Biografi Imam Abu Hanifah (80-150 H/696-767 M)

Biografi Imam Abu Hanifah (80-150 H/696-767 M)

Biografi Imam Abu Hanifah (80-150 H/696-767 M)

Biografi Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah lahir pada tahun 80 H di sebuah desa di bawah pemerintahan Abdullah bin Marwan di kota Kufah Irak. Nama asli beliau adalah Nu’man bin Tsabit. Tetapi lebih dikenal dengan Abu Hanifah yang berasal dari kata Abu al-Millah al-Hanifah diambil dari potongan ayat Al-Qur’an:
Artinya : . . Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus (Q.S Ali-Imran : 95).

Kakek dan ayahnya pernah didoakan oleh Imam Ali agar mendapatkan keturunan yang diberkahi Allah. Sewaktu kecil beliau menghafal Al-Qur’an, kemudian berguru kepada Imam Ashim salah seorang Imam Qiro’ah Sab’ah. Keluarganya adalah keluarga pedagang khususnya Ayah, dan Ibunya kurang begitu terkenal dari para ahli sejarah, namun Abu Hanifah sangat menghormati dan taat kepadanya. Dengan latar belakang keluarga pedagang, maka tidak heran ia juga menjadi pedagang, sampai suatu waktu beliau bertemu Al-Sya’bi salah seorang ulama besar di Kufah dan terjadilah dialog sebagai berikut :
Al-Sya’bi : “Kau mau ke mana?”
Abu Hanifah : “Saya mau ke pasar”
Al-Sya’bi : “Jangan hanya pergi ke pasar saja pergilah ke ulama”
Abu Hanifah : “Memang saya jarang-jarang pergi ke ulama”
Al-Sya’bi : “Jangan begitu. Kau harus memperdalam ilmu dan menghadiri pengajian-
pengajian yang diberikan para ulama, karena saya melihat kau mempunyai potensi yang besar di bidang ilmu”
Abu Hanifah : “Nasihat Al-Sya’bi ini menyentuh hatiku, maka saya meninggalkan
kesibukan di pasar dan mulai menuntut ilmu”
Dalam cerita lain Abu Hanifah mewakilkan aktivitas perdagangannya kepada orang lain.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/sholat-rawatib/

Kedudukan Mazhab Abu Hanifah

Ada beberapa pendapat dari orang Islam tentang kedudukan mazhab ini. Sebagian menganggap madzhab Abu Hanifah adalah satu madzhab yang baru yang lain dari madzhab-madzhab yang lain. Ada juga yang merendahkan madzhab dengan ucapan bahwa Abu Hanifah belum sampai pada taraf atau pangkat berijtihad tentang hukum bahkan dianggap hanya sebagai pengikut yang lain saja.
Pendapat para orientalis seperti Juimble dari Inggris serta Edward Sakhau dan Gold Tasihar mengakui pendapat Abu Hanifah dan berkata, bahwa Abu Hanifah ialah pemimpin para ahli pikir dan beliau telah mengkaji kaidah ilmu fiqih dengan sempurna dan di zamannya lahir satu pengenalan cara atau sistem ilmu fiqih yang berdasarkan pada ilmu qiyas. Seperti yang kita ketahui dari awal bahwa suasana kehidupan di Irak yang penuh dengan bermacam-macam madzhab, hidup kemewahan, maka tidak heran bila lahir gagasan yang menyatukan hidup modern dan nas-nas agama.
Kemudian tentang nasihat-nasihat Abu Hanifah, ada banyak sekali, contohnya tentang mencari ilmu pengetahuan, yaitu :
1. Menuntut ilmu di samping mencari harta, melumpuhkan dari kegiatan dalam pelajaran karena akan senantiasa sibuk dengan kekayaan dunia.
2. Jangan menikah sebelum berilmu karena ini bisa merugikan dirimu dan sudah tentu akan mendapatkan anak-anak yang akan diberi nafkah.
3. Tuntutlah ilmu sewaktu mudamu dengan pikiran tenang dan lapang dada.
4. Bertaqwalah kepada Allah dan menjaga amanah dan berilah nasihat kepada siapapun.
5. Hormatilah sesama manusia serta jangan menyombongkan diri karena berilmu tinggi, dll.
Yang menonjol dari fiqih Imam Abu Hanifah ini antara lain adalah :
1. Sangat Rasional, mementingkan maslahat dan manfaat.
2. Lebih mudah dipahami daripada madzhab yang lain.
3. Lebih liberal sikapnya terhadap dzimis (warga Negara yang non muslim).
Hal ini bisa dipahami karena cara istinbat Abu Hanifah selalu memikirkan dan memerhatikan apa yang ada di belakang nash yang tersurat yaitu illat-illat dan maksud-maksud hukum. Sedang bila masalah yang tidak ada nash-nya beliau menggunakan qiyas, istihsan, dan urf. Meskipun beliau ulama besar, ia tidak merasa memonopoli kebenaran, hal itu terbukti dari pernyataannya :
“Saya mengambil pendapat ini, karena pendapat ini benar, tapi mengandung kemungkinan salah. Dan saya tidak mengambil pendapat itu, karena pendapat itu salah, tapi mengandung kemungkinan benar”.
Seorang penyair pernah berkata : “Alangkah baiknya jika agama dan dunia disatukan”
Artinya : “Jika pekerjaan di dunia disamakan dengan ibadah untuk akhirat. Sebenarnya Abu Hanifah bukan menyamakan agama dan dunia saja tetapi beliau samakan juga antara tiga perkara. Justru itu seorang itu lebih mulia dan besar, menyamakan (kombinasi) antara mencari kekayaan dan kesenangan, menyamakan antara menuntut ilmu dan fiqih dan menyamakan antara ibadah dan taqwa kepada Allah”.

Abu Hanifah Meninggal Dunia

Beliau meninggal pada bulan Rajab tahun 150 H. Imam An-Nawawi berpendapat bahwa beliau meninggal dunia ketika dalam tahanan. Sungguh banyak orang awam yang mengiringi jenazahnya, diperkirakan ribuan bahkan lebih kurang 5000 orang yang menyalatkan jenazahnya. Ada juga yang berpendapat 50.000 orang dalam mengiringi jenazahnya termasuk Abu Ja’far Al-Mansur sebagai penguasa negeri masa itu yang telah menahan Abu Hanifah semasa hidupnya.
Jenazah Abu Hanifah dikebumikan di makam pekuburan ‘Al-Khaizaran’ di timur kota Baghdad. Ibnu Jarir merasa sedih tatkala mendengar kematian Abu Hanifah dan berkata : “Ilmu sudah hilang”.