Aksi Bullying Jangan Jadi Momok Menakutkan Bagi Mahasiswa Baru

Aksi Bullying Jangan Jadi Momok Menakutkan Bagi Mahasiswa Baru

Aksi Bullying Jangan Jadi Momok Menakutkan Bagi Mahasiswa Baru

Aksi Bullying Jangan Jadi Momok Menakutkan Bagi Mahasiswa Baru
Aksi Bullying Jangan Jadi Momok Menakutkan Bagi Mahasiswa Baru

Aksi bullying ternyata belum tuntas di tingkat sekolah dasar hingga menengah. Anak muda berstatus mahasiswa saja tidak memiliki etika dan rasa empati terhadap sesama hingga tega melakukan bullying terhadap teman-temannya. Apalagi yang dibully, adalah korban yang memiliki karakter pendiam, lemah, atau minoritas.

Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya A

Prasetyantoko mengaku prihatin dengan aksi bullying yang masih terjadi di lingkungan kampus. Apalagi di tahun ajaran perkuliahan semester baru nanti pada bulan Agustus 2017, pihaknya berupaya memberantas dan mencegah aksi bullying yang bisa saja dialami mahasiswa baru.

“Penanaman semangat kebersamaan dan empati di antara mahasiswa itu penting. Esensi bullying dan kekerasan itu karena empati tak muncul. Kami lakukan penanaman persoalan empati mulai hari pertama kuliah dalam program pengenalan kampus,” tegasnya kepada wartawan dalam pembukaan Kampus III Unika Atma Jaya di BSD City, Serpong, Selasa (25/7).

Dia mencontohkan berbagai program dan pendekatan antibullying di kampusnya dilakukan dengan mengutamakan pendidikan karakter (capacity building). Para mahasiswa diajak untuk merefleksi diri sepanjang berkuliah di Atma Jaya.

“Sepanjang kurun waktu kuliah di Atma Jaya. Misalnya

ada Student Learning Service, ada pelayanan dan pendampingan. Komunikasi intensif dengan mahasiswa. Metode lain dengan pembimbing akademik. Mahasiswa punya PA untuk bercerita di luar akademik,” paparnya.

Soal keterlibatan senior dalam pengenalan lingkungan kampus, Prasetyantoko menegaskan hal itu tidak dilakukan terlampau jauh. Segala bentuk pengenalan merupakan tanggung jawab penuh rektor dan diketahui jajaran rektorat.

“Keterlibatan senior itu jadi isu penting, kami lakukan

juga pendekatan alumni. Komunikasi dengan alumni intensif bagian dari aset kami membantu para mahasiswa. Senior terlibat secara sistematik hanya memberikan sosialisasi dan modul-modul, bukan dengan kekerasan,” jelasnya.

 

Baca Juga :