa pekerjaan yang kita lakukan adalah pekerjaan yang halal. Selagi Allah memberikan usia dan tenaga bagi kita maka lebih baik jika kita bekerja, bukannya meminta-minta.

Bahkan di suatu dalil dijelaskan bahwa Allah melarang umat-Nya untuk meminta-minta karena orang yang seperti ini menunjukkan bahwa dirinya lemah dan enggan untuk berusaha.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita bisa meneladani manusia mulia ini. Janganlah menyusahkan orang lain dengan meminta-minta. Akan lebih baik jika kita berusaha dengan bekerja dan bisa memberikan manfaat pada orang lain.

INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT

INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT

INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT

INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT
INILAH 9 ORANG YANG DI IDOLAKAN MALAIKAT

1. Orang yang senang menunggu datangnya waktu shalat tiba.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)

2. Berada di shaf bagian depan di dalam shalat.

Diriwayatkan dari sahabat Barra’ bin ‘Azib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

3. Menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf waktu shalat).

Para Aimmatul Muhadditsin, yaitu Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

4. Mengucapkan Aamiin bersamaan dengan Para malaikat dalam sholat.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

5. Duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

6. Melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.

Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140)

Baca Juga: Sifat Allah

7. Mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)

8. Orang yang suka berinfak.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

9. Makan sahur untuk Berpuasa.

Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519) Demikianlah 9 Jenis Orang Yang Diidolakan Dan Selalu Didoakan Para Malaikat, Semoga kita termasuk salah satu diantaranya, Mohon sebarkan info ini pada yang lainnya, Barakallah fiik, Amiin

Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo’a

Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo'a

Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo’a

Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo'a
Ziarah Kubur, Aturan Dan Adat Berdo’a

Pengertian Ziarah Kubur

Yang di maksud dengan ziarah kubur ialah mengunjungi makam (kuburan) orang-orang Islam dengan maksud untuk mengambil pelajaran yang berkaitan dengan maut dan kehidupan di alam abadi dan mendoakannya biar dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah swt.

Hukum Ziarah Kubur

Ziarah kubur hukumnya sunnah dan dibutuhkan dengan ziarah kubur ini sanggup diambil i’ tibar dari orang yang sudah meninggal dunia, sehingga dengan demikian seseorang akan lebih sanggup mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan meninggalkan amal-amal kebaikan. Rasulullah saw. Bersabda: Artinya: “Dari Buraidah ra., Rasulullah saw. Bersabda, ‘Sungguh lampau saya sudah melarang engkau ziarah kubur, maka kini Muhammad saw. Telah diizinkan untuk berziarah ke kubur ibundanya, maka ziaralah engkau alasannya yaitu sebetulnya ziarah kubur itu mengingatkan akan diakhirat.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan At Turmudzi)

Ada yang beropini bahwa ziarah kubur bagi wanita hukumnya makruh atau bahkan haram jikalau dengan ziarah kubur itu akan menhadirkan fitanah menyerupai menangis, meratap, atau tingkah laris yang tidak senonoh. Rasulullah saw. Bersabda: Artinya: “Dari Abu Hurairah ra., sebetulnya Rasulullah saw. .Telah melaknati para wanita yang ziarah kubu (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At Turmudzi)

Baca Juga: Ayat Kursi

Adab Ziarah Kubur

a. Ketika masuk ke pintu kubur orang yang berziarah memdiberi salam kepada jago kubur dan membaca doa untuk mereka. Hadis wacana hal ini yaitu sebagai diberikut

اَلسَّلاَمُ عَلَى اَهلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَنْتُمْ لَنَا فَرْطٌ وَنَحْنُ اِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ

لاَحِقُوْنَ

Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr, minal mu’minîna wal muslimîn, antum lanâ farthun, wa nahnu insyâallâhu bikum lâhiqûn.
Artinya :
“Salam atas para penghuni kubur, mukminin dan muslimin, engkau sudah menlampaui kami, dan insya Allah kami akan menyusulmu.”
b. Berdoa memohonkan ampun bagi jago kubursebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi saw. Ketika ziarah. Nabi saw. Bersabda:
Artinya: “Ya Allah, ampunilah jago (kubur) baqi.” (HR. Muttafaq ‘Alaih

Tata cara Berdo’a

1. Mengirimkan surah Al-Fatihah dengan membaca :
إِلَىَ حَضْرَةٍ النّبِيُ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلّى اللّهُ عَلَيْـهِ وَسَلّم صَلِّ اللّه لَهُمُ الْفَاتِحَة
2. Mengirimkan surah Al-Fatihah kepada yang mau di doakan
إِلَىَ حَضْرَةٍ الرّوْحِي ……..بِنْتِ/بِنْ…….. الْفَاتِحَة
Ilaa hadhratirruhi……….(sebut namanya) binti/bin…..(sebut nama bapaknya) Alfatihah…..(bacakan Surah Al-fatihah)
3. Surah Al-ikhlas 3 kali, Al-Falaq dan An-Nas
4. Ayat Qursy
5. Surah Yassin
6. Doa
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ غُرْبَتَهُ، وَصِلْ وَحْدَتَهُ، وَاَنِسْ وَحْشَتَهُ، وَاَمِنْ رَوْعَتَهُ، وَاَسْكِنْ اِلَيْهِ مِنْ رَحْمَتِكَ
يَسْـتَغْنِي بِهَا عَنْ رَحْمَةٍ مِنْ سِوَاكَ، وَاَلْحِقْهُ بِمَنْ كَانَ يَتَوَلاَّهُ
Artinya :
“Ya Allah, kasihi keterasingannya, sambungkan kesendiriannya, hiburlah kesepiannya, tenteramkan kekhawatirannya, tenangkan ia dengan rahmat-Mu yang dengannya tidak membutuhkan kasih akung dari selain-Mu, dan susulkan ia kepada orang yang ia cintai.”
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ
Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) diberilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di daerah yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau memmembersihkankan baju yang putih dari kotoran, diberilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), diberilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.”
اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ اَنْ لاَتُعَذِّبَ هَذَا الْمَيِّتِ

“Ya Allah, saya memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad tidakbolehlah azab penghuni kubur ini.”

اَللهُمَّ اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، َاْلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ، رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Ya Allah, diberikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya itu sebagaimana dia berdua merawatku dikala saya masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, tiruana orang yang diberiman, pria maupun wanita yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah diantara kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, diberilah ampun dan belas kasihanilah alasannya yaitu Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.

Doa yang dibacakan dikala ziarah kubur pada dasarnya ialah memohonkan ampun kepada Allah swt. atas segala kesalahan dan dosa para jago kubur muslimin dan muslimat.
c. Orang yang ziarah kubur tidak duduk di atas kuburan. Hadis wacana hal ini yaitu sebagai diberikut:
Artinya: “Dari Jabir ra., Nabi saw. Telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan mendirikan bagunan di atasnya.” (HR. Ahmad dan Muslim)
d. Bagi orang yang ziarah kubur dihentikan meminta sesuatu apapun kepada kuburan, baik kuburan biasa maupun kuburan yang disebut orang sebagai kuburan keramat, alasannya yaitu yang demikian itu termasuk perbuatan syirik.

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

 

Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah
Penjelasan Mengenai Aliran Murji’ah

Aliran Murji’ah mendasarkan kepada pemikiran yang bersifat netral, yang intinya tidak mau terlibat di dalam perperihalan dan permusuhan itu. Murji’ah berasal dari kata Arja’a berarti sesuatu yang berada dibelakang. Arja’a juga berarti pengharapan atau Irja’a yang berarti menunda. Al-Baghdadi membagi golongan Murji’ah kedalam tiga golong besar, yang pertama, golongan Murji’ah yang dipengaruhi faham Qadariah, kedua, golongan Murji’ah yang dipengaruhi faham Jabariyah, ketiga, golongan Murji’ah yang dipengaruhi oleh faham Qadariyah dan Jabariyah.

Tokoh-tokoh Murji’ah

diantaranya, Hasan bin Muhammad, Sa’id bin Zubair, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan lain-lain.

Orang-orang Murji’ah selalu berusaha dalam pemikiran netral. Mereka tidak mau mempersembahkan pendapat, siapa yang bersalah dan siapa yang keluar dari Islam hingga kafir, dan tiruananya itu mereka tangguhkan penyelesaiannya pada hari perhitungan yang akan hadir dihadapan Tuhan.
Bagi golongan Murji’ah, yang diutamakan yaitu iman, sedang amal perbuatan yaitu soal kedua. Perbuatan sehabis dogma atau dengan kata lain orang yang melaksanakan dosa besar masih ada impian untuk menerima ramhat, ampunan, dan masuk kedalam surga. Golongan Yunusiah pengikut Yunus bin Ain Numairi beropini bahwa dogma itu yaitu ma’rifah kepada Allah, tunduk dan cinta secara yakin. Seseorang yang berbuat jahat dan maksiat tidaklah merusak iman.

Golongan Tsaubaniyah

pengikut Abi Tsauban al-Murji beropini bahwa dogma yaitu ma’rifah dan ikrar atas Allah dan Rasul-Nya. Bagi golongan Ghassaniah, dogma itu yaitu ikrar atau menyayangi dan memmembersihkanka. Iman tidak berkurang atau berlebih.

Bagaimanapun juga uraian diatas terkena pendapat mereka ihwal iman, rasanya susah untuk diterima kaum muslimin. melaluiataubersamaini spesialuntuk menekan keutamaannya dogma sedang amal perbuatan tidak dianggap penting dan tidak memilih tetap dalam Islam atau kufurnya seseorang, membawa konsekuensi-konsekuensi yang lebih jauh, berbahaya, dan tidak menggambarkan ajaran-ajaran islam yang sebenarnya.

Tetapi banyak juga diantara mereka berpendirian lunak dan dengan pandangan yang obyektif. Mereka menyatakan bahwa orang islam yang berdosa besar masih tetap mukmin, mereka bukanlah kafir dan tidak infinit di dalam neraka, tetapi akan di siksa di dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukan.

Baca Juga:

Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij

Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij

Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij

Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij
Penjelasan Mengenai Aliran Khawarij

Nama Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar. Semula Khawarij yaitu golongan politik yang menolak perilaku Ali bin Abi Thalib dan keluar dari golongan Ali. Golongan ini disebut juga dengan nama Haruriah, lantaran sehabis memisahkan diri dari Ali memutuskan pimpinan gres di suatu kampung yang berjulukan Harura. Meskipun Khawarij pada mulanya yaitu golongan politik, namun dalam perkembangan selajutnya ia beralih menjadi aliran kalam.

Aliran Khawarij membolehkan seorang khalifah (kepala Negara) atau Imam dipilih dari bukan golongan kaum Quraisy, boleh dari orag biasa ataupun hamba sahaya. Bagi aliran ini seorang khalifah berfungsi mewakili tiruana kepentingan rakyat dengan sifat-sifat yang adil, jujur dan menjauhi segala hal yang akan merusakannya. Khalifah juga wajib mempunyai ilmu yang luas da bersifat zuhud. Seorang khalifah yang menyimpang dari ajaran-ajaran Islam, merusak keadilan, dan kemaslahatan, wajib dieksekusi atau dibunuh. Ali ditolak semenjak Ali melaksanakan tahkim.

Golongan An-Najdat

yaitu pengikut Najdah Ibnu Amir al- Hanafi dari Yamamah. Bagi golongan ini, keimanan dan keislaman seseorang ditentukan oleh kewajiban mengimani Allah dan Rasul-Rasul-Nya, mengetahui haram hukumnya membunuh orang islam dan percaya pada seluruh yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. orang yang tidak peduli terhadap hal-hal tersebut tidak diberiman dan tidak sanggup diampuni.

Baca Juga: Rukun Iman

Golongan al-Muhakkimah

contohnya memutuskan bahwa Ali, Mu’awiyah dan tiruana pengikut yang membenarkan tahkim, tiruanaya kafir.

Golongan al-Azariqah

yaitu kelompok khawarij di bawah pimpinan Nafi Ibnu Azraq dengan pandangan yang lebih ekstrim di banding golongan-golongan lainnya. Golongan ini berpendirian bahwa orang-orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka yaitu musyrik, infinit selama-lamanya didalam neraka, walaupun ia dalam usia anak-anak. Yang tergolong diberiman yaitu mereka sendiri dan para pengikutnya, selain golongan mereka tiruananya musyrik dan harus dibunuh.

Pengikut dari Ziad ibnu Asfar disebut As-Sufriah. Golongan ini juga termasuk golongan ekstrim akan tetapi ada di antara pendirian mereka yang lunak, seperti: bawah umur orang musyrik dihentikan di bunuh, orang-orang sufiah yang tidak ikut hijrah tidak dipandang kafir, kafir bagi mereka ada dua, kufur ni’mat dan kufur rububiyah. Dari sini kafir tidak selamanya harus keluar dari islam.

Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Pengertian Agama Menurut Para Ahli
Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Para Ahli tidak sama-beda pandangan dalam mengemukakan pengertian agama, haini disebabkan lantaran sudut pandang mereka tidak sama-beda. Untuk menghindari silang pandang tersebut, agama diartikan secara mudah saja yaitu suatu keyakinan adanya aturan atau jalan hidup yang bersumber dari suatu kekuatan yang adikara (Tuhan)

Prof.Dr.Mukti Ali

menunjukan bahwa tidak ada arti atau defenisi yang paling susah selain dari pada agama. Hal itu disebabkan oleh lantaran pengalaman keagamaan itu ialah hasil yang paling sensitif atau yang dianggap berupa hal paling subyektif yang ialah soal batin. Juga kesusahan pemdiberian pengertian agama ini lantaran semangat mempersembahkan pemdiberian agama sangat berpengaruh sekali sampai membuat susah untuk mempersembahkan arti kalimat agama.

melaluiataubersamaini demikian untuk menjawaban terhadap problem yang menyangkut pengertian agama, maka didiberikan pengertian sebagai diberikut :

Baca Juga: Rukun Islam

Pertama Pengertian secara tekhnik

Religion (Bahasa Inggris) Religie (Bahasa Belanda), Din (Bahasa Arab), sedangkan bahasa Indonesia (Agama). Religion atau religie sama-sama berasal dari bahasa induk yang berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Religie to reat carefuly. Cicero menyampaikan “DE Nat” “Deorum”.

Kata agama berasal dari bahasa sangsekerta yaitu a sama dengan tidak dan gama berarti kacau. Kaprikornus agama sama dengan tidak kacau.

Sultan Muhammad Zain

mengemukakan bahwa agama ialah kepercayaan kesaktian roh nenek moyang, yang kuasa dan Tuhan. Dalam presepsi WJS Poerwantana mengemukakan bahwa agama ialah segenap kepercayaan kepada Tuhan, dewa, serta dengan kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.

Pada dasarnya pengertian agama banyak sekali, akan tetapi pada goresan pena ini spesialuntuk mempersembahkan beberapa intisari pengertian yang didiberikan oleh tokoh tersebut. Pengertian yang dimaksud ialah :
Agama ialah suatu sistem Creado (tata keimanan) atau tata keyakinan atas adanya sesuatu yang mutlak diluar manusia
Agama ialah suatu sistem ritus-ritus (tata peribadatan) insan kepada yang dianggap Yang Maha Mutlak itu
Agama ialah suatu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur insan dengan insan lainnya dan alam semesta sesuai dengan jalan atau tata keimanan dan tata peribadatan.

Secara Umum

Secara umum ditinjau dari sumber, agama sanggup dikategorikan kedalam dua golongan besar yaitu : Agama samawi atau agama langit, agama wahyu, agama profis, atau din as-sunnah atau religion. Dan kedua ialah agama budaya atau agama bumi / agama filsafat / agama rakyu / Natural religion non-revalation religin

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat
Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Ijma’

Sumber Hukum Islam yang ketiga adalah Ijma’,yakni:
“Yang dimaksud dengan Ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid di suatu zaman tentang satu permasalahan hukum yang terjadi ketika itu.” (Al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh, 44)

Dalil Ijma’

Sedangkan dalil Ijma’ adalah firman Allah SWT QS al- Nisa’ 115, sabagaimana disebutkan dalam kitab Tanqih al-Fushul Fi al-Ushul hal 82:
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam fahannam, dan Jahannam itu seburuk- buruk tempat kembali.” (al-Nisa’ 115)

Kesepakatan itu adakalanya terjadi pada saat semua mujtahid mengemukakan pendapatnya, dan ternyata pendapat mereka itu semuanya sama. Inilah yang disebut dengan Ijma Sharih. Dan adakalanya kesepakatan itu terjadi karena ada sebagian mujtahid yang mengemukakan pendapatnya sedangkan yang lain diam (tidak memberikan komentar), sehingga mereka dianggap setuju dengan pendapat yang dikemukakan mujtahid tersebut. Ijma’ seperti ini disebut dengan Ijma Sukuti. (Tim Ushul al-Fiqh, hal 23).

Contoh Ijma’

Contoh ijma’ adalah kesepakatan para sahabat tentang adzan dua kali pada hari jum’at, shalat tarawih secara berjama’ah sebulan penuh dan semacamnya.

Qiyas

Sumber Hukum Islam yang ke-empat adalah Qiyas, yakni sebagaimana dikemukakan oleh Ibn al-Hajib: “Qiyas adalah menyamakan hukum cabang (fan) kepada ashl. Cabang adalah persoalan hukum yang tidak ada ketentuan langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits, baik yang melarang atau membolehkannya. Sedangkan ashl adalah persoalan yang ada keterangan langsung dari syara’. Misalnya menyamakan keharaman ekstasi.sabu-sabu, putaw dan sejenisnya kepada keharaman khamar. Ekstasi dan sejenisnya itu disebut dengan cabang (fan) karena tidak ada nash yang menjelaskan secara langsung keharaman benda-benda tersebut. Sedangkan khamar merupakan ashl karena keharamannya dipetik langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits) karena ada (kesamaan) illat (sebab) hukumnya.” (Ushul al-Fiqh Khudhari Bik, 289)

Dalam kitab Tanqih al-Fushul fial-Ushul, hal 89, dijelaskan bahwa dalil qiyas adalah Allah SWT QS. al-Hasyr, 2:
“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang- orang yang mempunyai pandangan.” (QS. al-Hasyr, 2)

Contoh Qiyas

Contoh qiyas adalah perintah untuk meninggalkan segala jenis pekerjaan pada saat adzan jum’at dikumandangkan. Hal ini disamakan dengan perintah untuk meninggalkan jual-beli pada saat-saat tersebut, yang secara langsung dinyatakan dalam al-Qur’an, yakni firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu dipanggil untuk mengerjakan shalat pada harijum’at, maka bergegaslah kamu untuk dzikir kepada Allah (mengerjakan shalat jum’at) dan tingggalkanlah jual-beli.” (QS. al-Jumu’ah, 9)

Inilah empat dalil atau sumber sumber hukum yang dijadikan sumber hukum Islam. Karena itu seorang muslim tidak diperkenankan menghukumi sesuatu perkara tanpa berlandaskan salah satu dalil tersebut. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Syafi’i RA dalam al-Risalah:

“Seseorang tidak boleh mengatakan ini halal atau ini haram, kecuali ia telah mengetahui dalilnya. Sedangkan mengetahui dalil itu didapat dari al-Quran, al-Hadits, Ijma’ atau Qiyas.” (al-Risalah, 36)

Keempat dalil ini harus digunakan secara hirarkis (berurutan), artinya ketika memutuskan suatu persoalan hukum, maka yang pertama kali harus dilihat adalah al-Qur’an. Apabila tidak ditemukan dalam al-Qur’an, maka meneliti Hadits Nabi SAW. Jika tidak ada, maka melihat Ijma’. Dan yang terakhir adalah dengan menggunakan Qiyas.

Hirarki (urutan) ini sesuai dengan orisinalitas serta tingkatan kekuatan dalilnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Amidi dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam: “Yang asal dari dalil Syar’i adalah al-Qur’an sebab ia datang langsung dari Allah SWT sebagai musyarri’ (pembuat hukum). Sedangkan (urutan kedua) Sunnah, sebab ia berfungsi sebagai penjelas dari firman dan hukum Allah SWT dalam al-Qur’an. Dan (sesudah itu adalah) Ijma, karena Ijma selalu berpijak pada dalil al-Qur’an dan al-Sunnah. (Yang terakhir adalah) Qiyas, sebab proses Qiyas selalu berpedoman pada Nash (al-Qur’dn dan al-Sunnah) dan Ijma’. Sehingga Nash dan ijma’ merupakan asal, sedangkan Qiyas dan Istidlal (penggunaan dalil) merupakan cabang (bagian) yang selalu ikut pada yang asal.” (Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, juz I, hal 208)

Di samping itu, sebenarnya masih ada enam dalil lain yang dipergunakan oleh Imam Mujtahid. Yakni Mashlahah Mursalah (maslahah yang tidak bertentangan dengan dalil syar’i), Istihsan (menganggap baik suatu perkara), Madzhab Shahabi (pendapat para sahabat), al-‘Urf (kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syari’at), Istishhab (menetapkan hukum yang sedang terjadi saat itu sesuai dengan hukum yang sudah pernah berlaku sebelumnya) serta Syar’u Man Qablana (syari’at kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad SAW).

Namun dalil-dalil tersebut masih diperselisihkan oleh para ulama. Di antara mereka ada yang menggunakan dalil yang tidak diakui oleh yang lainnya. Imam Abu Hanifah misalnya, mengakui istihsan sebagai dalil hukum, sementara Imam Syafi’i menolak menggunakannya seraya berkata, “Barang siapa yang melakukan istihsan, berarti ia telah membuat-buat syariat baru”.

Beberapa penjelasan di atas menunjukkan bahwa yang dapat dibuat dalil dalam syari’at Islam adalah al-Qur’an, al- Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Ditambah lagi dengan beberapa dalil lain yang masih diperselisihkan para ulama. Jadi, dalil itu tidak hanya terbatas pada al-Qur’an dan Hadits saja, seperti yang sering dipahami selama ini. Tentang definisi serta cara penggunaan masing-masing dalil ini, silahkan merujuk kepada kitab-kitab Ushul al-Fiqh, misalnya Ilmu Ushul al-Fiqh karangan ‘Abdul Wahab Khallaf, Ushul al-Fiqh, karya Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh karangan Khudhari Bik dan lain sebagainya.

Demikian uraian tentang sumber hukum Islam yang di ambil dari buku Fiqh Tradisionalis karangan KH. Muhyiddin Abdusshomad. Semoga bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: 

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama
Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Sumber Hukum Islam

Sumber Hukum Islam yang pertama adalah Al Qur’an. Yang dimaksud dengan al-Qur’an adalah:
“Lafadz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dengan satu surat saja, dan merupakan ibadah apabila membacanya”. (Al-Kawkab al-Sathi’ fi Nazhm Jam’ al- Jawami’, Juz I, hal 69)

Dengan demikian, al-Qur’an adalah firman Allah (kalamullah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menggunakan bahasa Arab, dengan membawa ajaran yang benar, supaya dapat dijadikan bukti (mu’jizat) oleh Nabi Muhammad SAW atas kerasulannya, dan agar bisa dijadikan pedoman bagi orang-orang yang meyakininya, serta dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT (ibadah) bagi yang membacanya. Ia adalah kitab yang telah terkodifikasikan (tersusun) dengan dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas dan sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir (disampaikan oleh orang banyak, sehingga tidak mungkin lagi diragukan kebenarannya) dari mulut ke mulut dan dari satu generasi ke generasi yang lainnya, dan selalu dijaga oleh Allah SWT dari segala bentuk perubahan. (Tim Ushul al-Fiqh ‘Abdul Wahhab Khalldf, hal 23).

Kitab Suci Al-Qur’an

Kitab suci al-Qur’an yang biasa disebut dengan Mushhaf Ustmani (disebut mushhaf utsmani karena usaha penyusunan penghimpunan al-Qur’an baru dapat dirampungkan pada masa khalifah ‘Utsman bin ‘Affan) itu terjaga dari berbagai upaya tangan-tangan kotor yang ingin mengubah untuk menyisipkan walau hanya satu huruf. Secara keseluruhan al-Qur’an terdiri dari 6.666 ayat (pendapat yang masyhur), 114 surat dan terbagi dalam 30 juz. Hal tersebut telah diuji dengan menggunakan metode ilmiah oleh para ahli filologi (ahli tentang manuskrip) dunia.

Keterangan

DR. Muhammad Mushthafa al-A’zhami mengutip ketenrangan dari Prof. Hamidullah: Universitas Munich (Jerman) telah mendirikan dalam abad yang lalu sebuah lembaga Penelitian al-Qur’an. Sesudah beberapa generasi, tatkala direkturnya yang sekarang, Prof. Pretzell datang ke Paris pada tahun 1933, beliau menceritakan pada saya bahwa mereka telah mengumpulkan empat puluh dua (42) ribu salinan al- Qur’an dari salinan yang berbeda, sebagian lengkap, sebagian lainnya berupa fragmen-fragmen, sebagian asli, kebanyakan foto-foto yang asli dari segala penjuru dunia. Pekerjaan secara terus menerus membandingkan setiap kata dari setiap salinan al-Qur’an itu untuk mengetahui apakah ada variasinya (perbedaannya). Tak lama sebelum Perang Dunia Kedua, sebuah laporan awal dan percobaan diterbitkan, sehingga tentu saja menyalin kekeliruan dalam naskah al-Qur’an, tetapi ternyata tidak terdapat variasinya (tidak ada yang berbeda). Selama perang berlangsung, lembaga ini kena bom dan semuanya binasa, direktur, personalia, dan perpustakaan. (Mu’jizat al-Qur’an, 57)

Ini merupakan bukti bahwa al-Qur’an benar-benar otentik, sehingga semakin mantap iman kita bahwa al-Qur’an adalah kitab suci sebagai pedoman hidup manusia beriman.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Sumber Kedua Hukum Islam

Sumber Kedua Hukum Islam

Sumber Kedua Hukum Islam

Sumber Kedua Hukum Islam
Sumber Kedua Hukum Islam

 

As-Sunnah

Sumber Hukum Islam yang kedua adalah al-Sunnah. Yang dimaksud al-Sunnah adalah:
“Yakni segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi S AW, baik berupa perbuatan, ucapan serta pengakuan Nabi Muhammad SAW. (Al-Manhal al-Lathif fi Ushul al-Hadits al-Syarif, 51)

Karena itu sunnah terbagi menjadi tiga. Pertama, semua ucapan Nabi SAW yang menerangkan tentang suatu hukum, seperti perintah Nabi SAW untuk berpuasa Ramadhan apabila telah melihat bulan (ru’yah). Hal ini disebut dengan Sunnah Qawliyyah. Kedua, Sunnah Filiyyah yakni segala sesuatu yang diperbuat Nabi Muhammad SAW, seperti tata cara shalat yang beliau kerjakan. Ketiga, Sunnah Taqririyyah yakni pengakuan Nabi SAW atas apa yang diperbuat oleh para sahabat. Contohnya adalah pengakuan Nabi Muhammad SAW pada seorang sahabat yang bertayammum karena tidak ada air. (Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, hal, 105)

Kitab-kitab yang mencatat al-Sunnah itu banyak sekali. Namun tidak semua dapat dijadikan pedoman dan standar untuk mengetahui Hadits Nabi SAW. Karena tidak jarang, ada sebagian kitab yang memuat Hadits-hadits yang kurang memenuhi standar transmisi (proses penyampaian) Hadits. Karena itu, ulama membuat tingkatan kitab Hadits sesuai dengan kualitas Hadits yang terdapat di dalamnya.

Para ulama membagi kitab-kitab Hadits pada tiga tingkatan besar.

Tingkatan Pertama

Tingkatan pertama adalah kitab-kitab yang di dalamnya hanya memuat Hadits Mutawatir, Hadits Shahih yang ahad (tidak sampai tingkatan mutawatir, karena diriwayatkan oleh sedikit orang), serta Hadits Hasan. Misalnya Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab al-Muwaththa karangan Imam Malik.

Tingkatan Kedua

Tingkatan kedua adalah kitab-kitab yang berisi Hadits-hadits yang tidak sampai kepada tingkatan pertama, yaitu kitab- kitab yang ditulis oleh orang-orang yang diyakini tidak mudah memasukkan sembarang Hadits dalam kitab-kitab mereka, namun masih ada kemungkinan Hadist yang mereka tulis masuk pada kategori Dha’if. Misalnya adalah Jami al-Tirmidzi, Sunan AbiDawud, Musnad Ahmad bin Hanbal dan Mujtabd al-Nasai.

Tingkatan Ketiga

Tingkatan ketiga, adalah kitab-kitab yang banyak memuat Hadits Dha’if, namun kebanyakan para perawinya tidak diketahui keadaannya, apakah tergolong fasiq atau tidak. Contoh untuk golongan ketiga ini adalah Mushannaf lbn Abi Syaibah, Musnad al-Thayalisi, Musnad’Abd bin Humaid, Sunan al-Baihaqi, al-Thabarani, al-Thahawi dan Mushannaf ‘Abdurrazaq.

Dan yang terakhir, tingkatan keempat adalah kitab-kitab yang banyak mengandung Hadits Dhaif’, seperti Kitab Hadits karya Ibn Mardawaih, Ibn Syahin, Abu al-Syaikh dan lain-lain. Jenis keempat ini tidak dapat dijadikan pedoman, karena keb any akan sumber mereka adalah orang-orang yang kurang dapat dipercaya, karena selalu mengedepankan hawa nafsunya. (‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuh, 116-117)

Banyak usaha dari orang-orang tertentu untuk melemahkan keimanan umat Islam pada sunnah Nabi SAW. Tetapi usaha tersebut tidak menampakkan hasil dan menuai kegagalan. Para ulama zaman dahulu sudah memberikan pagar-pagar beton yang kokoh dan tak mungkin bisa dijebol oleh siapapun juga. Al-Sunnah telah dilengkapi dengan berbagai perangkat ilmu seperti Musthalah al-Hadits,’Ulum al-Rijal, al-Jarh wa al-Ta’dil, ‘Ulum Naqd al-Matn dan sebagainya. Ini merupakan salah satu kelebihan Hadits Nabi SAW yang tidak dimiliki oleh ilmu-ilmu yang lain.

Ketika Goldziher ( seorang orientalis orang barat yang mempelajari budaya ketimuran, termasuk budaya Islam) yang selalu menyebarkan virus untuk menghancurkan iman umat Islam. Dalam bukunya itu, Goldziher mengajak umat Islam untuk meragukan validitas (kebenaran) dan keotentikan (keaslian) hadits Nabi SAW. la mengatakan bahwa hadits Nabi SAW tidak dapat diyakini kebenarannya karena generasi yang hidup pada abad ke dua Hijrah sangat tergantung pada tulisan, maka sangat sulit bagi mereka untuk dapat menghafalkan hadits. Selain itu, al-Sunnah telah cacat karena diriwayatkan oleh orang- orang yang berhati bejat, yang meriwayatkan hadits “sesuai pesanan” dan hanya mengikuti hawa nafsu semata. Lihat. DR. Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hacfits Wa Mushthalahuh, hal, 4) dalam bukunya yang berbahasa Jerman Muhammedanische Studien mencoba mengacak teori Ilmu Hadits yang sudah baku, maka kemudian hadirlah DR. Muhammad Mushthafa al-Avzhami, dengan sebuah disertasinya untuk membela kebenaran Hadits secara ilmiyah, yang berjudul Dirasah fi al-Hadits al-Nabawi Wa Tarikh Tadiwinihi, yang dipertahankan di hadapan para pakar ilmu ke-Islaman orientalis di Universitas Cambridge pada tahun 1966, di antaranya Prof. A.J. Arberry. Dengan demikian runtuhlah upaya Goldziher dan para koleganya tersebut.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/