Penguatan Pendidikan Vokasi di Papua

Penguatan Pendidikan Vokasi di Papua

Penguatan Pendidikan Vokasi di Papua

Penguatan Pendidikan Vokasi di Papua
Penguatan Pendidikan Vokasi di Papua

Depok, Kemendikbud — Sejalan dengan tujuan mencetak angkatan kerja terampil

kelas menengah, pemerintah fokus membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di berbagai daerah, salah satunya di Provinsi Papua. Pembangunan SMK di Papua disesuaikan dengan kebutuhan masyarakatnya. Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Yulianus Kuayo mengatakan, Pemerintah Provinsi Papua berharap di tahun 2030 lulusan SMK di Papua bisa terserap ke dunia industri dengan cara menciptakan lapangan kerja sesuai potensi keunggulan Provinsi Papua.

Ia menuturkan, Dinas Pendidikan Provinsi Papua ikut serta dalam penguatan

pendidikan vokasi yang sedang dilakukan pemerintah melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga. Menurut Kuayo, setiap tahun hampir 1.000 guru dilatih oleh Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Papua, bekerja sama dengan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Universitas Cenderawasih, serta mitra internasional (NGO) seperti UNICEF.

Terkait dengan komitmen Kemendikbud untuk memperluas akses pendidikan, hal ini dirasakan betul di Papua, bahwa akses persebaran satuan pendidikan telah mengalami peningkatan. “Setiap tahun ada penambahan sekolah baru baik PAUD, TK, SD, SM maupun SMK/SMK,” katanya saat ditemui di sela-sela kegiatan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2018, di Sawangan, Depok, Jawa Barat, Senin (5/2/2018).

Sementara ketika ditanya harapannya tentang pelaksanaan pendidikan di Provinsi Papua

, Kuayo menuturkan, perlu ada kajian khusus jika membahas masalah pendidikan di Papua, seperti masalah guru, pengelolaan sekolah, dan kurikulum. “Masing-masing wilayah memiliki keunggulan sumber daya alam, maka segala bentuk kebijakan harus disesuaikan dengan pendekatan antropologi lima wilayah adat masyarakat Papua. (Denty Anugrahmawaty/Desliana Maulipaksi)

 

Baca Juga :

Ini Kata Mendikbud tentang Media Sosial

Ini Kata Mendikbud tentang Media Sosial

Ini Kata Mendikbud tentang Media Sosial

Ini Kata Mendikbud tentang Media Sosial
Ini Kata Mendikbud tentang Media Sosial

Kemendikbud — Dalam pelantikan pejabat di lingkungan Kementerian Pendidikan

dan Kebudayaan, Mendikbud Muhadjir Effendy menyinggung tentang keberadaan media sosial (medsos). Ia menyambut baik penggunaan media sosial secara positif di kalangan pejabat maupun pegawai Kemendikbud. Menurutnya, para pejabat yang dilantik mungkin merupakan orang yang aktif menggunakan media sosial.

“Saya tidak melarang (pegawai) bermedia sosial, asal jangan waktu kerja,” katanya saat pelantikan pejabat di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, Jumat (2/1/2018).

Mendikbud mengaku sering mendapat laporan dari media sosial mengenai kondisi

pendidikan dan kebudayaan. Bahkan melalui sebuah aplikasi percakapan di ponsel pintar, ia kerap menerima pertanyaan dari wartawan maupun menerima saran dan kritik dari masyarakat.

“Saya kira sekarang sudah sangat terbuka, sehingga menteri pun bisa di-whatsapp setiap saat. Sudah jadi tugas menteri untuk mendengarkan semuanya,” tuturnya.

Ia mengaku senang mendapat masukan dan laporan dari mayarakat melalui media sosial. “Kita menghargai masukan yang tulus dan nyata diniatkan untuk membangun pendidikan,” ujar Guru Besar Universitas Negeri Malang itu.

Sehari sebelumnya, Kamis (15/2/2018), Mendikbud menerima kunjungan dari seorang anak muda

pegiat media sosial, Bayu Skak. Dalam pertemuan tersebut, Mendikbud mengungkapkan pendapatnya tentang media sosial. Ia menuturkan, saat ini media sosial menjadi suatu tren. Setiap ikon publik atau tokoh publik yang memiliki banyak pengikut (followers) di media sosial, memiliki dampak besar pula di media sosial.

“Oleh karena itu setiap tindakan kita di media sosial harus bijak juga. Karena sebagai ikon publik yang punya massa, kita turut berperan penting. Harus berhati-hati dalam berbicara, jangan sampai menyebarkan hoaks,” ujar Mendikbud. (Desliana Maulipaksi)

 

Sumber :

https://www.kaskus.co.id/thread/5d2e2d6f018e0d73cd7336bf/

Kunjungi SMAN 8 Malang, Mendikbud Ajak Komite Sekolah Aktif Majukan Sekolah

Kunjungi SMAN 8 Malang, Mendikbud Ajak Komite Sekolah Aktif Majukan Sekolah

Kunjungi SMAN 8 Malang, Mendikbud Ajak Komite Sekolah Aktif Majukan Sekolah

Kunjungi SMAN 8 Malang, Mendikbud Ajak Komite Sekolah Aktif Majukan Sekolah
Kunjungi SMAN 8 Malang, Mendikbud Ajak Komite Sekolah Aktif Majukan Sekolah

Malang, Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy

mengunjungi SMA Negeri 8 Malang untuk meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Kapasitas 15.36 KWP-ON-GRID serta Laboratorium Pembelajaran Energi di Malang, Jawa Timur (30/1/2018). Dalam sambutannya, Mendikbud mengajak komite sekolah untuk aktif memajukan sekolah.

“Pendidikan tidak mungkin ditangani oleh satu pihak, semuanya harus terlibat, termasuk komite sekolah, termasuk alumni,” tutur Muhadjir.

Ia mengingatkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)

telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 75 Tahun 2017 tentang Komite Sekolah. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa sekolah diberikan hak untuk menggali dana untuk mengembangkan sekolah.

Menteri Muhadjir menjelaskan bahwa untuk memajukan sebuah sekolah

, tidak dapat dicapai jika hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). menurutnya BOS merupakan dana untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang diberikan oleh pemerintah agar sebuah sekolah bisa bertahan. Karenanya jika ingin memajukan sekolah, komite sekolah harus bisa kreatif menggali potensi dengan melakukan kerja sama dengan pihak lain, seperti Corporate Social Responsibility (CSR) maupun dengan para alumni.

Mendikbud mencontohkan Nur Pamudji. Alumni dari SMAN 8 Malang dan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) periode 2011-2014 ini menjadi inisiator dalam kerja sama pembangunan PLTS dan laboratorium pembelajaran energi di sekolah tersebut. Muhadjir berharap hal ini bisa dijadikan motivasi bagi sekolah lain.

Ia pun menyampaikan, jika ada kepala daerah yang menjanjikan sekolah gratis, namun biayanya dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), maka itu berarti sekolah dibiayai oleh rakyat melalui APBD. Karenanya pada dasarnya tidak ada sekolah gratis sehingga komite sekolah diajak untuk turut aktif demi memajukan pendidikan. (Aji Shahwin).

 

Sumber :

http://ejournal.upi.edu/index.php/WapFi/comment/view/15816/0/115984

 

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat
Sumber Hukum Islam Yang Ketiga dan Keempat

Ijma’

Sumber Hukum Islam yang ketiga adalah Ijma’,yakni:
“Yang dimaksud dengan Ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid di suatu zaman tentang satu permasalahan hukum yang terjadi ketika itu.” (Al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh, 44)

Dalil Ijma’

Sedangkan dalil Ijma’ adalah firman Allah SWT QS al- Nisa’ 115, sabagaimana disebutkan dalam kitab Tanqih al-Fushul Fi al-Ushul hal 82:
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam fahannam, dan Jahannam itu seburuk- buruk tempat kembali.” (al-Nisa’ 115)

Kesepakatan itu adakalanya terjadi pada saat semua mujtahid mengemukakan pendapatnya, dan ternyata pendapat mereka itu semuanya sama. Inilah yang disebut dengan Ijma Sharih. Dan adakalanya kesepakatan itu terjadi karena ada sebagian mujtahid yang mengemukakan pendapatnya sedangkan yang lain diam (tidak memberikan komentar), sehingga mereka dianggap setuju dengan pendapat yang dikemukakan mujtahid tersebut. Ijma’ seperti ini disebut dengan Ijma Sukuti. (Tim Ushul al-Fiqh, hal 23).

Contoh Ijma’

Contoh ijma’ adalah kesepakatan para sahabat tentang adzan dua kali pada hari jum’at, shalat tarawih secara berjama’ah sebulan penuh dan semacamnya.

Qiyas

Sumber Hukum Islam yang ke-empat adalah Qiyas, yakni sebagaimana dikemukakan oleh Ibn al-Hajib: “Qiyas adalah menyamakan hukum cabang (fan) kepada ashl. Cabang adalah persoalan hukum yang tidak ada ketentuan langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits, baik yang melarang atau membolehkannya. Sedangkan ashl adalah persoalan yang ada keterangan langsung dari syara’. Misalnya menyamakan keharaman ekstasi.sabu-sabu, putaw dan sejenisnya kepada keharaman khamar. Ekstasi dan sejenisnya itu disebut dengan cabang (fan) karena tidak ada nash yang menjelaskan secara langsung keharaman benda-benda tersebut. Sedangkan khamar merupakan ashl karena keharamannya dipetik langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits) karena ada (kesamaan) illat (sebab) hukumnya.” (Ushul al-Fiqh Khudhari Bik, 289)

Dalam kitab Tanqih al-Fushul fial-Ushul, hal 89, dijelaskan bahwa dalil qiyas adalah Allah SWT QS. al-Hasyr, 2:
“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang- orang yang mempunyai pandangan.” (QS. al-Hasyr, 2)

Contoh Qiyas

Contoh qiyas adalah perintah untuk meninggalkan segala jenis pekerjaan pada saat adzan jum’at dikumandangkan. Hal ini disamakan dengan perintah untuk meninggalkan jual-beli pada saat-saat tersebut, yang secara langsung dinyatakan dalam al-Qur’an, yakni firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu dipanggil untuk mengerjakan shalat pada harijum’at, maka bergegaslah kamu untuk dzikir kepada Allah (mengerjakan shalat jum’at) dan tingggalkanlah jual-beli.” (QS. al-Jumu’ah, 9)

Inilah empat dalil atau sumber sumber hukum yang dijadikan sumber hukum Islam. Karena itu seorang muslim tidak diperkenankan menghukumi sesuatu perkara tanpa berlandaskan salah satu dalil tersebut. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Syafi’i RA dalam al-Risalah:

“Seseorang tidak boleh mengatakan ini halal atau ini haram, kecuali ia telah mengetahui dalilnya. Sedangkan mengetahui dalil itu didapat dari al-Quran, al-Hadits, Ijma’ atau Qiyas.” (al-Risalah, 36)

Keempat dalil ini harus digunakan secara hirarkis (berurutan), artinya ketika memutuskan suatu persoalan hukum, maka yang pertama kali harus dilihat adalah al-Qur’an. Apabila tidak ditemukan dalam al-Qur’an, maka meneliti Hadits Nabi SAW. Jika tidak ada, maka melihat Ijma’. Dan yang terakhir adalah dengan menggunakan Qiyas.

Hirarki (urutan) ini sesuai dengan orisinalitas serta tingkatan kekuatan dalilnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Amidi dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam: “Yang asal dari dalil Syar’i adalah al-Qur’an sebab ia datang langsung dari Allah SWT sebagai musyarri’ (pembuat hukum). Sedangkan (urutan kedua) Sunnah, sebab ia berfungsi sebagai penjelas dari firman dan hukum Allah SWT dalam al-Qur’an. Dan (sesudah itu adalah) Ijma, karena Ijma selalu berpijak pada dalil al-Qur’an dan al-Sunnah. (Yang terakhir adalah) Qiyas, sebab proses Qiyas selalu berpedoman pada Nash (al-Qur’dn dan al-Sunnah) dan Ijma’. Sehingga Nash dan ijma’ merupakan asal, sedangkan Qiyas dan Istidlal (penggunaan dalil) merupakan cabang (bagian) yang selalu ikut pada yang asal.” (Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, juz I, hal 208)

Di samping itu, sebenarnya masih ada enam dalil lain yang dipergunakan oleh Imam Mujtahid. Yakni Mashlahah Mursalah (maslahah yang tidak bertentangan dengan dalil syar’i), Istihsan (menganggap baik suatu perkara), Madzhab Shahabi (pendapat para sahabat), al-‘Urf (kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syari’at), Istishhab (menetapkan hukum yang sedang terjadi saat itu sesuai dengan hukum yang sudah pernah berlaku sebelumnya) serta Syar’u Man Qablana (syari’at kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad SAW).

Namun dalil-dalil tersebut masih diperselisihkan oleh para ulama. Di antara mereka ada yang menggunakan dalil yang tidak diakui oleh yang lainnya. Imam Abu Hanifah misalnya, mengakui istihsan sebagai dalil hukum, sementara Imam Syafi’i menolak menggunakannya seraya berkata, “Barang siapa yang melakukan istihsan, berarti ia telah membuat-buat syariat baru”.

Beberapa penjelasan di atas menunjukkan bahwa yang dapat dibuat dalil dalam syari’at Islam adalah al-Qur’an, al- Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Ditambah lagi dengan beberapa dalil lain yang masih diperselisihkan para ulama. Jadi, dalil itu tidak hanya terbatas pada al-Qur’an dan Hadits saja, seperti yang sering dipahami selama ini. Tentang definisi serta cara penggunaan masing-masing dalil ini, silahkan merujuk kepada kitab-kitab Ushul al-Fiqh, misalnya Ilmu Ushul al-Fiqh karangan ‘Abdul Wahab Khallaf, Ushul al-Fiqh, karya Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh karangan Khudhari Bik dan lain sebagainya.

Demikian uraian tentang sumber hukum Islam yang di ambil dari buku Fiqh Tradisionalis karangan KH. Muhyiddin Abdusshomad. Semoga bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: 

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama
Penjelasan Sumber Hukum Islam Yang Pertama

Sumber Hukum Islam

Sumber Hukum Islam yang pertama adalah Al Qur’an. Yang dimaksud dengan al-Qur’an adalah:
“Lafadz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dengan satu surat saja, dan merupakan ibadah apabila membacanya”. (Al-Kawkab al-Sathi’ fi Nazhm Jam’ al- Jawami’, Juz I, hal 69)

Dengan demikian, al-Qur’an adalah firman Allah (kalamullah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menggunakan bahasa Arab, dengan membawa ajaran yang benar, supaya dapat dijadikan bukti (mu’jizat) oleh Nabi Muhammad SAW atas kerasulannya, dan agar bisa dijadikan pedoman bagi orang-orang yang meyakininya, serta dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT (ibadah) bagi yang membacanya. Ia adalah kitab yang telah terkodifikasikan (tersusun) dengan dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas dan sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir (disampaikan oleh orang banyak, sehingga tidak mungkin lagi diragukan kebenarannya) dari mulut ke mulut dan dari satu generasi ke generasi yang lainnya, dan selalu dijaga oleh Allah SWT dari segala bentuk perubahan. (Tim Ushul al-Fiqh ‘Abdul Wahhab Khalldf, hal 23).

Kitab Suci Al-Qur’an

Kitab suci al-Qur’an yang biasa disebut dengan Mushhaf Ustmani (disebut mushhaf utsmani karena usaha penyusunan penghimpunan al-Qur’an baru dapat dirampungkan pada masa khalifah ‘Utsman bin ‘Affan) itu terjaga dari berbagai upaya tangan-tangan kotor yang ingin mengubah untuk menyisipkan walau hanya satu huruf. Secara keseluruhan al-Qur’an terdiri dari 6.666 ayat (pendapat yang masyhur), 114 surat dan terbagi dalam 30 juz. Hal tersebut telah diuji dengan menggunakan metode ilmiah oleh para ahli filologi (ahli tentang manuskrip) dunia.

Keterangan

DR. Muhammad Mushthafa al-A’zhami mengutip ketenrangan dari Prof. Hamidullah: Universitas Munich (Jerman) telah mendirikan dalam abad yang lalu sebuah lembaga Penelitian al-Qur’an. Sesudah beberapa generasi, tatkala direkturnya yang sekarang, Prof. Pretzell datang ke Paris pada tahun 1933, beliau menceritakan pada saya bahwa mereka telah mengumpulkan empat puluh dua (42) ribu salinan al- Qur’an dari salinan yang berbeda, sebagian lengkap, sebagian lainnya berupa fragmen-fragmen, sebagian asli, kebanyakan foto-foto yang asli dari segala penjuru dunia. Pekerjaan secara terus menerus membandingkan setiap kata dari setiap salinan al-Qur’an itu untuk mengetahui apakah ada variasinya (perbedaannya). Tak lama sebelum Perang Dunia Kedua, sebuah laporan awal dan percobaan diterbitkan, sehingga tentu saja menyalin kekeliruan dalam naskah al-Qur’an, tetapi ternyata tidak terdapat variasinya (tidak ada yang berbeda). Selama perang berlangsung, lembaga ini kena bom dan semuanya binasa, direktur, personalia, dan perpustakaan. (Mu’jizat al-Qur’an, 57)

Ini merupakan bukti bahwa al-Qur’an benar-benar otentik, sehingga semakin mantap iman kita bahwa al-Qur’an adalah kitab suci sebagai pedoman hidup manusia beriman.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Sumber Kedua Hukum Islam

Sumber Kedua Hukum Islam

Sumber Kedua Hukum Islam

Sumber Kedua Hukum Islam
Sumber Kedua Hukum Islam

 

As-Sunnah

Sumber Hukum Islam yang kedua adalah al-Sunnah. Yang dimaksud al-Sunnah adalah:
“Yakni segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi S AW, baik berupa perbuatan, ucapan serta pengakuan Nabi Muhammad SAW. (Al-Manhal al-Lathif fi Ushul al-Hadits al-Syarif, 51)

Karena itu sunnah terbagi menjadi tiga. Pertama, semua ucapan Nabi SAW yang menerangkan tentang suatu hukum, seperti perintah Nabi SAW untuk berpuasa Ramadhan apabila telah melihat bulan (ru’yah). Hal ini disebut dengan Sunnah Qawliyyah. Kedua, Sunnah Filiyyah yakni segala sesuatu yang diperbuat Nabi Muhammad SAW, seperti tata cara shalat yang beliau kerjakan. Ketiga, Sunnah Taqririyyah yakni pengakuan Nabi SAW atas apa yang diperbuat oleh para sahabat. Contohnya adalah pengakuan Nabi Muhammad SAW pada seorang sahabat yang bertayammum karena tidak ada air. (Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, hal, 105)

Kitab-kitab yang mencatat al-Sunnah itu banyak sekali. Namun tidak semua dapat dijadikan pedoman dan standar untuk mengetahui Hadits Nabi SAW. Karena tidak jarang, ada sebagian kitab yang memuat Hadits-hadits yang kurang memenuhi standar transmisi (proses penyampaian) Hadits. Karena itu, ulama membuat tingkatan kitab Hadits sesuai dengan kualitas Hadits yang terdapat di dalamnya.

Para ulama membagi kitab-kitab Hadits pada tiga tingkatan besar.

Tingkatan Pertama

Tingkatan pertama adalah kitab-kitab yang di dalamnya hanya memuat Hadits Mutawatir, Hadits Shahih yang ahad (tidak sampai tingkatan mutawatir, karena diriwayatkan oleh sedikit orang), serta Hadits Hasan. Misalnya Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab al-Muwaththa karangan Imam Malik.

Tingkatan Kedua

Tingkatan kedua adalah kitab-kitab yang berisi Hadits-hadits yang tidak sampai kepada tingkatan pertama, yaitu kitab- kitab yang ditulis oleh orang-orang yang diyakini tidak mudah memasukkan sembarang Hadits dalam kitab-kitab mereka, namun masih ada kemungkinan Hadist yang mereka tulis masuk pada kategori Dha’if. Misalnya adalah Jami al-Tirmidzi, Sunan AbiDawud, Musnad Ahmad bin Hanbal dan Mujtabd al-Nasai.

Tingkatan Ketiga

Tingkatan ketiga, adalah kitab-kitab yang banyak memuat Hadits Dha’if, namun kebanyakan para perawinya tidak diketahui keadaannya, apakah tergolong fasiq atau tidak. Contoh untuk golongan ketiga ini adalah Mushannaf lbn Abi Syaibah, Musnad al-Thayalisi, Musnad’Abd bin Humaid, Sunan al-Baihaqi, al-Thabarani, al-Thahawi dan Mushannaf ‘Abdurrazaq.

Dan yang terakhir, tingkatan keempat adalah kitab-kitab yang banyak mengandung Hadits Dhaif’, seperti Kitab Hadits karya Ibn Mardawaih, Ibn Syahin, Abu al-Syaikh dan lain-lain. Jenis keempat ini tidak dapat dijadikan pedoman, karena keb any akan sumber mereka adalah orang-orang yang kurang dapat dipercaya, karena selalu mengedepankan hawa nafsunya. (‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuh, 116-117)

Banyak usaha dari orang-orang tertentu untuk melemahkan keimanan umat Islam pada sunnah Nabi SAW. Tetapi usaha tersebut tidak menampakkan hasil dan menuai kegagalan. Para ulama zaman dahulu sudah memberikan pagar-pagar beton yang kokoh dan tak mungkin bisa dijebol oleh siapapun juga. Al-Sunnah telah dilengkapi dengan berbagai perangkat ilmu seperti Musthalah al-Hadits,’Ulum al-Rijal, al-Jarh wa al-Ta’dil, ‘Ulum Naqd al-Matn dan sebagainya. Ini merupakan salah satu kelebihan Hadits Nabi SAW yang tidak dimiliki oleh ilmu-ilmu yang lain.

Ketika Goldziher ( seorang orientalis orang barat yang mempelajari budaya ketimuran, termasuk budaya Islam) yang selalu menyebarkan virus untuk menghancurkan iman umat Islam. Dalam bukunya itu, Goldziher mengajak umat Islam untuk meragukan validitas (kebenaran) dan keotentikan (keaslian) hadits Nabi SAW. la mengatakan bahwa hadits Nabi SAW tidak dapat diyakini kebenarannya karena generasi yang hidup pada abad ke dua Hijrah sangat tergantung pada tulisan, maka sangat sulit bagi mereka untuk dapat menghafalkan hadits. Selain itu, al-Sunnah telah cacat karena diriwayatkan oleh orang- orang yang berhati bejat, yang meriwayatkan hadits “sesuai pesanan” dan hanya mengikuti hawa nafsu semata. Lihat. DR. Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hacfits Wa Mushthalahuh, hal, 4) dalam bukunya yang berbahasa Jerman Muhammedanische Studien mencoba mengacak teori Ilmu Hadits yang sudah baku, maka kemudian hadirlah DR. Muhammad Mushthafa al-Avzhami, dengan sebuah disertasinya untuk membela kebenaran Hadits secara ilmiyah, yang berjudul Dirasah fi al-Hadits al-Nabawi Wa Tarikh Tadiwinihi, yang dipertahankan di hadapan para pakar ilmu ke-Islaman orientalis di Universitas Cambridge pada tahun 1966, di antaranya Prof. A.J. Arberry. Dengan demikian runtuhlah upaya Goldziher dan para koleganya tersebut.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Verifikasi Cagar Budaya di Kabupaten Nganjuk

Verifikasi Cagar Budaya di Kabupaten Nganjuk

Verifikasi Cagar Budaya di Kabupaten Nganjuk

Verifikasi Cagar Budaya di Kabupaten Nganjuk

BPCB Mojokerto

Beberapa waktu lalu, tim verifikasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto melakukan identifikasi dan klarifikasi dari laporan hasil registrasi cagar budaya yang ada di wilayah Kabupaten Nganjuk. Kegiatan ini dilakukan di 7 (tujuh) kecamatan, dengan objek yang diverifikasi sekitar 60 buah berupa arca, lapik arca, fragmen lingga dan yoni, prasasti, peralatan rumah tangga, senjata, wayang, hingga bangunan masjid dan candi. Objek-objek tersebut tersebar di berbagai lokasi, ada yang terletak di hutan, pemakaman umum, dan pemukiman warga.

Kegiatan verifikasi ini didapati bahwa sebagian objek

Dari kegiatan verifikasi ini didapati bahwa sebagian objek-objek tersebut telah beralih fungsi dan dimanfaatkan warga, seperti yoni yang terletak di pelataran Masjid Al-Mubarok telah beralih fungsi sebagai penunjuk waktu (jam matahari), jobong bertulis yang dijadikan sebagai ikon desa, serta wayang kayu yang digunakan warga Ngliman saat perayaan Suro. Sebagian ada yang dipindahkan dirumah warga dan Museum Anjukladang, namun tak sedikit pula yang terbengkalai dibiarkan warga.

Proses verifikasi

Proses verifikasi terhadap suatu objek meliputi pengukuran objek dan wilayah, penetapan koordinat wilayah objek, pengumpulan keterangan tentang kearkeologian dan latar belakang sejarah. Pada dasarnya kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji objek-objek yang diduga sebagai cagar budaya. Hasil dari pengkajian ini akan digunakan sebagai bahan rekomendasi kepada pemerintah setempat untuk menetapkan status dan kriteria suatu objek sesuai dengan UU no. 11 tahun 2010 tentang cagar budaya.(sap,23/9).

Artikel terkait :

Kajian Bentuk Pakaian Masa Majapahit, Malang

Kajian Bentuk Pakaian Masa Majapahit, Malang

Kajian Bentuk Pakaian Masa Majapahit, Malang

Kajian Bentuk Pakaian Masa Majapahit, Malang

Sejak 23 Juli sampai dengan 1 Agustus 2019, Unit Pengelolaan Informasi Majapahit Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur mengadakan kegiatan Kajian Bentuk-bentuk Pakaian Pada Relief Candi Masa Majapahit di Kabupaten Malang dan Kabupaten Tulungagung. Tim kajian terdiri dari lima orang ini dipimpin arkeolog BPCB Jawa Timur, Ahmad Kholif Yulianto, SS.

Kabupaten Malang dan Kabupaten Tulungagung

Dipilihnya Kabupaten Malang dan Kabupaten Tulungagung sebagai lokasi tujuan kajian adalah karena kedua daerah tersebut kaya akan tinggalan arkeologis dari masa klasik berupa candi dan gua berelief dimana di antaranya berasal dari masa Majapahit. Hal ini menandakan bahwa Malang dan Tulungagung merupakan daerah penting di masa lampau. Untuk kajian relief pakaian, tim memilih Candi Jago dan Candi Kidal di Kabupaten Malang. Sedangkan untuk Kabupaten Tulungagung, dipilihlah Candi Mirigambar, Gua Selomangleng dan Gua Pasir sebagai lokasi kajian.

Berbicara tentang candi tentunya tidak lepas dari relief karena merupakan bagian penting dari sebuah candi, meskipun tidak semua candi ditemukan adanya relief. Adapun pengertian relief adalah bentuk manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, simbol atau gabungan dari unsur-unsur ini yang diukirkan atau dipahatkan pada bidang datar.

Relief mempunyai maksud dan peranan penting, karena relief sebagai media visual yang memiliki beberapa fungsi antara lain; sebagai ungkapan historis, filosofis dan edukatif. Fungsi historis relief ditunjukkan dengan penggambaran candra sengkala yaitu menunjukkan makna angka tahun pendirian candi atau peristiwa penting lainnya. Fungsi filosofis relief ditunjukkan dengan penggambaran secara keseluruhan mempunyai makna filsafati. Sedangkan fungsi edukatif ditunjukkan pada inti filosofi penggambaran relief yang berisikan tuntunan atau pendidikan moral bagi kehidupan manusia.

Penggambaran di atas menunjukkan bahwa relief sebuah candi terkandung berbagai macam informasi yang dapat digali guna penggambaran fungsi, tujuan pembangunan sebuah candi atau penggambaran kondisi sosial kemasyarakatan pada masa itu.

Berdasarkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2010

Berdasarkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, penelitian dilakukan pada setiap rencana pengembangan Cagar Budaya untuk menghimpun informasi serta mengungkap, memperdalam, dan menjelaskan nilai-nilai budaya, melalui: penelitian dasar untuk pengembangan ilmu pengetahuan; dan penelitian terapan untuk pengembangan teknologi atau tujuan praktis yang bersifat aplikatif. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengetahui dan mengidentifikasi bentuk-bentuk pakaian pada candi masa Majapahit sehingga dari hasil identifikasi tersebut dapat dijadikan bahan informasi tentang cara berpakaian masyarakat masa Jawa Kuno terutama dari masa Majapahit dan bisa menjadi rujukan untuk pengembangan di bidang busana sebagai upaya pemajuan kebudayaan.

Metode dan teknis yang digunakan untuk mencapai tujuan kegiatan

Adapun metode dan teknis yang digunakan untuk mencapai tujuan kegiatan tersebut di atas adalah koordinasi, yaitu melakukan komunikasi dengan pihak yang terkait guna mendapatkan informasi awal tentang keberadaan dan latar sejarah benda. Kedua adalah visualisasi, yaitu perekaman data melalui pemotretan digital dan pencatatan. Dan yang terakhir adalah pustaka,  yaitu mencari data-data yang berkaitan dengan kegiatan, dapat berupa buku-buku yang menunjang kegiatan. (Eva Nurma)

Sumber : https://www.sekolahbahasainggris.co.id/

Ekskavasi Penyelamatan Situs Pataan

Ekskavasi Penyelamatan Situs Pataan

Ekskavasi Penyelamatan Situs Pataan

Ekskavasi Penyelamatan Situs Pataan

Situs Pataan

Kegiatan ekskavasi penyelamatan Situs Pataan sesi kedua dilaksanakan tanggal 16 hingga 25 Juli 2019, merupakan kelanjutan kegiatan ekskavasi penyelamatan sesi pertama yang dilaksanakan pada tanggal 3-12 Juli 2019.

Pemerintah Kabupaten Lamongan

Kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Lamongan, Pemerintah Desa Pataan, dan Komunitas Laskar Airlangga Lamongan. Sebelumnya, kegiatan ekskavasi di lokasi ini telah dilakukan pada tahun 2013 dan 2018. Tujuan kegiatan kali ini adalah melakukan pengupasan di sisi barat, sisi utara, dan sisi timur dari bangunan pertama/utama Situs Pataan.

Situs Pataan merupakan kompleks bangunan

Situs Pataan merupakan kompleks bangunan yang memiliki keluasan 5.112 m2 yang dibatasi oleh dinding keliling yang membentuk denah persegi empat dengan ukuran 72 m x 71 m.

Pada bagian barat, menyatu dengan dinding keliling, terdapat sisa pondasi gapura pintu masuk dengan ukuran panjang 8 m dan lebar 6 m, yang diduga merupakan satu-satunya akses penguhubung antara halaman dalam dengan halaman luar kompleks Situs Pataan.

Baik gapura dan dinding keliling disusun dari perpaduan antara batu putih dan bata. Di halaman dalam kompleks terdapat dua buah bangunan. Bangunan pertama atau utama berdenah persegi empat dengan ukuran 18,88 m dan lebar 12,30 m, memanjang utara-selatan.

Bagian barat bangunan pertama ditemukan profil yang mengindikasikan adanya pintu masuk menuju ruang bagian dalam, yang saat ini masih tertimbun oleh reruntuhan atap bangunan.

Dari kegiatan ekekavasi ditemukan batu-batu berbentuk seperdelapan lingkaran saat mengangkat runtuhan batu, yang mengindikasikan komponen penyusun atap yang kemungkinan besar berupa stupa besar dan kecil.

Di halaman sisi barat dan selatan banguan pertama telah ditemukan lapisan tanah asli (mainfeld) yang berupa tanah perkerasan dari batu putih di kedalaman 80-150 cm dari permukaan tanah saat ini.

Di sisi selatan bangunan pertama atau utama dengan jarak 4 m terdapat bangunan kedua yang secara keseluruhan berdenah persegi empat dengan ukuran 8 m x 8 m. Berdasarkan hasil ekskavasi diketahui bahwa kaki bangunan berbentuk persegi dengan tubuh berbentuk melingkar yang saat ini kondisinya telah rusak. Bangunan ini diduga merupakan bangunan stupa.

Kompleks bangunan di Situs Pataan

Kompleks bangunan di Situs Pataan sepertinya berasosiasi dengan Prasasti Pataan yang telah dipindahkan dan saat ini disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D.22.

Prasasti Pataan mengisahkan penetapan daerah Patakan menjadi Sima (bebas pajak) karena harus memelihara bangunan suci Sanghyang Patahunan. Dalam Prasasti Terep 954 Çaka/1032 M, Airlangga mengalami kekalahan dan mengakibatkan Airlangga harus meninggalkan keraton di Wwatan Mas dan berlari menuju Patakan, karena ada jaminan keamanan dan perlindungan dari masyarakat Patakan.

Situs Pataan kemungkinan besar berasal dari abad 10 – 11 Masehi

Dengan demikian, Situs Pataan kemungkinan besar berasal dari abad 10 – 11 Masehi, dan berlangsung hingga masa Majapahit. Hal ini juga dibuktikan dengan ditemukannya fragmen porcelain dari Dinasti Song (abad 10-13 masehi), dan temuan mata uang cina dari Dinasti Song dan Dinasti Ming (abad 14-17 Masehi) dari hasil ekskavasi di lokasi ini. (WicaksonoDN).

 

Sumber :https://www.dosenpendidikan.co.id/

Kami Ingin Pendidikan di Jakarta Menjadi Pilar Utama!

Kami Ingin Pendidikan di Jakarta Menjadi Pilar Utama!Kami Ingin Pendidikan di Jakarta Menjadi Pilar Utama!

Kami Ingin Pendidikan di Jakarta Menjadi Pilar Utama!

Kami Ingin Pendidikan di Jakarta Menjadi Pilar Utama!Kami Ingin Pendidikan di Jakarta Menjadi Pilar Utama!
Kami Ingin Pendidikan di Jakarta Menjadi Pilar Utama!

Wakil Gubernur DKI terpilih Sandiaga Uno menghadiri kegiatan OK-OCE

Academy di SMK 57, Jakarta Selatan. Sandiaga menghadiri kegiatan tersebut dalam rangka peningkatan keterlaksanaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MBMP) SMK Produktif.

Sandiaga mengatakan, pendidikan menjadi pilar utama demi terciptanya lapangan pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.

“Jadi kami ingin pendidikan ini menjadi pilar utama di Jakarta,

” ujar Sandiaga di SMK 57, Jakarta Selatan, Rabu (13/9/2017).

Sandi juga memberikan semangat untuk para guru

dalam membimbing anak didiknya melalui program OK-OCE Academy.

“Kita akan terus tingkatkan potensi generasi penerus bangsa,” pungkasnya.

 

 

Baca Juga :